WONGSOREJO, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Kecamatan Wongsorejo selama ini lebih sering terdengar sebagai wilayah dengan kondisi yang gersang. Namun, dalam sepekan terakhir, salah satu dusun di Kecamatan Wongsorejo mendadak populer karena memiliki ladang bunga matahari yang tumbuh lebat.
Ada dua spot ladang bunga matahari yang menjadi jujugan. Yang satu ada di tepi jalan, satunya lagi tumbuh di tengah tanaman cabai dan bawang merah. Sejak sepekan terakhir, anak-anak muda dari beberapa tempat di Banyuwangi datang ke sana hanya untuk berswafoto dan mengambil video di antara bunga-bunga matahari yang menguning di tempat tersebut.
Saking ramainya, warga harus menutup salah satu spot ladang. Warga khawatir tanaman produktif di dekatnya seperti bawang merah dan cabai terinjak-injak. ”Ramai sekali yang datang, banyak anak muda. Padahal bukan tempat wisata,” kata Babinsa Sumberkencono Serda Nurjamil.
Sejak ladang bunga itu viral, banyak anak muda yang datang ke Dusun Andelan untuk berswafoto di sana. Kades Sumberkencono Kusnan mengatakan, ladang tersebut milik Abu Hasan.
Ada dua titik lokasi yang ditanami bunga matahari. Pertama memiliki luasan 1.250 meter persegi dan 2.500 meter persegi. Tanaman bunga matahari yang tumbuh memang tampak unik. Di sekelilingnya tak ada tanaman lain yang sama.
”Sebelumnya itu tanah pertanian biasa. Ditanami bawang merah, kemudian rusak jadi petani mencari alternatif lain. Kebetulan ada yang menawari bibit bunga matahari dan ada perusahaan yang mau membeli. Jadi petani berani menanam bunga itu,” kata Kusnan.
Dia menambahkan, ramainya ladang bunga matahari menjadi jujugan banyak orang sempat membuat desa berpikiran untuk mengembangkannya menjadi destinasi. ”Ada rencana ke depan untuk menjadi destinasi, kita lihat dulu tanah desa. Ada di tepi pantai, tapi tanahnya berpasir. Kita tidak tahu cocok atau tidak,” kata Kusnan.
Ramainya kunjungan ke ladang bunga matahari di Desa Sumberkencono tampaknya tidak bisa berlangsung lama. Pemilik ladang bunga matahari, Abu Hasan mengatakan, bunga tersebut hanya memiliki usia berkembang sekitar 20 hari. Hingga minggu (17/10) tercatat sudah 15 hari sejak bunga matahari itu mulai mekar. Setelah itu bunga akan gugur, lalu mengering sebelum kemudian siap dipanen. ”Sebenarnya ladangnya tidak terlalu luas, tapi yang mengambil gambar membuat seolah-olah memang luas, padahal tidak sampai satu hektare,” tuturnya
Abu Hasan mendapatkan bibit bunga matahari dari PPL Dinas Pertanian yang sedang meguji coba tanaman tersebut. Nantinya, hasil panen biji bunga matahari akan diterima oleh salah satu perusahaan. Bunga matahari sendiri butuh waktu 90 hari sejak tanam hingga panen. ”Saya tanam di lahan dengan total luasan 3.750 meter persegi, kalau menguntungkan kita kembangkan ke depan. Sebelumnya saya menanam bawang. Ada rencana setelah ramai ini mau dijadikan destinasi desa bunga matahari. Tapi masih konsep. Tanaman ini hanya satu kali saja, seperti jagung, jadi harus ditanam lagi,” terangnya.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Ilham Juanda mengatakan, saat ini beberapa kelompok tani di Banyuwangi memang sedang melakukan uji coba budi daya bunga matahari. Mereka yang sedang melakukan budi daya bunga matahari tersebar di empat kecamatan, yakni Tegaldlimo, Cluring, Srono, dan Wongsorejo.
Rinciannya, 0,74 hektare berada di Wongsorejo, 0,25 hektare di Srono, 0,7 hektare di Cluring, dan paling luas di Tegaldlimo dengan luas tanam 4 hektare. Budi daya bunga matahari berawal dari tawaran kemitraan dari sebuah perusahaan produsen kuaci. Perusahaan tersebut menawarkan kerja sama pada petani untuk menanam bunga matahari.
”Ini merupakan peluang agribisnis baru di Banyuwangi. Untuk pertama kalinya peluang ini dikenalkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian kepada beberapa kelompok tani. Ini melanjutkan tawaran kerja sama (kemitraan) dari salah satu pabrik produsen camilan kuaci,” kata Ilham.
Sejauh ini bunga matahari berjenis big smile dan giant sungold yang diuji coba tanam bisa tumbuh dengan baik. Pohon bunga matahari bisa tumbuh tinggi dan memiliki diameter bunga yang cukup besar di beberapa tempat di Banyuwangi. ”Ketika kualitas tanaman baik, dipediksi petani bisa mendapatkan hasil panen antara 5 sampai 8 ton per hektare. Nantinya, biji bunga matahari yang dihasilkan petani dibeli 16 ribu per kg,” tambahnya.
Jika budi daya tanaman bunga matahari ini berhasil di empat kecamatan, ke depan akan ditawarkan kepada kelompok tani lain di Banyuwangi. Dinas Pertanian dan Pangan akan menyosialisasikan kepada petani terkait budi daya bunga matahari dengan sistem kemitraan. ”Jika petani berminat, ya menanam. Jika tidak berminat, kita tidak akan memaksa. Yang jelas kita memberikan penjelasan yang sebaik-baiknya, termasuk untung ruginya seperti ini,” kata Ilham.
Editor : Rahman Bayu Saksono