RADAR BANYUWANGI - Hujan deras datang. Air mulai naik di halaman. Tak lama kemudian, rembesan muncul dari bawah pintu.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian warga menggunakan apa saja yang tersedia untuk menghambat air. Mulai papan, kain, karung pasir, hingga batang pisang atau gedebog.
“Tiap kali banjir, pintu rumahku selalu aku hadang pakai gedebog pisang. Tapi tetap saja airnya merembes ke dalam. Bingung bagaimana cara menahan air kalau sudah musim hujan,” kata Puteri.
Cara darurat tersebut mungkin bisa memperlambat aliran. Namun, batang pisang tidak membuat pintu menjadi kedap. Air masih bisa masuk melalui celah pintu, saluran pembuangan, retakan dinding, atau bagian rumah yang lebih rendah.
Saat air mulai masuk, keselamatan penghuni justru harus menjadi prioritas.
BMKG dalam prakiraan cuaca periode 6–12 Oktober 2026 masih mengingatkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat diminta tetap mewaspadai dampak hujan seperti genangan dan banjir.
Risiko banjir terhadap rumah juga bukan sekadar perabot basah. Di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, misalnya, banjir pada 27 September 2026 dilaporkan merendam 15 rumah. Pada salah satu rumah, rembesan air disertai kerusakan lantai hingga seorang warga lanjut usia harus dievakuasi.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan ketika air mulai masuk rumah?
Putus Listrik jika Kondisi Aman
Langkah pertama adalah mewaspadai listrik.
BNPB mengimbau masyarakat mematikan aliran listrik utama dan mencabut peralatan elektronik ketika banjir mulai masuk rumah, sepanjang tindakan tersebut dapat dilakukan dengan aman.
Namun, jangan memaksakan diri mencapai panel listrik atau MCB jika harus berjalan melewati genangan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengingatkan, panel listrik tidak boleh disentuh ketika seseorang harus berdiri di dalam air untuk menjangkaunya. Dalam kondisi demikian, pemutusan listrik sebaiknya dilakukan oleh petugas atau tenaga yang kompeten.
Peralatan listrik yang sempat terendam juga jangan langsung digunakan setelah banjir surut.
Jika tercium bau gas atau dicurigai terjadi kebocoran, hindari menyalakan lampu atau benda yang dapat menimbulkan percikan. Segera keluar dari rumah dan cari bantuan.
Pindahkan Barang Penting
Selama kondisi masih memungkinkan, pindahkan obat-obatan, dokumen, telepon seluler, laptop, surat berharga, dan barang elektronik ke tempat yang lebih tinggi.
Air banjir sebaiknya dianggap tercemar.
CDC menyebut air banjir dapat membawa kuman, limbah, bahan kimia, hingga benda tajam. Karena itu, kontak langsung dengan air sebaiknya dihindari, terlebih jika terdapat luka terbuka.
Anak-anak, lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas juga perlu diprioritaskan untuk dipindahkan ke tempat aman apabila air terus meninggi.
Penghalang Air Bisa Dipasang, tetapi Ada Batasnya
Karung pasir atau penghalang banjir portabel dapat digunakan untuk mengurangi air yang masuk melalui pintu selama genangan masih dangkal dan tidak berarus deras.
U.S. Army Corps of Engineers menyebut karung pasir dapat dipakai sebagai penghalang sementara. Namun, pemasangannya harus benar dan jumlahnya memadai.
Artinya, karung pasir maupun flood barrier bukan jaminan rumah akan sepenuhnya kering.
Hal yang sama berlaku untuk batang pisang. Bahan tersebut tidak dirancang sebagai sistem kedap air sehingga masih menyisakan celah yang dapat dilewati air.
Jika ketinggian air meningkat cepat atau arus mulai kuat, jangan bertahan hanya untuk menjaga rumah. Evakuasi ke tempat yang lebih aman harus didahulukan.
Air Bisa Masuk dari Kloset dan Floor Drain
Pintu bukan satu-satunya jalur banjir masuk rumah.
Pada sejumlah rumah, air justru naik melalui floor drain, kamar mandi, atau kloset. Kondisi tersebut bisa terjadi ketika air dari saluran pembuangan mengalir kembali ke rumah.
Salah satu perangkat untuk mengurangi risiko tersebut adalah backwater valve atau katup pencegah aliran balik.
Katup ini dirancang agar air limbah dapat mengalir keluar, tetapi menutup ketika tekanan dari saluran luar berbalik menuju rumah.
Pemasangannya perlu disesuaikan dengan sistem perpipaan dan sebaiknya dilakukan tenaga yang kompeten. Katup juga membutuhkan pemeriksaan berkala agar tidak macet karena kotoran.
Rumah Sering Banjir? Cari Sumber Airnya
Jika banjir terjadi berulang, solusi jangka panjang harus dimulai dengan mencari jalur masuk air.
Cek apakah air berasal dari pintu, halaman, drainase depan rumah, floor drain, retakan dinding, atau luapan saluran pembuangan.
Penyebab yang berbeda membutuhkan solusi berbeda.
Rumah dengan halaman minim area resapan, misalnya, dapat mempertimbangkan sumur atau parit resapan sesuai kondisi tanah dan bangunan. Indonesia telah memiliki SNI 8456:2025 tentang Sumur dan Parit Resapan Air Hujan sebagai acuan teknis.
Pilihan lain adalah menggunakan paving berpori pada bagian halaman. Material tersebut memungkinkan air melewati permukaan dan meresap ke lapisan di bawahnya.
Namun, baik sumur resapan maupun paving berpori tidak otomatis menghilangkan banjir. Efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi tanah, elevasi rumah, kapasitas drainase, dan volume air dari lingkungan sekitar.
Drainase juga harus dijaga agar tidak tersumbat sampah dan sedimentasi, terutama menjelang dan selama periode hujan.
Jika lantai rumah lebih rendah dibandingkan jalan dan banjir terus berulang, jangan buru-buru menaikkan lantai tanpa pemeriksaan. Perlu diketahui lebih dulu sumber banjir, arah aliran, elevasi jalan, hingga kondisi struktur rumah.
Tidak ada satu alat yang cocok untuk seluruh kasus banjir.
Saat air mulai masuk, urutannya harus jelas: utamakan keselamatan penghuni, amankan listrik jika dapat dilakukan dari tempat kering, pindahkan barang penting, lalu hambat masuknya air hanya jika situasi masih aman.
Batang pisang boleh jadi membantu sebagai langkah seadanya. Namun, untuk rumah yang terus menjadi langganan banjir, solusi utamanya adalah mengetahui dari mana air datang dan membenahi masalah tersebut sesuai penyebabnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi