Sering Makan di Atas Kasur? Ini 4 Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meivira Choirotul Aqila • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 14:59 WIB
Kebiasaan makan di atas kasur tidak otomatis menyebabkan penyakit. Namun, langsung berbaring setelah makan, meninggalkan remah, serta makan sambil terdistraksi dapat menimbulkan sejumlah masalah. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)
Kebiasaan makan di atas kasur tidak otomatis menyebabkan penyakit. Namun, langsung berbaring setelah makan, meninggalkan remah, serta makan sambil terdistraksi dapat menimbulkan sejumlah masalah. (Meivira untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Makan sambil bersantai di atas kasur memang terasa nyaman. Apalagi jika dilakukan sambil menonton film atau memainkan ponsel. Selesai makan, tinggal merebahkan badan.

Namun, kebiasaan tersebut bukan tanpa risiko. Masalahnya bukan semata-mata karena makanan disantap “di atas kasur”, melainkan karena remah yang tertinggal, posisi tubuh ketika makan, kebiasaan langsung berbaring setelahnya, hingga aktivitas lain yang membuat tempat tidur tidak lagi identik dengan tidur.

“Aku tuh kayak malas aja kalau makan enggak di kamar. Terus kalau di kasur, nanti habis selesai kan bisa langsung tidur-tiduran. Tapi ya gitu, kadang bikin badan gatal-gatal. Padahal aku merasa udah ngebersihin kasurnya, tapi tetap aja gatal,” ujar Risa.

Keluhan seperti yang dialami Risa tidak serta-merta berarti disebabkan makanan di atas kasur. Namun, kebersihan tempat tidur memang penting, khususnya bagi orang yang sensitif terhadap alergen.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Remah Makanan Bisa Mengundang Hama

Ada anggapan bahwa remah makanan membuat tungau kasur berkembang karena menjadi sumber makanannya. Anggapan tersebut kurang tepat.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menjelaskan bahwa tungau debu terutama memakan serpihan kulit manusia. Tungau juga lazim ditemukan di kasur, bantal, karpet, selimut, dan furnitur berlapis kain.

Namun, sisa makanan tetap menjadi masalah. Remah dan tumpahan yang tidak segera dibersihkan dapat menyediakan sumber makanan bagi hama seperti kecoak. EPA merekomendasikan agar makanan tidak dibiarkan terbuka serta remah dan cairan yang tumpah segera dibersihkan.

Bagi orang dengan alergi, keberadaan tungau maupun hama juga patut diperhatikan. Bagian tubuh serta kotoran tungau dapat memicu gejala alergi dan asma pada individu yang sensitif. Tungau debu juga termasuk salah satu pemicu yang dapat memperburuk dermatitis atopik atau eksim pada sebagian orang.

Jadi, rasa gatal setelah berada di kasur tidak bisa langsung dipastikan berasal dari remah makanan. Penyebabnya perlu dilihat lebih jauh.

2. Langsung Rebahan Setelah Makan Bisa Memperburuk Refluks

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah posisi tubuh. Makan sambil duduk tegak di atas kasur tidak otomatis menyebabkan penyakit asam lambung. Risiko menjadi lebih relevan ketika seseorang makan lalu segera berbaring.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebut penderita GERD yang mengalami gejala pada malam hari atau saat berbaring dapat terbantu dengan memberi jeda setidaknya tiga jam antara makan dan berbaring.

Pedoman American College of Gastroenterology juga menyarankan penderita GERD menghindari makan dalam dua hingga tiga jam sebelum waktu tidur.

Dokter Jeffrey Chester juga mengingatkan hal serupa.

“Jika seseorang mengalami refluks asam, makan sambil berbaring dapat memperburuknya,” ujarnya seperti dikutip Newsweek pada Juni 2026.

Meski demikian, sesekali makan di tempat tidur tidak berarti seseorang otomatis akan mengalami GERD. Ukuran makanan, waktu makan, kondisi kesehatan, serta apakah langsung berbaring setelahnya ikut berpengaruh. Sebuah ulasan medis pada Agustus 2026 juga menegaskan bahwa makan menjelang tidur tidak selalu berbahaya bagi orang sehat, tetapi makanan besar, berlemak, pedas, atau terlalu dekat dengan waktu tidur lebih mudah menimbulkan refluks pada orang yang rentan.

3. Kasur Sebaiknya Tetap Diasosiasikan dengan Tidur

Makan di kasur juga berkaitan dengan prinsip sleep hygiene, terutama bagi orang yang mengalami kesulitan tidur.

Dalam terapi perilaku kognitif untuk insomnia atau CBT-I dikenal metode stimulus control. Tujuannya memperkuat hubungan mental antara tempat tidur dan aktivitas tidur.

Veterans Affairs memberikan petunjuk sederhana: “Gunakan kamar tidur hanya untuk tidur (dan aktivitas seksual).”

Artinya, aktivitas seperti bekerja, bermain komputer, menonton dalam waktu lama, atau makan sebaiknya tidak terus-menerus dilakukan di tempat tidur, terutama pada orang dengan insomnia.

Namun, makan di kasur sesekali juga tidak dapat disebut secara langsung menyebabkan insomnia atau mengganggu ritme sirkadian. Klaim seperti itu terlalu jauh dibanding bukti yang tersedia.

4. Makan Sambil Menonton Bisa Membuat Konsumsi Kurang Terkontrol

Masalah lain biasanya muncul karena makan di kasur sering dilakukan bersamaan dengan menonton televisi, laptop, atau ponsel.

Meta-analisis terbaru yang dipublikasikan pada 2026 menganalisis 50 studi mengenai distracted eating atau makan sambil terdistraksi. Hasilnya, distraksi berkaitan dengan meningkatnya konsumsi makanan pada kesempatan makan berikutnya. Distraksi pasif seperti menonton televisi juga berkaitan dengan konsumsi lebih tinggi saat makan.

Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa makan di kasur sendiri menyebabkan makan berlebihan. Faktor yang lebih penting adalah perhatian yang teralihkan saat makan.

Karena itu, tidak perlu menganggap kasur sebagai tempat “berbahaya” untuk makan. Yang lebih penting adalah tidak langsung rebahan setelah makan, membersihkan remah dan tumpahan, serta membatasi kebiasaan makan sambil terdistraksi.

Bagi orang yang kerap mengalami nyeri ulu hati, rasa panas di dada, makanan atau cairan terasa naik ke tenggorokan, maupun gatal berulang, penyebabnya sebaiknya tidak ditebak hanya dari kebiasaan makan di kasur. Keluhan yang menetap perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kesehatan tidur makan di kasur kebiasaan sebelum tidur gerd asam lambung