RADAR BANYUWANGI - Tahu sudah lama menjadi salah satu bahan makanan favorit di meja makan masyarakat Indonesia. Selain harganya relatif ramah di kantong, tahu juga dikenal sebagai sumber protein yang mudah diolah menjadi berbagai menu.
Namun, konsumen juga menghadapi dua persoalan yang cukup sering terjadi. Tahu dapat dengan cepat berubah aroma menjadi asam, sementara di sisi lain masih ada risiko penyalahgunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin.
Bagi masyarakat Banyuwangi yang menjadikan tahu sebagai salah satu lauk sehari-hari, ketelitian saat membeli menjadi penting. Tahu yang terlihat putih dan bersih belum tentu menjadi jaminan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi.
“Kalau saya pas beli tahu, asal kelihatannya bersih dan enggak bau yang aneh-aneh, itu menurut saya sudah cukup,” kata Susi, seorang ibu rumah tangga.
Padahal, patokan bersih saja tidak cukup untuk memastikan keamanan tahu. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 033 Tahun 2012, formalin tergolong bahan kimia berbahaya yang dilarang digunakan pada makanan.
Formalin memiliki sifat yang dapat menghambat pembusukan dengan mengikat protein sehingga mikroorganisme lebih sulit berkembang. Sifat tersebut membuatnya dapat memperpanjang daya simpan pangan secara tidak semestinya, tetapi penggunaan formalin pada makanan berisiko membahayakan kesehatan.
Guru Besar Keamanan Pangan IPB University, Prof. Ahmad Sulaeman, menjelaskan bahaya paparan formalin bagi tubuh manusia.
“Formalin sejatinya adalah pengawet spesifik untuk spesimen atau kayu, bukan makanan. Ketika masuk ke tubuh manusia, formalin mengkoagulasi protein jaringan tubuh dan sukar dikeluarkan. Akibatnya, ginjal dan hati harus bekerja sangat keras menetralkannya, hingga dalam jangka panjang bisa memicu gagal organ dan risiko kanker,” jelasnya.
Karena itu, konsumen perlu lebih teliti ketika membeli tahu. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan sejumlah panduan mengenai karakteristik fisik yang dapat menjadi petunjuk awal untuk membedakan tahu alami dengan tahu yang dicurigai menggunakan formalin.
5 Ciri Tahu Berformalin yang Perlu Diperhatikan
Ciri fisik tidak dapat digunakan sebagai pembuktian pasti kandungan formalin. Namun, tekstur, aroma, dan daya tahan dapat menjadi tanda awal yang membuat konsumen lebih waspada.
1. Teksturnya sangat kenyal
Tahu alami umumnya memiliki tekstur lembut, agak rapuh, dan relatif mudah hancur ketika ditekan kuat.
Sebaliknya, tahu yang dicurigai mengandung formalin cenderung memiliki tekstur sangat kenyal dan elastis, bahkan menyerupai karet.
2. Tidak mudah hancur
Tahu tanpa bahan pengawet umumnya lebih mudah pecah atau hancur ketika mendapatkan tekanan kuat. Sementara tahu yang menggunakan formalin dapat memiliki struktur lebih kuat sehingga tidak mudah rusak.
Karakteristik tersebut dapat diperhatikan konsumen saat memilih tahu di pasar maupun tempat penjualan lainnya.
3. Aromanya tidak seperti kedelai segar
Tahu yang masih baik biasanya memiliki aroma khas kedelai.
Tahu yang dicurigai mengandung formalin dapat memiliki aroma kedelai yang lebih samar atau justru mengeluarkan bau menyengat yang menyerupai aroma obat.
4. Bertahan terlalu lama pada suhu ruang
Daya tahan juga dapat menjadi salah satu petunjuk. Tahu murni tanpa pengawet umumnya lebih cepat mengalami penurunan kualitas ketika berada pada suhu ruang sekitar 25–30 derajat Celsius.
Dalam kondisi tersebut, tahu dapat mulai berlendir dan membusuk setelah sekitar 12–24 jam. Sementara tahu yang diberi formalin dapat bertahan lebih lama, bahkan hingga 3–5 hari pada suhu ruang.
Namun, konsumen tidak sebaiknya menggunakan lama penyimpanan sebagai satu-satunya indikator. Suhu lingkungan, kebersihan proses produksi, kualitas air, dan cara penanganan juga dapat memengaruhi daya tahan tahu.
5. Kondisinya tetap sangat baik setelah berhari-hari
Tahu yang terlihat masih sangat segar meski telah berhari-hari berada pada suhu ruang patut diperhatikan, terutama jika karakteristik tersebut disertai tekstur yang sangat kenyal dan aroma yang tidak lazim.
Informasi seperti ini sebaiknya dipahami sebagai petunjuk kewaspadaan, bukan sebagai metode untuk memastikan keberadaan formalin.
Mengapa Tahu Bisa Cepat Berbau Asam?
Persoalan tahu tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan penggunaan bahan kimia. Tahu alami juga memang termasuk bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan.
Tahu memiliki kadar air sangat tinggi, sekitar 80–85 persen. Di dalamnya terdapat pula protein terlarut dan berbagai nutrisi yang dapat dimanfaatkan mikroorganisme.
Ketika tahu berada dalam kondisi lembap dan tidak disimpan dengan benar, bakteri pembusuk dapat berkembang. Aktivitas mikroorganisme tersebut menghasilkan asam organik, termasuk asam laktat.
Akumulasi asam kemudian menurunkan pH tahu. Kondisi tersebut dapat menyebabkan munculnya aroma asam yang semakin kuat dan pada tahap berikutnya disertai pembentukan lendir.
Ahli gizi klinis, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., menjelaskan mengapa tahu alami relatif rentan terhadap pertumbuhan mikroba.
“Kombinasi kadar air yang tinggi dan kandungan asam amino bebas pada tahu itu seperti 'surga' bagi mikroba pembusuk. Jika tahu dibiarkan terendam air pasar yang kotor pada suhu ruang, populasi bakteri bisa melonjak berlipat ganda hanya dalam hitungan jam, menghasilkan asam laktat yang bikin aromanya asam menyengat,” ujarnya.
Karena itu, tahu yang baru dibeli sebaiknya tidak dibiarkan lama dalam kondisi terbuka atau terendam air yang kebersihannya tidak terjamin.
Cara Menyimpan Tahu agar Lebih Awet
Menjaga tahu agar lebih tahan lama sebenarnya tidak harus menggunakan bahan kimia. Kebersihan, pemanasan, dan pengendalian suhu menjadi bagian penting dalam penanganannya.
1. Cuci tahu dengan air mengalir
Sesampainya di rumah, tahu dapat dicuci menggunakan air mengalir. Tujuannya untuk membersihkan permukaan tahu dari lendir, kotoran, dan sisa air selama proses penjualan atau distribusi.
2. Rebus selama 3–5 menit
Tahu kemudian dapat direbus sebentar atau menjalani proses blanching dalam air mendidih selama sekitar 3–5 menit dengan sedikit garam.
Pemanasan membantu mengurangi mikroorganisme yang berada di permukaan tahu.
Menurut pakar teknologi pangan, kombinasi pemanasan dan garam dapat membantu memperlambat pertumbuhan mikroba.
“Suhu panas saat direbus singkat mematikan sel bakteri di permukaan luar tahu, sementara penambahan sedikit garam menciptakan tekanan osmotik yang menghambat perkembangbiakan mikroba. Ditambah penyimpanan dalam air dingin di kulkas pada suhu 4°C, laju metabolisme sisa bakteri akan melambat drastis sehingga tahu bisa bertahan segar sampai seminggu,” paparnya.
Meski demikian, lama daya simpan dapat berbeda bergantung pada kondisi awal tahu, kebersihan wadah, kualitas air, dan kondisi penyimpanan.
3. Rendam menggunakan air matang
Setelah direbus, tahu ditiriskan dan dibiarkan hingga dingin. Masukkan tahu ke dalam wadah bersih dan kedap udara, kemudian tuangkan air matang yang sudah dingin hingga seluruh bagian tahu terendam.
4. Simpan dalam kulkas
Wadah berisi tahu dapat disimpan di dalam kulkas dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius. Air rendaman sebaiknya diganti menggunakan air matang baru setiap 1–2 hari.
Langkah tersebut membantu menjaga kondisi tahu selama penyimpanan dan mengurangi risiko pertumbuhan mikroorganisme.
5. Hindari freezer jika ingin mempertahankan tekstur
Tahu putih sebaiknya tidak dibekukan jika tekstur aslinya ingin dipertahankan. Suhu pembekuan dapat mengubah struktur air di dalam tahu.
Setelah dicairkan, tahu dapat berubah menjadi lebih berpori dan kasar seperti spons.
Bagaimana Jika Tahu Mulai Berbau Asam?
Tahu yang baru dibeli kemudian mulai menunjukkan gejala agak asam perlu diperiksa terlebih dahulu kondisinya.
Jika tahu sudah mengeluarkan bau busuk yang kuat, berlendir parah, berubah warna, atau menunjukkan tanda pembusukan lainnya, sebaiknya tidak dikonsumsi.
Sementara itu, untuk tahu yang baru menunjukkan perubahan aroma ringan dan belum memperlihatkan tanda pembusukan berat, bahan tersebut dapat dicuci menggunakan air mengalir.
Setelah itu, tahu dapat direndam dalam air hangat yang diberi satu sendok teh garam selama 10–15 menit. Tahu kemudian direbus kembali dalam air mendidih selama sekitar lima menit sebelum diolah.
Pemanasan dapat membantu mengurangi mikroorganisme di permukaan tahu. Namun, langkah tersebut tidak dapat digunakan untuk menghilangkan formalin dan tidak membuat tahu yang sudah rusak menjadi aman dikonsumsi.
Karena itu, konsumen tetap perlu mempertimbangkan kondisi keseluruhan tahu sebelum mengolahnya.
Teliti Sebelum Membeli dan Segera Simpan
Tahu memang sederhana, murah, dan mudah diolah. Namun, bahan makanan ini membutuhkan penanganan yang tepat karena kandungan airnya tinggi dan relatif mudah mengalami kerusakan.
Saat membeli, konsumen dapat memperhatikan tekstur, aroma, dan kondisi tahu. Tahu yang terlalu kenyal, memiliki aroma tidak lazim, atau tetap bertahan sangat lama pada suhu ruang patut menjadi perhatian.
Meski demikian, ciri fisik tersebut bukan metode untuk memastikan kandungan formalin. Kepastian mengenai ada atau tidaknya bahan berbahaya tetap membutuhkan pemeriksaan yang sesuai.
Setelah dibeli, tahu juga sebaiknya segera ditangani dan disimpan dengan benar. Mencuci, merebus, menggunakan air matang, serta menyimpan tahu dalam kondisi dingin dapat membantu mempertahankan kualitasnya.
Dengan lebih teliti sejak membeli hingga menyimpan, masyarakat dapat mengurangi risiko mengonsumsi tahu yang sudah rusak sekaligus lebih waspada terhadap pangan yang dicurigai menggunakan bahan berbahaya.
Editor : Lugas Rumpakaadi