Dompet Digital Bukan Penyebab Boros, Literasi Keuangan dan Kendali Diri Jadi Penentu Utama Pengeluaran

Rizki Anindiya Putri • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:03 WIB
Penggunaan dompet digital kian meningkat karena praktis dan cepat. (Pexels/iMin Technology)
Penggunaan dompet digital kian meningkat karena praktis dan cepat. (Pexels/iMin Technology)

RADARBANYUWANGI.ID - Sistem pembayaran non-tunai atau cashless kini semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Berbagai transaksi, mulai dari membeli makanan, berbelanja kebutuhan sehari-hari, hingga membayar tagihan, dapat dilakukan hanya dengan memindai kode QR melalui dompet digital (e-wallet). Kemudahan tersebut membuat penggunaan dompet digital terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

Di balik kepraktisannya, penggunaan dompet digital juga memunculkan fenomena yang banyak dirasakan pengguna, yakni uang terasa lebih cepat habis dibandingkan ketika disimpan dalam bentuk tunai. Kondisi tersebut berkaitan dengan konsep cashless effect atau pain of paying, yaitu berkurangnya rasa "kehilangan" saat mengeluarkan uang karena seluruh proses transaksi dilakukan secara digital.

Berbeda dengan pembayaran tunai yang membuat seseorang melihat secara langsung jumlah uang yang berkurang dari dompet, transaksi digital hanya memerlukan beberapa sentuhan pada layar ponsel. Akibatnya, pengeluaran sering kali terasa lebih ringan sehingga pengguna cenderung tidak menyadari besarnya uang yang telah dibelanjakan.

Kanza, salah seorang pengguna dompet digital di Banyuwangi, mengaku lebih mudah menghabiskan uang ketika saldo tersimpan di aplikasi pembayaran digital.

"Menurut saya akan lebih habis saat disimpan di dompet digital. Karena akan lebih mudah mendistraksi orang untuk menggunakan uangnya, akan lebih praktis mengeluarkan uangnya," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Selain kemudahan transaksi, berbagai strategi pemasaran dari penyedia layanan dompet digital juga dinilai turut memengaruhi perilaku belanja masyarakat. Program cashback, potongan harga, hingga kampanye promo pada tanggal-tanggal tertentu kerap mendorong pengguna melakukan pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan. Tanpa pengendalian diri, berbagai penawaran tersebut berpotensi memicu perilaku belanja impulsif.

Meski demikian, dompet digital tidak hanya memiliki dampak negatif. Aplikasi pembayaran digital juga menyediakan fitur pencatatan riwayat transaksi secara otomatis. Fitur tersebut memudahkan pengguna memantau arus keluar dan masuk uang, sekaligus menjadi bahan evaluasi dalam mengelola keuangan pribadi.

Catatan transaksi yang tersimpan di aplikasi dapat dimanfaatkan untuk menyusun anggaran, mengidentifikasi pos pengeluaran terbesar, hingga membangun kebiasaan mengelola keuangan yang lebih disiplin.

Agar penggunaan dompet digital tetap sehat, pengguna disarankan melakukan top up sesuai kebutuhan atau anggaran yang telah ditetapkan. Selain itu, membiasakan menunda pembelian barang yang tidak mendesak serta menonaktifkan notifikasi promo juga dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dorongan berbelanja secara impulsif.

Editor : Lugas Rumpakaadi
dompet digital