RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena brainrot atau pembusukan otak semakin banyak diperbincangkan seiring meningkatnya intensitas penggunaan media sosial, terutama kebiasaan menonton video pendek secara terus-menerus. Istilah slang internet ini merujuk pada penurunan kemampuan kognitif akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang minim nilai edukasi.
Seseorang yang mengalami brainrot umumnya mulai kesulitan berkonsentrasi, berpikir kritis, hingga menurunnya produktivitas. Kebiasaan doomscrolling atau menggulir konten tanpa henti juga membuat seseorang lebih mudah terdistraksi dan sulit menerima informasi baru yang lebih bermanfaat.
Paparan konten hiburan yang berlangsung terus-menerus membuat otak terbiasa memperoleh rangsangan instan. Setiap kali melihat konten yang menghibur, otak melepaskan hormon dopamin yang memunculkan rasa senang. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut dapat memicu kecanduan menggunakan gawai hingga berjam-jam tanpa disadari, bahkan ketika sedang bersama keluarga atau teman.
Selain memengaruhi produktivitas, kebiasaan tersebut juga disebut berdampak pada fungsi Prefrontal Cortex (PFC), bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan kemampuan berkonsentrasi. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit fokus dan cenderung kehilangan minat untuk membaca atau mempelajari hal-hal baru.
Fenomena ini dinilai perlu mendapat perhatian mengingat tingginya konsumsi konten hiburan digital di Indonesia. Dalam sebuah video di kanal YouTube miliknya, pendakwah sekaligus penulis Felix Siauw membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak brainrot.
Langkah pertama adalah melakukan detoks gawai, yakni membatasi penggunaan telepon seluler maupun internet dalam kurun waktu tertentu. Menurut Felix, kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi tingkat stres, menekan kecanduan terhadap gawai, meningkatkan kualitas tidur, sekaligus memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.
Ia juga menyarankan penerapan "puasa handphone" pada waktu-waktu tertentu. Menurutnya, cara tersebut mampu melatih otak agar kembali fokus pada aktivitas yang lebih produktif. Bahkan, ia menilai penggunaan telepon seluler secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga.
"Otak yang sehat itu adalah otak yang masih bisa dikendaliin sama awareness itu," ujar Felix.
Cara berikutnya adalah menciptakan kemenangan kecil (small wins). Konsep ini dilakukan dengan memberikan target yang sangat sederhana agar otak terbiasa menyelesaikan tugas secara bertahap.
Sebagai contoh, seseorang dapat mulai duduk selama 30 detik di depan buku tanpa memegang gawai. Setelah berhasil, durasi tersebut ditingkatkan sedikit demi sedikit hingga terbentuk kemampuan berkonsentrasi yang lebih baik.
Langkah terakhir adalah membangun kebiasaan positif (habit building). Felix menekankan pentingnya disiplin dalam mengatur penggunaan gawai setiap hari agar otak kembali terbiasa melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Ia mengacu pada sebuah teori yang menyebutkan bahwa seseorang memerlukan sekitar 62 hari untuk membentuk kebiasaan baru yang menetap. Dengan membatasi penggunaan media sosial secara konsisten, otak diharapkan kembali terbiasa berpikir produktif dibanding terus mencari hiburan instan.
Selain ketiga langkah tersebut, Felix juga mengingatkan pentingnya memanjatkan doa sebelum tidur. Menurutnya, memohon kemudahan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi bagian dari ikhtiar untuk mempersiapkan aktivitas pada hari berikutnya.
"Jangan lupa ketika misalnya malam-malam itu minta agar Allah mudahin besok paginya. Karena hari besok itu ditentuin dari sekarang," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi