RADARBANYUWANGI.ID - Pagi baru saja dimulai, tetapi banyak orang sudah lebih dulu disibukkan dengan layar ponsel. Jempol bergerak naik dan turun tanpa henti menelusuri berbagai unggahan di media sosial. Aktivitas yang awalnya hanya diniatkan beberapa menit kerap berubah menjadi puluhan menit bahkan berjam-jam tanpa disadari.
Fenomena tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yakni kebiasaan menggulir linimasa secara terus-menerus untuk mengonsumsi berbagai informasi, video, maupun foto. Kebiasaan ini kini menjadi bagian dari rutinitas banyak orang, mulai dari pelajar hingga pekerja, dan perlahan menggerus waktu produktif setiap harinya.
Media sosial memang dirancang menggunakan algoritma yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Setiap konten baru yang muncul memberikan sensasi menyenangkan karena memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Akibatnya, pengguna terdorong terus menggulir layar untuk mencari konten berikutnya.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat seseorang sulit berhenti. Waktu yang semula dialokasikan untuk belajar, bekerja, atau beristirahat justru habis untuk menikmati video singkat maupun unggahan yang terus berganti.
Kondisi itu juga dirasakan Mayang, remaja berusia 17 tahun yang mengaku sering kehilangan banyak waktu saat membuka media sosial.
"Kalau lagi gabut sedikit pasti refleks buka TikTok. Niatnya cuma lihat FYP sebentar, tapi tahu-tahu sudah satu jam. Kadang juga bikin overthinking karena lihat kehidupan orang lain seperti sempurna, padahal kenyataannya belum tentu seperti itu," ujarnya.
Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana media sosial tidak hanya menyita waktu, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis. Paparan konten yang menampilkan kehidupan ideal sering memunculkan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, sehingga memicu kecemasan maupun rasa tidak percaya diri.
Selain berdampak pada kesehatan mental, doomscrolling juga berpengaruh terhadap kemampuan berkonsentrasi. Rentang perhatian (attention span) menjadi lebih pendek karena otak terbiasa menerima rangsangan visual yang cepat dan berganti dalam hitungan detik.
Akibatnya, banyak orang mulai kesulitan membaca buku dalam waktu lama, menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan, atau bertahan fokus selama 30 menit tanpa memeriksa ponsel. Produktivitas pun menurun karena perhatian mudah terpecah.
Meski demikian, kebiasaan tersebut bukan berarti tidak bisa diatasi. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah membatasi durasi penggunaan media sosial secara realistis. Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pengingat waktu sebagai alat bantu untuk mengontrol kebiasaan digital.
Cara lain yang dinilai cukup efektif adalah mengubah tampilan layar menjadi hitam putih (grayscale). Hilangnya warna-warna cerah membuat foto maupun video terasa kurang menarik sehingga keinginan untuk terus menggulir linimasa perlahan berkurang.
Teknik "Out of Sight, Out of Mind" juga dapat diterapkan saat belajar atau bekerja. Meletakkan ponsel di dalam tas atau di ruangan lain mampu mengurangi dorongan refleks untuk memeriksa notifikasi setiap kali muncul jeda dalam aktivitas.
Tak kalah penting, membangun rutinitas pagi tanpa layar dapat membantu mengembalikan fokus sejak awal hari. Mengisi 30 hingga 60 menit pertama setelah bangun tidur dengan aktivitas fisik ringan, merapikan kamar, membaca, atau menikmati udara pagi memberi kesempatan bagi otak untuk memulai hari tanpa distraksi digital.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial menjadi salah satu keterampilan penting. Dengan kebiasaan digital yang lebih sehat, waktu dapat dimanfaatkan secara lebih produktif tanpa harus sepenuhnya menjauh dari perkembangan teknologi.
Editor : Lugas Rumpakaadi