RADARBANYUWANGI.ID - Kram kaki menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dialami pendaki saat menempuh jalur menuju puncak gunung.
Kondisi tersebut umumnya muncul ketika otot mengalami kelelahan, kurang mendapatkan pemanasan, maupun akibat posisi istirahat yang kurang tepat.
Salah seorang pendaki, Andika, menjelaskan bahwa anggapan kram kaki terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi air putih tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, penyebab yang lebih sering ditemui justru berasal dari kondisi otot yang telah bekerja keras selama perjalanan.
"Kebanyakan minum air biasanya menyebabkan kram perut. Sementara itu, kram kaki saat mendaki umumnya terjadi karena otot sudah lelah setelah trekking, kemudian saat beristirahat posisi kaki ditekuk sehingga otot menjadi tegang dan memicu kram," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Untuk mengurangi risiko kram, pendaki disarankan melakukan pemanasan selama 10 hingga 15 menit sebelum memulai perjalanan.
Peregangan dinamis yang berfokus pada otot betis, paha, dan pinggul dinilai mampu meningkatkan fleksibilitas sehingga otot lebih siap menghadapi medan pendakian.
Selain pemanasan, menjaga kecukupan cairan juga menjadi hal penting.
Pendaki dianjurkan minum air putih secara berkala selama perjalanan agar tubuh tetap terhidrasi.
Asupan makanan yang mengandung kalium dan magnesium, seperti pisang serta kacang-kacangan, juga dapat membantu menjaga fungsi otot tetap optimal.
Pengaturan ritme langkah tidak kalah penting untuk mencegah kelelahan otot.
Pendaki sebaiknya berjalan dengan langkah pendek, pelan, dan stabil sehingga tenaga tidak cepat terkuras.
Ketika tubuh mulai terasa lelah, istirahatlah dengan posisi kaki tetap lurus atau rileks agar otot tidak mudah mengalami kram.
Jika kram tetap terjadi, perjalanan sebaiknya segera dihentikan untuk sementara.
Lakukan peregangan pada bagian otot yang mengalami kram dengan meluruskan kaki, kemudian tarik ujung telapak kaki secara perlahan ke arah tubuh hingga otot kembali rileks.
Setelah rasa nyeri berkurang, pendakian dapat dilanjutkan secara perlahan tanpa memaksakan kondisi fisik.
Editor : Lugas Rumpakaadi