Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

IPK 2,9 Tak Halangi Kuliah S2 di King's College London, Ninda Fer Bagikan Enam Kebiasaan Belajar yang Dianggap Lebih Penting dari Nilai

Rizki Anindiya Putri • Rabu, 8 Juli 2026 | 13:53 WIB
IPK 2,9 tak menghalangi Ninda Fer kuliah S2 di King
IPK 2,9 tak menghalangi Ninda Fer kuliah S2 di King's College London. (Tangkapan layar YouTube NindaaFer)

RADARBANYUWANGI.ID - Lulus kuliah dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 2,9 tidak menjadi penghalang bagi kreator konten edukasi Ninda Fer untuk mengembangkan karier hingga menempuh pendidikan magister Applied Neuroscience di King's College London. Melalui video berjudul Kebiasaan Belajar yang Bisa Bikin Kamu Lebih Pintar dari 95% Orang!, ia membagikan enam kebiasaan belajar yang menurutnya lebih berpengaruh terhadap perkembangan diri dibanding sekadar mengejar nilai akademik.

Menurut Ninda, keberhasilan yang diraihnya bukan berasal dari IPK semata. Ia menilai perubahan terbesar justru terjadi setelah menemukan pola belajar yang konsisten sehingga mampu meningkatkan keterampilan dari waktu ke waktu.

"Yang jelas ini bukan hasil dari IPK aku yang pas-pasan, tapi karena aku nemuin kebiasaan belajar yang beneran jalan, yang bisa terus-menerus upgrade skill aku," ujarnya dalam video tersebut.

Informasi dalam artikel ini dirangkum dari video yang diunggah melalui kanal YouTube Ninda Fer. Dalam kontennya, ia membahas strategi belajar, produktivitas, dan pengembangan diri berdasarkan pengalaman pribadi maupun materi yang dipelajarinya.

Kebiasaan pertama yang disoroti Ninda adalah belajar berdasarkan rasa ingin tahu. Menurutnya, seseorang cenderung lebih mudah memahami sekaligus mengingat informasi apabila materi yang dipelajari sesuai dengan minatnya.

Ia menyarankan setiap orang mulai mengenali topik yang paling sering menarik perhatian dalam kehidupan sehari-hari, baik mengenai karier, kesehatan, keuangan, bisnis, maupun bidang lainnya.

"Kamu coba tanya ke diri sendiri, hal apa sih yang enggak bisa kamu berhenti pikirin? Mau itu soal uang, karier, kesehatan, bisnis, apa pun. Nah, itu sinyal," jelasnya.

Pendekatan tersebut dinilai membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan sehingga motivasi untuk terus mencari informasi baru dapat bertahan lebih lama.

Selain rasa penasaran, Ninda menilai tujuan belajar yang spesifik menjadi faktor penting agar seseorang tidak mudah kehilangan fokus.

Menurutnya, target yang jelas membantu otak menyaring informasi sehingga hanya materi yang benar-benar relevan dengan tujuan yang akan lebih diperhatikan.

"Tujuan yang konkret itu fungsinya kayak filter buat otak kamu. Setiap informasi yang masuk, otak kamu otomatis nanya, 'Ini relevan enggak sih buat tujuan aku?'" ungkapnya.

Dengan cara tersebut, waktu belajar dapat dimanfaatkan secara lebih efektif karena tidak dihabiskan untuk mempelajari informasi yang kurang berkaitan dengan kebutuhan.

Ninda juga mengingatkan bahwa alasan tidak memiliki waktu untuk belajar sering kali muncul karena banyak waktu singkat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia mencontohkan waktu yang biasanya digunakan untuk menggulir media sosial atau membuka aplikasi belanja daring sebenarnya dapat dialihkan untuk membaca artikel, mendengarkan podcast, atau menyimak materi edukasi.

Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti setiap menit harus dipenuhi aktivitas produktif. Yang lebih penting adalah menyadari adanya waktu-waktu kecil yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Kebiasaan berikutnya adalah berani memulai tanpa menunggu semua teori dipahami secara menyeluruh.

Menurut Ninda, banyak orang terjebak pada keinginan menguasai seluruh materi sebelum mencoba. Padahal, pengalaman langsung justru membantu menemukan bagian mana yang masih perlu dipelajari.

"Yang lebih efektif adalah kebalikannya, mulai dulu, baru akhirnya cari jawabannya," katanya.

Ia menilai proses belajar akan berlangsung lebih cepat ketika teori dan praktik berjalan secara bersamaan.

Ninda juga menekankan pentingnya memahami konsep, bukan hanya mengingat informasi.

Salah satu metode yang ia rekomendasikan adalah Feynman Technique, yaitu teknik belajar dengan menjelaskan kembali suatu materi menggunakan bahasa sendiri seolah-olah sedang mengajarkannya kepada orang lain.

Melalui cara tersebut, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang sudah benar-benar dipahami dan bagian mana yang masih memerlukan pendalaman.

"Kalau kamu bisa jelasin pakai kata-kata sendiri, berarti kamu benar-benar ngerti. Kalau masih bingung di tengah jalan, berarti itu bagian yang harus dipelajari lagi," ujarnya.

Metode tersebut banyak digunakan untuk membantu menyederhanakan konsep yang rumit sehingga lebih mudah dipahami dan diingat.

Menurut Ninda, pengetahuan akan memberikan manfaat maksimal apabila segera diterapkan dalam kehidupan nyata.

Melalui praktik, seseorang dapat mengetahui apakah kemampuan yang dimiliki benar-benar berkembang atau masih membutuhkan latihan lebih lanjut.

"Ini bukan sistem yang bikin kamu pintar dalam semalam, tapi ini kebiasaan yang bikin kamu terus jadi lebih pintar hari demi hari sambil tetap kerja dan tetap hidup normal," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Ninda Fer #tips belajar efektif #Feynman Technique