RADARBANYUWANGI.ID - Banyak orang menganggap kepercayaan diri hanya diukur dari keberanian berbicara di depan umum atau tampil di hadapan banyak orang. Padahal, rasa percaya diri justru berakar dari cara seseorang mengenali dirinya sendiri, mengambil keputusan, hingga berani melangkah meski belum mengetahui hasil yang akan dihadapi.
Di tengah banyaknya orang yang masih bergulat dengan rasa minder, takut gagal, hingga overthinking, pembahasan mengenai cara membangun kepercayaan diri menjadi semakin relevan. Hal tersebut menjadi salah satu topik utama dalam tayangan Suara Berkelas yang menghadirkan Sunil Tolani, Diaris, dan Habib Jafar. Ketiganya menawarkan sudut pandang berbeda, namun saling melengkapi, mulai dari pentingnya menyeimbangkan keberanian dan kebijaksanaan, memperbarui pola pikir, hingga terus berikhtiar dalam menjalani kehidupan.
Sunil Tolani menilai setiap fase kehidupan memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing. Anak muda, misalnya, memiliki energi dan keberanian yang besar untuk mencoba berbagai hal. Namun, keberanian tersebut perlu diarahkan agar tidak berubah menjadi keputusan yang tergesa-gesa.
"Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah kebodohan. Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa keberanian adalah overthinking," ujar Sunil Tolani.
Menurutnya, keberanian merupakan modal penting untuk berkembang. Namun, keberanian akan memberikan hasil yang lebih baik apabila dibarengi kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman maupun belajar kepada orang-orang yang lebih senior.
Sebaliknya, pengalaman yang panjang juga tidak selalu cukup apabila seseorang kehilangan keberanian untuk bertindak. Terlalu banyak pertimbangan justru dapat membuat seseorang terjebak dalam keraguan dan tidak pernah mengambil langkah.
Sementara itu, Diaris mengajak setiap orang mengevaluasi apa yang ia sebut sebagai personal CV. Menurutnya, selama ini banyak orang hanya fokus memperbarui riwayat pendidikan, pengalaman kerja, atau pencapaian profesional, tetapi lupa memperbarui cara berpikir dan keyakinan tentang diri sendiri.
"Kalau profesional CV saja kita terus perbarui, masa personal CV tidak?" ungkap Diaris.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil sering kali membentuk keyakinan yang terus terbawa hingga dewasa. Ada yang tumbuh dengan kebiasaan tidak berani menyampaikan pendapat, merasa hanya dihargai ketika berprestasi, atau meyakini dirinya tidak cukup baik.
Apabila pola pikir tersebut tidak pernah dievaluasi, dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti mudah minder, takut mencoba tantangan baru, sulit mengambil keputusan, hingga kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Karena itu, menurut Diaris, personal CV juga perlu diperbarui. Keyakinan yang sudah tidak relevan perlu digantikan dengan pola pikir yang lebih sehat agar seseorang mampu berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Habib Jafar menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya membiarkan rasa takut maupun pikiran negatif mengendalikan hidupnya.
"Kamu diciptakan merdeka, sehingga tidak ada yang bisa memperbudak kamu kecuali kamu mempersilakan dia untuk memperbudak kamu," jelas Habib Jafar.
Menurutnya, setiap manusia telah dibekali akal, hati, dan petunjuk untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa terus-menerus menyalahkan keadaan atau godaan atas setiap keputusan yang diambil.
Yang perlu dilakukan adalah terus memperkuat diri, belajar dari pengalaman, serta berikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Pandangan ketiga narasumber menunjukkan bahwa kepercayaan diri bukanlah sifat bawaan ataupun muncul karena merasa paling hebat. Sebaliknya, rasa percaya diri tumbuh melalui proses mengenali diri sendiri, memperbaiki pola pikir yang menghambat, serta memiliki keberanian untuk terus melangkah meski hasil akhirnya belum dapat dipastikan.
Dari pembahasan tersebut, terdapat tiga hal penting yang dapat menjadi bekal membangun kepercayaan diri. Pertama, keberanian perlu diimbangi dengan kebijaksanaan agar setiap keputusan diambil secara matang. Kedua, seseorang perlu mengevaluasi dan memperbarui personal CV, yakni keyakinan dan pola pikir yang membentuk cara memandang diri sendiri. Ketiga, rasa takut tidak boleh menjadi penghalang untuk terus belajar, berusaha, dan berikhtiar.
Editor : Lugas Rumpakaadi