RADARBANYUWANGI.ID - Juli 2026 menjadi salah satu bulan terbaik bagi pencinta langit malam. Dalam waktu kurang dari empat pekan, masyarakat berkesempatan menyaksikan sederet fenomena astronomi, mulai dari Aphelion, papasan Bulan dengan Saturnus, konfigurasi Bulan-Mars-Pleiades, Buck Moon, hingga hujan meteor yang dapat diamati tanpa teleskop.
Seluruh fenomena tersebut dapat dinikmati dengan mata telanjang selama cuaca cerah dan lokasi pengamatan bebas dari polusi cahaya. Karena beberapa di antaranya berlangsung dalam waktu yang berdekatan, Juli menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan oleh para pengamat bintang maupun masyarakat umum.
Rangkaian fenomena langit dimulai pada 6 Juli 2026 dengan peristiwa Aphelion, yakni kondisi ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit tahunannya.
Meski terdengar dramatis, Aphelion tidak menyebabkan perubahan suhu ekstrem di Bumi. Fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami revolusi Bumi mengelilingi Matahari dan menjadi penanda bahwa jarak Bumi terhadap Matahari selalu berubah sepanjang tahun.
Pemandangan langit kembali menarik pada 7–8 Juli. Bulan yang berada dalam fase kuartal ketiga akan tampak berdekatan dengan Saturnus di langit timur. Fenomena ini menjadi salah satu momen yang mudah diamati tanpa peralatan astronomi.
Selanjutnya, pada 11 Juli, Bulan sabit tipis akan membentuk konfigurasi menyerupai segitiga bersama planet Mars dan gugus bintang Pleiades. Susunan tiga objek langit tersebut menjadi salah satu pemandangan yang menarik bagi pencinta fotografi malam maupun pengamat astronomi.
Memasuki pekan terakhir Juli, langit malam akan dipenuhi aktivitas hujan meteor yang berlangsung hampir bersamaan.
Hujan meteor Piscis Austrinid diperkirakan mencapai puncaknya pada 28–29 Juli sebagai pembuka rangkaian fenomena akhir bulan.
Selanjutnya, Southern Delta Aquariid mencapai puncak pada 30–31 Juli. Fenomena ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor yang paling dinantikan karena mampu menghasilkan cukup banyak meteor dalam kondisi langit yang ideal dan dapat diamati dari berbagai belahan Bumi.
Pada tanggal yang sama, Alpha Capricornid juga mencapai puncaknya. Meski jumlah meteor yang muncul tidak sebanyak Southern Delta Aquariid, hujan meteor ini terkenal karena kerap menghadirkan fireball, yakni meteor berukuran besar yang memancarkan cahaya sangat terang saat melintasi langit malam.
Selain hujan meteor, masyarakat juga dapat menikmati Buck Moon atau bulan purnama Juli yang muncul pada 28–29 Juli.
Nama Buck Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika yang menandai periode ketika tanduk rusa jantan mulai tumbuh kembali. Kini, istilah tersebut digunakan secara luas untuk menyebut bulan purnama yang muncul pada Juli setiap tahunnya.
Agar pengalaman mengamati langit malam lebih maksimal, masyarakat dapat memilih lokasi yang jauh dari cahaya perkotaan dengan pandangan langit yang terbuka.
Mata juga sebaiknya dibiarkan beradaptasi dengan kondisi gelap selama sekitar 20 hingga 30 menit sebelum pengamatan dimulai. Penggunaan aplikasi peta langit pada ponsel juga dapat membantu menemukan posisi planet maupun gugus bintang yang ingin diamati.
Tanpa memerlukan teleskop, sebagian besar fenomena langit sepanjang Juli 2026 dapat disaksikan secara langsung.
Editor : Lugas Rumpakaadi