RadarBanyuwangi.id - Puntung rokok dan flare tampaknya sepele. Namun ternyata, kedua benda yang identik dengan kesenangan ini bisa menjadi pemicu kebakaran yang luas.
Tindakan sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan dapat memiliki konsekuensi yang menghancurkan, terutama di daerah rawan kebakaran.
Setiap tahun, ribuan hektar hutan terbakar. Ini mengancam keanekaragaman hayati dan merusak ekosistem yang telah ada selama berabad-abad.
Di Indonesia, kasus kebakaran hutan semakin sering terjadi, dan banyak di antaranya disebabkan oleh kelalaian manusia.
Karena itu, penting untuk memahami bagaimana tindakan kecil dapat menimbulkan dampak besar. Serta apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.
Seperti diketahui, lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan oleh kelalaian manusia. Misalnya seperti membuang puntung rokok sembarangan. Hingga menyalakan flare secara seenaknya.
Kasus kebakaran akibat flare pernah terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada 6 September 2023 silam. Saat itu, ada aktivitas pemotretan untuk pre-wedding dengan menyalakan flare.
Akibat kelalaian menggunakan flare, sekitar 504 hektare lahan terbakar. Tidak tanggung-tangging, kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai Rp 5,4 miliar.
Sementara itu, kebakaran hutan tidak hanya merusak habitat flora dan fauna. Tetapi juga berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan perubahan iklim. Dampak kebakaran hutan sangat luas dan berbahaya.
Selain menghancurkan habitat alami, kebakaran juga menghasilkan asap beracun. Asap ini dapat menyebabkan masalah kesehatan masyarakat.
Selain itu, kebakaran hutan berkontribusi pada perubahan iklim dengan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, memperburuk efek pemanasan global.
Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, diperlukan kesadaran dan tanggung jawab dari setiap individu. Selain perlu edukasi masyarakat, diperlukan pula upaya penegakan hukum. Upaya terakhir adalah pengawasan lingkungan yang melibatkan semua komponen masyarakat. (gas/bay)
Editor : Ali Sodiqin