Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dijamin Lebih Mudah, Ini Alat yang Tak Boleh Ditinggal Saat Sangrai Kopi Cara Tradisional

Dedy Jumhardiyanto • Sabtu, 9 Maret 2024 | 17:33 WIB
NYAMAN DIPEGANG: Sutil untuk sangrai kopi lebih nyaman berbahan logam karena ringan dan dipilih yang berukuran panjang.
NYAMAN DIPEGANG: Sutil untuk sangrai kopi lebih nyaman berbahan logam karena ringan dan dipilih yang berukuran panjang.

RadarBanyuwangi.id – Butuh proses yang panjang untuk membuat secangkir kopi.

Mulai memetik buah, menjemur, menyangrai (roasting), menggiling, hingga menyeduh.

Salah satu tahapan paling penting dalam membuat kopi adalah roasting alias sangrai biji kopi.

Sangrai adalah proses pembakaran atau pemanggangan biji kopi tanpa terkena nyala api.

Sangrai ini dilakukan untuk mendapatkan warna kopi menjadi kecoklatan atau kehitaman untuk mendapatkan aroma dan cita rasanya.

Roasting atau menyangrai kopi bisa dilakukan dengan dua cara.

Sangrai secara tradisional maupun roasting dengan cara modern.

Cara modern dengan memakai mesin yang bisa di-setting otomatis. Baik panas dan maupun waktu menyangrai.

Sedangkan cara tradisional dengan menggunakan wajan dan tanah liat.

Nah, salah satu alat yang paling penting dalam proses sangrai kopi tradisional adalah sutil.

Alat dari logam ini tidak boleh ditinggal saat melakukan sangrai kopi.

Alat ini harus terus dipegang untuk mengaduk biji kopi selama proses roasting berlangsung.

Mempertahankan teknik sangrai tradisional memang tak mudah.

Apalagi, kini juga banyak mesin sangrai kopi yang lebih praktis dan modern.

Namun, menyangrai kopi tradisional memiliki keunikan dan cita rasa khas bagi penikmat kopi.

Menyangrai kopi secara manual dilakukan dengan memanaskan biji-biji kopi di atas penggorengan tanpa dibubuhi minyak.

Seseorang harus stand by mengaduk-aduk biji kopi agar permukaan kopi benar-benar matang merata, dan tidak pada bagian bawah saja yang matang dan justru gosong.

Proses pemanasan ini dilakukan di atas tungku menggunakan kayu bakar hingga biji kopi berwarna kecokelatan.

Proses pemanasan menggunakan kayu bakar inilah yang akan membuat kopi semakin nikmat.

“Ada sebagian orang yang menilai jika aroma kayu bakar akan menempel pada biji kopi, dan tetap terasa ketika biji kopi sudah diseduh menjadi minuman,” ujar Yanti, salah seorang pekerja sangrai kopi tradisional di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Teknik sangrai tradisional inilah yang membuat cita rasa kopi lebih nikmat, dan harus tetap dipertahankan sebagai teknik sangrai kopi warisan tempo dulu.

“Kopi Banyuwangi memang cukup nikmat dengan roasting manual. Cita rasanya berbeda, nikmat dan aromanya lebih harum,” cetusnya.

Untuk mendapatkan kopi Banyuwangi yang disangrai manual. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya, bisa mengambil stok dari sejumlah daerah kebun penghasil kopi seperti dari wilayah Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Kalibaru, Kecamatan Licin, dan Kecamatan Songgon.

Cara menyangrai kopi tradisional juga dinilai cukup mudah. Hanya tinggal menyiapkan tungku dan bahan bakar kayu.

Panas apinya harus merata dengan menyisakan bara api, sehingga proses sangrai lebih sempurna.

“Kalau sangrai kopi butuh waktu 10-15 menit saja, dan harus duduk sambal terus mengaduk-aduk biji kopi agar masak merata,” katanya.

Agar proses pematangan biji kopi lebih merata, dia kerap menggunakan wajan dari gerabah tanah liat dan menggunakan sutil dengan gagang berbahan kayu.

Tetapi bagian depan sutil terbuat dari logam.

“Kalau dari logam permukaannya pipih dan lebih kuat, tahan panas,” katanya.

Jika menggunakan kayu, permukaan biji kopi yang sedang disangrai tidak teraduk dengan maksimal dan dikhawatirkan kurang merata karena bagian depan sutil tidak pipih. (ddy/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#alat #tradisional #gerabah #roasting #sutil #sangrai #logam #kopi