RadarBanyuwangi.id – Zaman dulu besek atau wadah makanan dari anyaman bambu adalah kemasan merakyat.
Kini, wadah makanan yang ramah lingkungan ini justru ”naik kelas”. Hantaran makanan dengan wadah besek sekarang justru dianggap sebagai hantaran kelas atas.
Sejumlah perajin besek masih eksis hingga kini di kabupaten ujung timur Pulau Jawa. Besek sendiri sudah lama digunakan di Banyuwangi.
Bahkan, sebelum ada wadah kemasan plastik, besek lebih dulu digunakan sebagai kemasan yang multifungsi, termasuk untuk berbagai wadah masakan.
Besek menjadi tempat yang cukup higienis dan alami karena langsung dimanfaatkan dari tanaman sehingga tidak mengandung bahan kimia dalam proses pembuatannya.
Selain itu, besek bambu ini juga memiliki sedikit celah udara sehingga membuat makanan tidak cepat basi.
Besek diproduksi di sejumlah sentra kerajinan anyaman bambu, seperti di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.
Ada juga produsen besek di Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro. Serta beberapa perajin besek di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro.
Widie Nurmahmudi, perajin besek asal Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro mengakui, penjualan besek paling ramai pada bulan haji atau Zulhijah.
Biasanya besek digunakan untuk wadah daging kurban. ”Tapi ada juga yang mengenakan besek ini sebagai wadah oleh-oleh khas Banyuwangi,” ungkapnya.
Saat ramai pesanan, Widie mampu melayani hingga 3 ribu unit besek per bulan. Besek wadah makanan yang lengkap dengan tutupnya dihargai Rp 2.500 per buah.
Sedangkan besek ukuran kecil harganya Rp 2.000 per buah. Sedangkan harga tas anyaman bambu untuk suvenir dibanderol Rp 6.000 per unit.
Untuk proses produksi, Widie biasanya menyerahkan sepikul bambu kepada tukang garap. Setiap pikul berisi sekitar 50 potong bambu dengan panjang masing-masing tiga ruas. Perajin akan memotong dan membelah bambu itu menjadi bilah tipis-tipis.
Setelah itu, bilah bambu tipis tersebut dijemur. Setelah kering, bambu siap dianyam jadi besek. Proses selanjutnya disebut natasi (finishing), di mana serat-serat bambu dipotong agar besek terlihat rapi dan halus.
Dari sepikul bambu, biasanya bisa diproduksi untuk 300 unit besek lengkap dengan tutupnya. Upah perajin sekitar Rp 400.000 dipotong Rp 75 ribu harga sepikul bambu.
”Kalau hanya menganyam, perajin bisa menyelesaikan seratus unit besek per hari. Tapi prosesnya sejak nyirati, menjemur bilah bambu, menganyam, dan natasi,” jelas Widie
Orang tua Widie sebelumnya merupakan pengusaha besek yang mampu menampung produksi hasil seluruh perajin di Dusun Papring.
Kini, dia berupaya menghidupkan lagi usaha itu sembari berkampanye pengurangan penggunaan wadah berbahan plastik. Bambu bahan baku besek adalah jenis bambu apus karena tidak mudah pecah.
Salah satu fungsi besek yakni untuk menyimpan bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, kunyit, dan sebagainya.
Besek juga kerap digunakan untuk keperluan kenduri yang berfungsi sebagai wadah nasi dan lauk. Besek juga bisa dipakai untuk wadah bingkisan sembako.
Fungsi lain besek yakni untuk kemasan oleh-oleh khas daerah, seperti geplak, getuk goreng, tiwul, dan lain-lain. Saat ini besek mulai digunakan sebagai alternatif pengganti tas kresek untuk mengurangi timbunan sampah.
”Besek ini tradisional, tapi lebih ramah lingkungan. Harganya murah dan bisa digunakan dalam waktu lumayan lama,” tandas Widie. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin