Tak Harus Mahal, Begini Cara Petani Memulai Smart Farming di Lahan Pertanian

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:34 WIB
Dua petani menyiapkan drone di area pertanian. Pesawat tanpa awak menjadi salah satu perangkat untuk membantu pemantauan kondisi lahan. (Magda Ehlers/Pexels)
Dua petani menyiapkan drone di area pertanian. Pesawat tanpa awak menjadi salah satu perangkat untuk membantu pemantauan kondisi lahan. (Magda Ehlers/Pexels)

RADAR BANYUWANGI - Teknologi mulai mengubah cara petani mengelola lahan. Kini, kelembapan tanah bisa dipantau lewat sensor, penyiraman dapat berjalan otomatis, bahkan kondisi tanaman bisa diperiksa menggunakan drone.

Perubahan itu mulai diperkenalkan kepada petani cabai di Bojonegoro, Jawa Timur. Sebanyak 35 petani mengikuti Sekolah Lapang Smart Farming di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, pada 25 Juli 2026.

Berdasarkan laporan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, peserta belajar menggunakan sensor kelembapan tanah, alat pengukur pH, hingga perangkat pengukur konsentrasi nutrisi tanaman.

Fasilitator BBPP Ketindan, Saptini Mukti Rahajeng, mengatakan teknologi tersebut membantu petani menentukan kebutuhan tanaman secara lebih terukur.

"Kami mengajak petani melakukan observasi secara presisi melalui aplikasi yang tersedia di telepon pintar serta memanfaatkan alat digital yang mudah dijangkau," jelasnya, sebagaimana dikutip dari publikasi BBPP Ketindan, 30 Juli 2026.

Lantas, apa itu smart farming dan bagaimana manfaatnya bagi petani?

Baca Juga: Panen 80 Ton Jagung di Sempu, Inovasi Pertanian Dorong Lahan Kritis Jadi Produktif

Apa Itu Smart Farming?

Smart farming atau pertanian cerdas merupakan sistem pengelolaan pertanian yang memanfaatkan teknologi digital, sensor, data, dan otomatisasi.

Tujuannya membantu petani mengambil keputusan berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman, bukan hanya mengandalkan perkiraan.

Konsep ini berkaitan dengan pertanian presisi (precision agriculture), yakni pengelolaan input pertanian sesuai kebutuhan pada lokasi dan waktu tertentu.

Sebagai contoh, petani tidak harus menyiram tanaman berdasarkan jadwal tetap. Sensor dapat membantu menunjukkan kapan kelembapan tanah turun sehingga penyiraman bisa disesuaikan.

Baca Juga: Gunung Sinabung Erupsi, Abu Vulkanik Terjang Karo hingga Lahan Pertanian Warga

6 Contoh Teknologi Smart Farming

Ada sejumlah teknologi smart farming yang dapat diterapkan pada pertanian skala kecil maupun besar.

1. Sensor Tanah dan Internet of Things (IoT)

Sensor digunakan untuk mengukur kelembapan tanah, suhu, dan kondisi lingkungan tanaman.

Melalui Internet of Things (IoT), data dari perangkat dapat dikirimkan ke aplikasi. Petani pun bisa memantau kondisi lahan melalui telepon pintar selama perangkat terhubung dengan jaringan.

2. Irigasi Otomatis

Teknologi ini mengatur penyiraman berdasarkan sensor atau jadwal tertentu.

Contohnya, SIRAMLI, sistem penyiraman berbasis IoT yang diluncurkan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo pada 25 September 2025.

SIRAMLI memiliki tiga pilihan pengoperasian, yakni otomatis berdasarkan kelembapan tanah, kendali melalui aplikasi, dan pengaturan jadwal penyiraman.

3. Drone Pertanian

Drone digunakan untuk memetakan lahan, memantau pertumbuhan tanaman, serta membantu penyemprotan pupuk cair atau pestisida.

Dengan kamera dan sensor tertentu, drone juga dapat mengidentifikasi area yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, penggunaannya harus memperhatikan dosis bahan, keselamatan kerja, dan ketentuan penerbangan.

4. Kecerdasan Buatan (AI)

Artificial Intelligence (AI) dapat membantu menganalisis gambar tanaman, mengenali indikasi penyakit, serta memperkirakan hasil panen berdasarkan data.

Meski demikian, diagnosis dari aplikasi AI tetap memerlukan pemeriksaan lapangan agar tidak menimbulkan keputusan keliru.

5. Smart Greenhouse

Smart greenhouse merupakan rumah kaca yang dilengkapi perangkat pemantauan dan pengendalian lingkungan.

Teknologi ini membantu mengatur suhu, kelembapan, sirkulasi udara, irigasi, hingga pemberian nutrisi.

Dalam laporan Kementerian Pertanian pada November 2025, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan menghasilkan dua kompleks rumah kaca cerdas.

Fasilitas tersebut berada di BBPP Ketindan dengan luas 4.400 meter persegi dan Polbangtan Bogor seluas 5.600 meter persegi.

Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian, Ade Candrawijaya, menegaskan pentingnya fasilitas tersebut.

"Greenhouse ini bukan hanya bangunan, tetapi pusat inovasi yang mempersiapkan generasi baru petani Indonesia," katanya.

6. Mesin Pertanian Berbasis GPS

Teknologi GPS dapat membantu traktor dan mesin pertanian bekerja lebih presisi.

Pada sistem tertentu, alat dapat diarahkan untuk menanam benih atau mengaplikasikan pupuk dengan pengaturan posisi yang lebih akurat. Teknologi tersebut berpotensi mengurangi pekerjaan berulang.

Baca Juga: Potensi Banyuwangi Jadi Living Laboratory ITB, Kolaborasi Riset Diperluas ke Pertanian dan Wisata

Apa Manfaat Smart Farming bagi Petani?

Penerapan smart farming dapat memberikan manfaat apabila teknologi digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi lahan.

Pertama, menghemat penggunaan air. Sensor kelembapan tanah membantu petani menentukan waktu penyiraman sehingga air tidak diberikan secara berlebihan.

Kedua, meningkatkan efisiensi pemupukan. Data kondisi tanah dan tanaman dapat menjadi dasar penentuan dosis pupuk yang lebih tepat.

Ketiga, mengurangi pekerjaan manual. Penyiraman otomatis dan pemantauan digital dapat menghemat waktu serta tenaga kerja.

Keempat, membantu menjaga produktivitas. Pemantauan berkala memungkinkan petani mengetahui gangguan pertumbuhan lebih cepat dan mengambil tindakan yang sesuai.

Kelima, mendukung pengelolaan biaya. Penggunaan sarana produksi yang lebih terukur berpotensi mengurangi pemborosan. Namun, penghematan tetap harus dibandingkan dengan biaya pembelian dan pemeliharaan alat.

Baca Juga: Ngaji Masalah Pertanian, Dispertan Banyuwangi Sisir Keluhan Petani dan Peternak

Apakah Smart Farming Harus Mahal?

Tidak selalu. Penerapan smart farming dapat dimulai dari teknologi sederhana, seperti sensor kelembapan tanah, pencatatan usaha tani digital, dan pengatur irigasi.

BBPP Ketindan juga mengembangkan pendekatan low-cost smart farming untuk memperkenalkan teknologi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Meski begitu, petani tetap menghadapi tantangan. Di antaranya keterbatasan modal, jaringan internet, pasokan listrik, dan keterampilan mengoperasikan perangkat.

Karena itu, penggunaan teknologi sebaiknya dimulai melalui uji coba skala kecil. Petani bisa memilih perangkat yang paling dibutuhkan sebelum memperluas penerapannya.

Kelompok tani juga dapat mempertimbangkan penggunaan alat secara bersama untuk menekan biaya investasi.

Baca Juga: HIPMI Banyuwangi Punya Nakhoda Baru, Dio Arli Rahadi Fokus Dorong Anak Muda Naik Kelas di Bisnis Kuliner dan Pertanian

Masa Depan Pertanian Berbasis Data

Smart farming bukan berarti seluruh pekerjaan petani digantikan mesin. Teknologi justru berperan membantu petani membaca kondisi lahan dan mengambil keputusan secara lebih tepat.

Dengan dukungan pelatihan dan infrastruktur yang memadai, pertanian cerdas berpeluang meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Bagi petani, langkah awalnya tidak harus membeli perangkat canggih. Memilih satu teknologi yang mampu menyelesaikan masalah nyata di lahan sudah menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian cerdas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
teknologi pertanian modern pertanian cerdas Internet of Things pertanian manfaat smart farming Smart Farming