Dua AI Sudah Terbang di Rafale, Dassault Masih Rahasiakan Fungsinya

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:27 WIB
Dua algoritma AI diuji pada Rafale sebagai bagian dari teknologi tempur masa depan. (ChatGPT)
Dua algoritma AI diuji pada Rafale sebagai bagian dari teknologi tempur masa depan. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Kecerdasan buatan (AI) mulai mendapat tempat di kokpit Rafale. Dassault Aviation mengumumkan telah menguji dua algoritma AI dalam penerbangan jet tempur tersebut pada 22 September 2026.

Satu algoritma dikembangkan sendiri oleh Dassault Aviation. Satu lagi dibuat bersama Thales melalui cortAIx, unit yang berfokus pada pengembangan dan industrialisasi AI.

Yang menarik, dua algoritma tersebut bukan lagi sekadar konsep di laboratorium. Dassault menyatakan teknologi itu telah mencapai tingkat kematangan tertentu untuk dipertimbangkan dalam pengembangan Rafale berikutnya.

“Keduanya telah mencapai tingkat kematangan yang membuatnya layak dipertimbangkan untuk peningkatan Rafale pada masa mendatang,” demikian pernyataan Dassault Aviation.

Namun, perusahaan masih menutup rapat fungsi kedua AI tersebut.

Dassault belum mengungkap tugas yang dijalankan selama penerbangan. Kondisi pengujian, perangkat komputasi yang digunakan, hingga hasil kuantitatifnya juga belum dipublikasikan.

Reuters juga melaporkan bahwa Dassault belum memberikan perincian mengenai peran masing-masing algoritma.

Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa AI tersebut dapat memilih sasaran, menentukan penggunaan senjata, atau mengambil alih kendali Rafale.

Informasi resmi yang tersedia sejauh ini justru menunjukkan arah berbeda. Dassault menempatkan AI sebagai teknologi untuk membantu kru manusia, bukan menggantikannya.

“AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia, tetapi membantu pilot dan anggota kru dalam mengambil keputusan penting,” tulis Dassault dalam laporan tahunannya.

Bukan Satu AI untuk Semua Tugas

Cara Dassault mengembangkan AI untuk Rafale juga tidak bertumpu pada satu sistem yang mengerjakan semuanya.

CEO Dassault Aviation Éric Trappier pernah menjelaskan konsep tersebut saat memaparkan kinerja semester pertama perusahaan pada 22 Juli 2026.

“Tidak ada satu AI yang melakukan semuanya. Ada beberapa AI,” kata Trappier.

Pernyataan itu memberikan gambaran bahwa Rafale nantinya dapat menggunakan sejumlah algoritma untuk tugas berbeda.

Sebagian AI bisa saja menangani pengolahan data. Algoritma lain dapat dikembangkan untuk kebutuhan berbeda sesuai dengan misi dan sistem pesawat.

Namun, Dassault belum menyebutkan tugas mana yang diberikan kepada dua algoritma yang baru diuji tersebut.

Trappier sebelumnya juga menjelaskan bahwa Dassault mengembangkan AI secara internal dan bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk Thales.

Salah satu tantangan yang ingin diatasi adalah besarnya volume data yang harus diterima dan diproses pilot ketika menjalankan misi.

Persoalan itu semakin penting pada jet tempur modern. Pilot tidak hanya menerbangkan pesawat, tetapi juga harus memantau radar, sensor, sistem peperangan elektronik, komunikasi, dan informasi dari platform lain.

AI berpotensi membantu menyaring informasi tersebut agar beban kerja kru berkurang.

Namun, memasukkan AI ke jet tempur jauh lebih rumit dibandingkan menjalankannya di pusat data.

Dassault menyebut kualitas data operasional, data simulasi, penggabungan berbagai keahlian teknis, serta keterbatasan kemampuan komputasi di dalam pesawat sebagai sejumlah tantangan utama.

Karena itu, keberhasilan membawa algoritma dari laboratorium hingga dapat diuji di Rafale yang benar-benar terbang menjadi tahapan penting.

Dassault dan Thales Siapkan AI Tempur

Uji terbang tersebut juga bukan proyek yang berdiri sendiri.

Dassault Aviation dan Thales telah menandatangani kemitraan strategis pada November 2025. Keduanya sepakat mengembangkan AI berdaulat untuk penerbangan militer.

AI tersebut dirancang tetap terkendali dan berada di bawah pengawasan manusia.

Program itu mencakup pesawat berawak maupun tanpa awak. Bidang yang diteliti meliputi observasi, analisis situasi, dukungan pengambilan keputusan, perencanaan, hingga kendali dalam operasi militer.

Chief Technical Officer Dassault Aviation Pascale Lohat menyebut kerja sama tersebut sebagai upaya membangun “AI yang dapat dipercaya, berdaulat, dan terkendali untuk angkatan bersenjata”.

Meski demikian, daftar kemampuan tersebut merupakan ruang lingkup program Dassault-Thales secara keseluruhan.

Tidak berarti seluruh kemampuan itu sudah diterapkan pada dua AI yang diterbangkan bersama Rafale pada September 2026.

Dassault belum mengatakan apakah kedua algoritma tersebut digunakan untuk membaca data sensor, membantu navigasi, mengelola misi, mengurangi beban kerja pilot, atau menjalankan fungsi lain.

Itu masih menjadi bagian yang dirahasiakan.

Bakal Masuk Rafale F5?

Pertanyaan lain kemudian muncul. Apakah dua AI tersebut disiapkan untuk Rafale F5?

Belum ada jawaban pasti.

Dassault hanya menyatakan algoritma tersebut telah cukup matang untuk dipertimbangkan dalam peningkatan Rafale pada masa mendatang.

Perusahaan tidak secara khusus menyebut Rafale F5.

Meski begitu, F5 memang menjadi evolusi besar berikutnya dari keluarga Rafale.

Dalam paparan pada Juli 2026, Trappier menjelaskan bahwa F5 akan membawa sejumlah perubahan besar. Di antaranya radar baru, sistem penanggulangan ancaman baru, perangkat elektronik dan komputer baru, pengembangan mesin, serta kemampuan pertempuran kolaboratif.

AI juga menjadi bagian dari arah pengembangan kokpit.

Direction générale de l'armement (DGA), badan pengadaan pertahanan Prancis, pada 10 September 2026 juga mengumumkan pemberian sejumlah kontrak awal kepada Dassault Aviation, Thales, Safran, dan MBDA sebagai bagian dari persiapan Rafale F5.

Pengembangan penuh F5 direncanakan dimulai pada akhir 2026.

DGA menargetkan standar tersebut memperoleh kualifikasi sekitar 2033.

Salah satu perubahan penting pada F5 adalah arsitektur sistem misi yang lebih terbuka. Rafale juga akan semakin diarahkan untuk menjalankan konsep pertempuran kolaboratif.

Artinya, pesawat tidak lagi bertempur sendirian. Rafale akan bertukar informasi dan bekerja bersama sensor maupun platform lain.

AI berpotensi menjadi salah satu teknologi yang membantu mengelola jaringan tersebut.

Namun, sejauh ini belum ada bukti publik bahwa dua algoritma yang diuji pada September 2026 sudah dipilih untuk konfigurasi Rafale F5.

Rafale Sudah Terbang Bersama Drone

Gambaran mengenai pertempuran kolaboratif itu sebenarnya sudah mulai terlihat.

Pada Juli 2026, Dassault Aviation dan Harmattan AI melakukan demonstrasi penerbangan yang melibatkan Rafale F4 dan pesawat tanpa awak dengan muatan peperangan elektronik NAMIB.

Dalam demonstrasi tersebut, NAMIB mendeteksi serta menentukan lokasi radar dari jarak puluhan kilometer.

Informasi posisi radar kemudian dikirim ke Rafale. Pesawat tempur itu selanjutnya melakukan simulasi serangan terhadap sasaran.

Trappier menyebut demonstrasi tersebut memperlihatkan “kemampuan pertempuran kolaboratif multidomain Rafale yang nyata dan konkret”.

NAMIB bukan bagian dari dua algoritma AI yang diumumkan pada September. Keduanya merupakan proyek berbeda.

Namun, arah pengembangannya berkaitan.

Rafale masa depan tidak hanya dirancang sebagai pesawat tempur yang bekerja sendiri. Pesawat itu dipersiapkan untuk beroperasi sebagai bagian dari jaringan yang terdiri atas manusia, sensor, algoritma, dan wahana tanpa awak.

Dassault juga telah bekerja sama dengan Harmattan AI untuk pengembangan AI tertanam dan teknologi otonomi bagi sistem tempur udara masa depan.

Amerika Sudah Biarkan AI Kendalikan F-16

Eksperimen serupa juga berlangsung di Amerika Serikat.

Hanya, fungsi AI pada program Amerika sudah dijelaskan lebih terbuka.

DARPA dan Angkatan Udara Amerika Serikat pada 16 Juli 2026 mengumumkan pengujian F-16 yang dimodifikasi dalam program Viper Experimentation and Next-generation Operations Model (VENOM).

Melalui VENOM, agen AI dapat mengendalikan penerbangan F-16 secara otonom.

Namun, pilot manusia tetap berada di kokpit.

Brigadir Jenderal James “Fangs” Valpiani, manajer program DARPA, mengatakan pengujian itu “memajukan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan tempur udara otonom yang dapat dipercaya”.

Pilot tetap memiliki kendali selama pengujian.

VENOM Autonomy Kit memungkinkan pilot berpindah dari kendali manusia ke kendali AI, atau sebaliknya. Pilot juga mengawasi perilaku AI selama penerbangan.

Konsep tersebut bahkan sudah ditegaskan Angkatan Udara AS sejak tahap awal program.

“Tidak akan pernah ada saat ketika pesawat VENOM hanya terbang sendiri tanpa keterlibatan manusia,” kata Letnan Kolonel Joe Gagnon dari 85th Test and Evaluation Squadron.

Program itu tidak berhenti pada satu pesawat.

DARPA ingin menggunakan armada VENOM untuk menguji beberapa agen AI sekaligus dalam skenario penerbangan langsung.

Target jangka panjangnya adalah memungkinkan seorang pilot manusia mengoordinasikan sejumlah pesawat tanpa awak.

Di titik inilah perbedaan antara program Amerika dan Rafale terlihat jelas.

DARPA secara terbuka menyatakan AI pada VENOM dapat mengendalikan F-16.

Dassault belum mengatakan bahwa dua algoritma yang diuji pada Rafale mempunyai kemampuan serupa.

Bagaimana dengan Rafale Indonesia?

Perkembangan ini juga penting bagi Indonesia. TNI Angkatan Udara kini menjadi salah satu operator Rafale.

Indonesia memesan total 42 Rafale dari Prancis.

Pengiriman mulai berlangsung pada 2026. Tiga pesawat pertama tiba pada Januari. Jumlah Rafale yang diserahkan kemudian bertambah seiring berjalannya program pengadaan.

Pesawat tersebut memperkuat Skadron Udara 12 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Namun, status Indonesia sebagai pengguna Rafale tidak otomatis membuat dua AI yang baru diuji itu akan dipasang pada pesawat TNI AU.

Hingga 24 September 2026, belum ada pengumuman resmi bahwa algoritma tersebut akan menjadi bagian dari konfigurasi Rafale Indonesia.

Dassault juga belum mengatakan teknologi itu akan ditawarkan kepada seluruh negara pengguna Rafale.

Status “layak dipertimbangkan untuk peningkatan Rafale pada masa mendatang” baru menunjukkan tingkat kematangan teknologi. Itu belum berarti teknologi tersebut telah masuk konfigurasi produksi.

Untuk sementara, satu hal sudah jelas.

Dassault telah berhasil membawa dua algoritma AI dari tahap pengembangan ke pengujian di udara menggunakan Rafale.

Satu dikembangkan sendiri. Satu lagi dibuat bersama Thales melalui cortAIx.

Namun, pertanyaan paling menarik masih tersisa.

Apa sebenarnya yang dilakukan kedua AI ketika Rafale berada di udara? Seberapa besar aksesnya terhadap sistem pesawat? Dan, Rafale standar mana yang akan menjadi pengguna pertamanya?

Dassault belum memberikan jawabannya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rafale Dassault Aviation AI jet tempur Rafale F5 kecerdasan buatan