Setelah GSM-R, Seberapa Siap Perkeretaapian Indonesia Masuk Era Komunikasi Kereta Berbasis 5G?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 16:48 WIB
Migrasi menuju komunikasi kereta berbasis 5G membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan sinyal seluler, termasuk spektrum, cakupan kontinu, redundansi, dan integrasi dengan sistem lama. (KCIC)
Migrasi menuju komunikasi kereta berbasis 5G membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan sinyal seluler, termasuk spektrum, cakupan kontinu, redundansi, dan integrasi dengan sistem lama. (KCIC)

RADAR BANYUWANGI – Indonesia sudah mengoperasikan GSM-R pada Kereta Cepat Whoosh dan sedang memperluas ekosistem 5G nasional. Namun, dua hal itu belum otomatis berarti jaringan kereta Indonesia siap berpindah ke komunikasi berbasis 5G.

Migrasi tersebut bukan sekadar mengganti radio lama dengan perangkat 5G. Spektrum, cakupan sepanjang lintasan, jaringan inti, perangkat di kereta, redundansi, hingga mekanisme ketika jaringan gagal harus dipersiapkan sebagai satu sistem.

Di Eropa, penerus GSM-R dikembangkan sebagai Future Railway Mobile Communication System (FRMCS).

"FRMCS adalah sistem telekomunikasi perkeretaapian masa depan yang dirancang sebagai penerus GSM-R sekaligus penggerak digitalisasi transportasi kereta," demikian penjelasan dari UIC.

Namun, bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia Tidak Punya Satu GSM-R Nasional

Istilah migrasi dari GSM-R harus digunakan hati-hati. Sistem radio perkeretaapian Indonesia saat ini sangat beragam.

Pemetaan Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Semarang mencatat Commuter Line menggunakan TETRA dan DMR. MRT Jakarta dan sejumlah LRT menggunakan TETRA untuk komunikasi suara serta jaringan terpisah untuk CBTC. Kereta jarak jauh KAI masih menggunakan radio analog dan DMR, sedangkan Whoosh menggunakan GSM-R.

Artinya, Indonesia tidak sedang menghadapi satu proyek penggantian GSM-R nasional.

Itu bisa menjadi keuntungan. Koridor baru berpeluang langsung dirancang menggunakan arsitektur komunikasi berbasis IP dan generasi yang lebih baru tanpa harus membangun GSM-R lebih dulu.

Namun, migrasi juga menjadi lebih kompleks karena titik awal setiap lintas berbeda.

Kementerian Perhubungan mencatat jaringan kereta aktif Indonesia mencapai sekitar 6.927 kilometer per Juni 2026. Jaringan itu tersebar di sejumlah pulau dan masih direncanakan berkembang hingga 10.524 kilometer.

Whoosh Jadi Laboratorium Penting

Pengalaman paling relevan datang dari Whoosh.

Laporan Tahunan Telkomsel menyebut GSM-R Whoosh memakai frekuensi 891–895 MHz untuk uplink dan 936–940 MHz untuk downlink melalui kerja sama penggunaan bersama spektrum 900 MHz Telkomsel-KCIC. Perjanjian tersebut berlaku hingga Desember 2030.

Namun, 2030 bukan berarti GSM-R harus dimatikan setelah tanggal tersebut. Masa berakhirnya kerja sama itu lebih tepat dibaca sebagai salah satu titik evaluasi untuk menentukan pengaturan spektrum berikutnya.

Sensitivitas komunikasi kereta terhadap spektrum sudah terlihat sebelum Whoosh beroperasi. Pada Juli 2023, KCIC bersama pemerintah, Telkomsel, dan Indosat melakukan pengukuran sepanjang lintasan guna memastikan GSM-R tidak mengalami interferensi.

“Hasil pengukuran akan ditindaklanjuti untuk memastikan frekuensi GSM-R yang digunakan tidak terintervensi jaringan sinyal komunikasi lain,” ujar Manager Corporate Communication KCIC saat itu, Emir Monti.

5G Publik Belum Sama dengan 5G untuk Kereta

Modal Indonesia bertambah pada 2026 setelah pemerintah menyelesaikan seleksi pita 700 MHz dan 2,6 GHz.

Pemenang seleksi diwajibkan menyediakan layanan 5G hingga sedikitnya 51 persen cakupan populasi nasional dalam lima tahun. Pita 700 MHz memiliki karakter jangkauan luas, sedangkan 2,6 GHz menyediakan kapasitas lebih besar.

Tetapi, cakupan populasi berbeda dengan cakupan lintasan kereta.

Rel dapat melewati sawah, perkebunan, pegunungan, terowongan, dan kawasan berpenduduk jarang. Lokasi yang kurang ekonomis bagi jaringan seluler konsumen justru bisa menjadi titik yang tidak boleh kehilangan komunikasi bagi operasi kereta.

Laporan Opensignal Desember 2025 menunjukkan perbedaannya. Telkomsel memperoleh skor 5G Coverage Experience tertinggi, tetapi hanya 0,23 dari skala 10. Angka tersebut tidak dapat disamakan dengan persentase wilayah, tetapi menunjukkan jejak pengalaman 5G masih jauh lebih terbatas daripada jaringan seluler secara keseluruhan.

Yang Dibutuhkan Bukan Hanya BTS

FRMCS juga bukan sekadar 5G di sisi radio.

Sistem tersebut mencakup jaringan inti, perangkat di kereta, aplikasi komunikasi kritis, Quality of Service, keamanan, serta mekanisme perpindahan antara jaringan.

UIC bahkan memasukkan lima skenario migrasi radio, di antaranya menggunakan pita 900 MHz, 1.900 MHz, keduanya, layanan operator seluler, atau konfigurasi hibrida.

Indonesia sendiri masih memiliki landasan regulasi berupa Permenhub Nomor 45 Tahun 2018 tentang Persyaratan Teknis Peralatan Telekomunikasi Perkeretaapian. Regulasi itu hingga September 2026 masih berstatus berlaku.

Namun, migrasi menuju sistem berbasis 5G nantinya membutuhkan aturan yang mampu mengakomodasi arsitektur baru, keamanan siber, layanan kritis, serta integrasi dengan sistem lama.

GSM-R dan Sistem Baru Akan Berjalan Bersamaan

Pengalaman Eropa menunjukkan migrasi tidak dilakukan dengan mematikan GSM-R pada satu hari kemudian menghidupkan FRMCS.

ETSI menerbitkan TS 103 792 pada Januari 2026 khusus mengenai interworking antara FRMCS dan GSM-R. Ini menunjukkan coexistence memang menjadi bagian dari persoalan teknis transisi.

Standardisasi FRMCS sendiri belum berhenti. UIC pada April 2026 menargetkan V3p pada November 2026, sedangkan spesifikasi V3 yang telah memperoleh persetujuan ERA ditargetkan pada Desember 2027.

UIC juga membuat panduan FRMCS-Transition bagi negara yang menghadapi keterbatasan spektrum 5G, jadwal pembangunan 5G nasional, atau biaya kepemilikan. Panduan itu bahkan memungkinkan prinsip layanan FRMCS diterapkan lebih dahulu melalui jaringan 4G berbasis IP.

Karena itu, Indonesia tidak perlu terburu-buru menetapkan tanggal “peluncuran FRMCS”.

Pekerjaan yang lebih mendesak adalah menentukan koridor prioritas, mengaudit cakupan radio, menyusun strategi spektrum, menyiapkan backbone dan catu daya redundan, menentukan peran operator seluler, serta memastikan perangkat di kereta dapat melewati wilayah dengan teknologi berbeda.

Fondasinya sudah ada. Whoosh memberi pengalaman GSM-R, jaringan kereta telah menggunakan berbagai radio digital, dan spektrum 5G nasional terus bertambah.

Namun, yang belum terlihat secara publik hingga September 2026 adalah roadmap nasional yang menyatukan semua komponen tersebut menjadi tahapan migrasi komunikasi perkeretaapian berbasis 5G.

Dalam komunikasi perkeretaapian, keberhasilan migrasi bukan ditentukan oleh seberapa cepat teknologi lama dimatikan, tetapi apakah kereta tetap beroperasi aman ketika jaringan lama dan baru harus hidup berdampingan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
teknologi perkeretaapian FRMCS GSM-R jaringan 5G Indonesia WHOOSH