Antrean Ketapang–Gilimanuk Bisa Lebih Terukur, Teknologi Ini Kenali Kendaraan sejak Gerbang

Daafi Adilla Achmad • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:23 WIB
BELUM TERURAI: Kepadatan kendaraan logistik mengular di depan pintu keluar Pelabuhan ASDP Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi, Selasa (1/9). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
BELUM TERURAI: Kepadatan kendaraan logistik mengular di depan pintu keluar Pelabuhan ASDP Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi, Selasa (1/9). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih menjadi persoalan. Ketika jumlah kendaraan yang datang lebih besar daripada kemampuan pelayanan terminal dan kapal, penumpukan dapat merambat hingga akses jalan dan membutuhkan pengaturan lalu lintas yang lebih kompleks.

Situasi semacam itu menjadi tantangan pada pelabuhan penyeberangan dengan layanan kapal Ro-Ro (Roll-On/Roll-Off). Kendaraan harus diperiksa, diarahkan ke jalur yang sesuai, ditempatkan di area tunggu bila belum dapat naik kapal, kemudian dipanggil kembali ketika proses boarding dimulai.

Karena itu, pengelolaan arus kendaraan tidak cukup hanya mengandalkan petugas dan kapasitas fisik pelabuhan. Data mengenai kendaraan yang datang, status check-in, jalur yang digunakan, hingga posisi kendaraan di area terminal dapat membantu operator mengambil keputusan secara lebih terukur.

Salah satu teknologi yang dirancang untuk kebutuhan tersebut adalah Smart Port berbasis Intelligent Transportation System (ITS). Sistem ini memungkinkan proses identifikasi dan pengelolaan kendaraan dilakukan dengan dukungan data digital sejak kendaraan memasuki kawasan pelabuhan.

Konsep Smart Port dikembangkan untuk menciptakan aliran kendaraan yang lebih transparan dan otomatis. Informasi kendaraan dikumpulkan pada sejumlah titik, kemudian dapat digunakan untuk mendukung proses check-in, penentuan jalur, hingga boarding.

Dengan cara tersebut, kendaraan tidak hanya tercatat sebagai objek yang datang ke pelabuhan. Data dari kendaraan dapat menjadi bagian dari sistem yang membantu menentukan ke mana kendaraan harus diarahkan berikutnya.

Mengenali kendaraan sebelum masuk terminal

Salah satu komponen penting dalam sistem tersebut adalah kamera ANPR atau Automatic Number Plate Recognition. Teknologi ini memungkinkan kamera mengenali nomor polisi kendaraan dan mengubah informasi visual tersebut menjadi data digital.

Data hasil pembacaan pelat kemudian dapat dibandingkan dengan informasi kendaraan yang telah terdaftar. Dengan demikian, sebagian proses identifikasi dan pemeriksaan dapat dilakukan secara otomatis.

Teknologi semacam ini menjadi relevan pada terminal Ro-Ro karena karakteristik operasionalnya berbeda dengan terminal peti kemas. Kendaraan dapat langsung bergerak masuk ke kapal melalui ramp, sehingga pengelola harus mengetahui kendaraan yang datang sekaligus menentukan jalur dan tujuan kendaraan tersebut.

Proses identifikasi juga dapat dimulai sebelum kendaraan mencapai area utama terminal melalui fasilitas Pre-Gate.

Pre-Gate pada dasarnya merupakan titik pemeriksaan awal. Kendaraan yang tiba dapat dikenali sebelum masuk lebih jauh ke kawasan pelabuhan. Sistem dapat dikonfigurasi menggunakan jalur tunggal berkecepatan tinggi maupun beberapa jalur sekaligus.

Menurut penjelasan yang disampaikan Hansabgroup melalui kanal YouTube-nya, area Pre-Gate digunakan untuk mendeteksi pelat nomor kendaraan, termasuk bagian depan dan belakang, sekaligus melakukan pengukuran dimensi dan mengambil gambar kendaraan dari beberapa sudut.

Pendekatan ini membuat pemeriksaan tidak harus sepenuhnya terkonsentrasi pada satu titik. Kendaraan dapat diproses sejak awal berdasarkan data yang telah diperoleh sistem.

Dari gerbang menuju jalur boarding

Identifikasi kendaraan hanyalah salah satu bagian dari sistem. Informasi yang dikumpulkan dapat digunakan untuk mengetahui status check-in, menentukan alokasi jalur, serta membantu proses boarding.

Hal ini penting karena kendaraan yang tiba di Pelabuhan Ketapang tidak selalu dapat langsung masuk ke kapal. Ketika kapasitas kapal belum tersedia, kendaraan perlu ditempatkan di area tunggu sampai mendapatkan giliran.

Dalam kondisi seperti itu, operator membutuhkan informasi mengenai kendaraan mana yang sudah melakukan check-in, kendaraan mana yang masih menunggu, serta kendaraan mana yang sudah dapat diarahkan menuju kapal.

Sistem informasi terintegrasi dapat membantu menghubungkan berbagai status tersebut. Dengan data yang lebih terpusat, operator memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi kendaraan di dalam terminal.

Konsep ini berupaya membuat perjalanan kendaraan dari gerbang hingga kapal menjadi satu rangkaian yang dapat dipantau.

Pergerakan kendaraan di ramp ikut dipantau

Tahap berikutnya adalah ketika kendaraan mulai bergerak menuju kapal. Pada bagian ini terdapat teknologi Ro-Ro Ferry Ramp Monitoring yang digunakan untuk memantau pergerakan kendaraan ketika memasuki atau meninggalkan kapal Ro-Ro.

Ramp merupakan area penting dalam proses bongkar-muat kendaraan. Informasi mengenai pergerakan kendaraan di area tersebut dapat membantu operator mengetahui perkembangan proses boarding secara lebih jelas.

Ketika operator memiliki informasi yang lebih baik mengenai kendaraan yang sedang bergerak di ramp, pengaturan kendaraan berikutnya dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan, selain berdasarkan perkiraan.

Teknologi tersebut pada akhirnya dapat mendukung kelancaran proses boarding dan bongkar muat. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada keseluruhan sistem operasional pelabuhan.

Data kendaraan dikumpulkan menjadi informasi operasional

Agar berbagai titik pemeriksaan tersebut dapat bekerja sebagai satu sistem, data kendaraan perlu dikelola secara terpusat.

Dalam solusi Smart Port yang dikembangkan oleh Adaptive Recognition, Globessey Data Server (GDS) digunakan untuk mendukung pengelolaan data. Fungsinya mencakup penyimpanan rekaman, pencarian data, visualisasi, serta replikasi data antarlokasi.

Bagi operator, pendekatan terpusat seperti ini dapat mempermudah pemantauan aktivitas kendaraan. Informasi dari gerbang, area pemeriksaan, jalur, hingga proses boarding dapat dihubungkan sehingga kondisi terminal dapat dipantau dengan lebih menyeluruh.

Digitalisasi juga dapat mengurangi ketergantungan pada pencatatan dan pengelolaan tiket secara manual pada tahapan tertentu.

Namun, teknologi tersebut tidak berarti menjadi solusi tunggal bagi persoalan antrean.

Smart Port tidak otomatis menghilangkan antrean

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Sistem digital dapat membuat proses identifikasi, pemeriksaan, dan pengaturan kendaraan lebih efisien, tetapi tidak dapat menghapus antrean apabila jumlah kendaraan tetap melampaui kapasitas pelayanan.

Jika jumlah kendaraan yang datang lebih banyak daripada kapasitas kapal, kendaraan tetap harus menunggu. Begitu pula apabila kapasitas area tunggu atau kemampuan boarding telah mencapai batas.

Karena itu, penerapan Smart Port perlu ditempatkan dalam strategi pengelolaan pelabuhan yang lebih besar.

Sistem reservasi, informasi jadwal, pengaturan jalur, buffer zone, kapasitas area tunggu, serta manajemen lalu lintas di kawasan pelabuhan tetap diperlukan. Teknologi berfungsi untuk menyediakan informasi dan membantu mengotomatisasi proses, sementara pengendalian kapasitas dan lalu lintas tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan terminal.

Persoalan tersebut menjadi relevan bagi Pelabuhan Ketapang karena terminal ini menjadi salah satu simpul penting mobilitas kendaraan dari Jawa menuju Bali. Ketika terjadi peningkatan arus kendaraan, kemampuan untuk mengetahui posisi dan status kendaraan secara cepat dapat membantu operator mengelola pergerakan di dalam kawasan pelabuhan.

Dengan demikian, manfaat teknologi tidak semata-mata membuat kendaraan lebih cepat melewati gerbang. Nilai pentingnya terletak pada kemampuan memberikan informasi mengenai kendaraan sejak kedatangan hingga proses boarding.

Digitalisasi juga membawa tantangan keamanan

Semakin banyak proses pelabuhan yang menggunakan sistem digital, semakin besar pula kebutuhan untuk melindungi infrastruktur dan data.

Informasi kendaraan, sistem tiket, jaringan komunikasi, kamera, server, dan berbagai perangkat yang saling terhubung menjadi bagian dari ekosistem digital pelabuhan. Gangguan terhadap sistem tersebut dapat berdampak pada operasional apabila tidak disiapkan dengan baik.

Karena itu, digitalisasi pelabuhan perlu berjalan bersama dengan pengamanan siber, pengelolaan akses, perlindungan data, serta kesiapan pemulihan apabila terjadi gangguan.

Bagi pelabuhan penyeberangan seperti Ketapang, teknologi Smart Port dapat dilihat sebagai salah satu instrumen untuk membuat pengelolaan kendaraan lebih terukur. Kamera dapat mengenali kendaraan, sistem dapat menghubungkan data check-in dengan jalur dan boarding, sementara pemantauan ramp memberikan informasi mengenai pergerakan kendaraan menuju kapal.

Namun, teknologi bukan pengganti kapasitas kapal dan bukan pula pengganti manajemen lalu lintas.

Jika diterapkan bersama pengaturan jadwal, sistem reservasi, area penyangga, kapasitas pelayanan, serta manajemen lalu lintas yang memadai, digitalisasi dapat membantu operator melihat arus kendaraan sebagai satu rangkaian yang saling terhubung.

Bagi pengguna jasa penyeberangan di Banyuwangi, manfaatnya tak hanya dikarenakan adanya kamera atau sistem otomatis di gerbang. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh teknologi tersebut digunakan untuk membuat perjalanan kendaraan dari akses pelabuhan, pemeriksaan, area tunggu, hingga naik ke kapal menjadi lebih tertata dan dapat dipantau.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Smart Port ITS