Gen Z Mulai Tinggalkan WhatsApp, Kirim Pesan Kini Pakai Merpati

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Carrier Pidge memungkinkan pengguna mengirim pesan menggunakan “burung” digital. (Instagram @pandemictalk)
Carrier Pidge memungkinkan pengguna mengirim pesan menggunakan “burung” digital. (Instagram @pandemictalk)

RADAR BANYUWANGI – Ketika WhatsApp, iMessage, dan Telegram berlomba membuat pesan tiba dalam hitungan detik, sebagian Generasi Z justru memilih jalan sebaliknya. Mereka mulai tertarik pada aplikasi yang sengaja memperlambat pesan, bahkan dengan risiko 0,2 persen pesan tidak pernah sampai. Fenomena ini muncul lewat aplikasi Carrier Pidge dan Roost yang mengubah berkirim pesan menjadi aktivitas menunggu.

Tren tersebut dikutip dari laporan Yahoo Tech, Jumat (28/8/2026). Carrier Pidge dan Roost menawarkan pengalaman komunikasi yang terasa seperti kembali ke zaman ketika pesan belum bisa berpindah dari satu benua ke benua lain dalam sekejap.

Alih-alih langsung masuk ke kotak pesan penerima, chat yang dikirim pengguna akan dibawa oleh burung merpati virtual. Burung tersebut digambarkan terbang menuju lokasi penerima dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam.

Untuk jarak dekat, pesan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun, jika dikirim lintas benua, penerima bisa menunggu hingga berjam-jam sebelum pesan tiba.

Yang membuatnya semakin unik, perjalanan tersebut tidak selalu berakhir sukses. Ada kemungkinan sekitar 0,2 persen merpati virtual “hilang” sehingga pesan yang dikirim tidak pernah sampai kepada penerima.

Bukan Praktis, Justru Itu Daya Tariknya

Carrier Pidge dikembangkan Noah Iarrobino dan disebut dibuat hanya dalam waktu sekitar tiga minggu. Sang pengembang bahkan tidak berusaha menjual aplikasinya sebagai teknologi komunikasi revolusioner.

Sebaliknya, dalam keterangan di toko aplikasi, aplikasi tersebut secara terang-terangan disebut “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis”.

Justru ketidakpraktisan itulah yang menjadi daya tarik.

Pengguna tidak lagi sekadar menekan tombol kirim, lalu beberapa detik kemudian mendapatkan tanda pesan telah diterima. Mereka bisa melihat perjalanan burung di peta sambil menunggu pesan mencapai tujuan.

Sensasi tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan aplikasi pesan instan yang selama ini mendominasi kehidupan sehari-hari.

Di WhatsApp, Telegram, maupun iMessage, kecepatan telah menjadi standar. Pesan terkirim seketika, notifikasi muncul hampir tanpa jeda, dan percakapan bergerak dengan ritme yang nyaris tidak memberi ruang untuk berhenti.

Carrier Pidge justru menjadikan jeda sebagai fitur.

Menunggu Malah Terasa Menyenangkan

Ada sesuatu yang hilang ketika komunikasi menjadi terlalu mudah: rasa menunggu.

Pada aplikasi pesan instan, sebuah pesan sering kali muncul begitu saja di layar dan beberapa saat kemudian dilupakan. Bahkan, kecepatan komunikasi kadang berubah menjadi tekanan sosial.

Pesan yang belum dibalas bisa memunculkan pertanyaan. Mengapa belum dibaca? Mengapa sudah dibaca tetapi belum dijawab? Mengapa seseorang yang biasanya cepat membalas tiba-tiba diam?

Konsep merpati virtual secara tidak langsung menghilangkan sebagian tekanan tersebut.

Ketika pengirim mengetahui bahwa pesan masih “terbang” menuju penerima, tidak ada tuntutan untuk mendapatkan balasan dalam hitungan detik. Penerima pun memiliki waktu lebih panjang untuk membaca dan memikirkan jawabannya.

Komunikasi menjadi lebih lambat, tetapi sekaligus terasa lebih disengaja.

Fenomena itu bukan hanya muncul dari satu aplikasi. Roost, aplikasi lain dengan konsep serupa, disebut telah mengumpulkan sekitar 300 ribu pengguna hanya beberapa minggu setelah diluncurkan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa konsep komunikasi lambat bukan sekadar lelucon teknologi.

Ketika Lambat Menjadi Kemewahan

Di tengah budaya digital yang menuntut semuanya serba cepat, muncul paradoks baru. Manusia ternyata tidak selalu membutuhkan teknologi yang membuat segala sesuatu berlangsung lebih cepat.

Justru ketika kecepatan menjadi standar, sesuatu yang lambat bisa terasa lebih berharga.

Pesan yang membutuhkan waktu untuk sampai memberikan ruang bagi pengirim untuk berpikir sebelum menulis. Penerima pun tidak selalu merasa harus segera merespons.

Pada titik inilah Carrier Pidge dan Roost menjadi lebih dari sekadar aplikasi unik.

Keduanya mencerminkan kegelisahan terhadap budaya komunikasi instan yang membuat orang terus terhubung, tetapi belum tentu merasa lebih dekat. Notifikasi datang tanpa henti, percakapan berlangsung sepanjang hari, sementara perhatian manusia semakin terbagi.

Dengan memperlambat pesan, aplikasi tersebut menawarkan pengalaman yang hampir terlupakan: menunggu seseorang mengirim kabar.

Teknologi memang bisa membuat pesan menempuh jarak ribuan kilometer dalam sekejap. Namun, tren merpati virtual menunjukkan bahwa bagi sebagian pengguna, terutama generasi muda, nilai sebuah pesan mungkin bukan lagi terletak pada seberapa cepat pesan itu sampai.

Kadang, justru perjalanan menuju pesan itulah yang membuat komunikasi terasa lebih berarti. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Merpati virtual Aplikasi chat Pesan lambat Tren teknologi Gen Z