AINAKI Nilai AI Bakal Ubah Proses Kerja Industri Animasi, Bukan Gantikan Peran Animator

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Ketua Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) Daryl Wilson menjelaskan dampak perkembangan AI terhadap proses kerja industri animasi dan menegaskan pentingnya peran manusia dalam menentukan hasil akhir produksi. (BINUS UNIVERSITY)
Ketua Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) Daryl Wilson menjelaskan dampak perkembangan AI terhadap proses kerja industri animasi dan menegaskan pentingnya peran manusia dalam menentukan hasil akhir produksi. (BINUS UNIVERSITY)

RADAR BANYUWANGI - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai membawa perubahan pada cara kerja industri animasi.

Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) menilai teknologi tersebut akan memengaruhi berbagai tahapan produksi, tetapi kehadirannya tidak otomatis menghilangkan peran animator dan tenaga profesional di dalamnya.

Ketua AINAKI Daryl Wilson mengatakan AI lebih tepat dipandang sebagai perangkat pendukung yang dapat membantu mempercepat dan mengembangkan proses produksi.

Menurutnya, manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan, sekaligus menilai apakah hasil yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan karya.

"Dengan pengembangan AI yang dalam waktu singkat aja berkembangnya dahsyat, yakin pasti memberikan dampak kepada industri dan khususnya ke profesi ini, tapi, saya melihat AI tidak menggantikan manusianya," kata Daryl saat berkunjung ke ANTARA Heritage Center, Jakarta, Selasa (25/8).

Daryl yang juga dikenal sebagai sutradara animasi pada proyek film dan seri "Si Juki" menjelaskan, pihaknya telah melakukan riset penggunaan AI di sejumlah bagian pekerjaan studio.

Pengujian tersebut mencakup beberapa tahapan, mulai dari pengembangan cerita, perancangan desain, hingga pembuatan storyboard.

Timnya juga mencoba menyusun sampel dan proyek percontohan untuk melihat bagaimana AI dapat ditempatkan dalam alur kerja produksi atau pipeline animasi.

Dari proses tersebut, menurut Daryl, terlihat bahwa kualitas hasil AI sangat dipengaruhi oleh informasi dan arahan yang diberikan oleh penggunanya.

"AI akan pintar kalau penggunanya bisa memberikan informasi yang benar, dan ketika AI menghasilkan usulan, misalnya, itu pun harus kita nilai sampai akhirnya itu sesuai dengan apa yang kita mau. Jadi, tetap pada akhirnya keputusannya itu adalah keputusan manusia juga ketika kita menggunakan AI," ujarnya.

Ia menekankan bahwa produksi animasi memiliki kebutuhan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar membuat gambar atau video.

Sejumlah keputusan kreatif dan teknis tetap harus ditentukan secara cermat, seperti rancangan karakter, pakaian, jenis objek, sudut kamera, hingga emosi yang ingin disampaikan dalam sebuah adegan.

Karena itu, pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan profesional masih menjadi faktor penting dalam menghasilkan karya yang memenuhi standar produksi.

Ketika teknologi belum mampu menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan, pengerjaan secara manual tetap diperlukan sebagai bagian dari proses.

Daryl menggambarkan perubahan akibat AI seperti kemunculan alat pemotong otomatis yang membuat pekerjaan menjadi berbeda, tetapi tidak menghapus kebutuhan terhadap pengetahuan mengenai material dan teknik penggunaannya.

"Begitu dia belajar alat baru itu bisa dia terapkan dengan pengetahuan yang dia punya sebelumnya, dan akan menghasilkan karya yang juga bisa bagus, jadi sekali lagi saya melihat itu alat, proses kerjanya saja nanti yang akan berbeda," kata Daryl.

Menurut AINAKI, perubahan teknologi tersebut justru menuntut pekerja animasi untuk memiliki kemampuan beradaptasi.

Pemahaman terhadap AI perlu berjalan beriringan dengan penguasaan dasar-dasar produksi dan keterampilan kreatif yang selama ini menjadi fondasi pekerjaan animator.

Dengan pendekatan tersebut, AI berpotensi menjadi bagian dari transformasi proses kerja di industri animasi Indonesia.

Namun, arah kreatif, penilaian kualitas, serta keputusan akhir tetap berada pada manusia yang memahami tujuan dan kebutuhan sebuah produksi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Teknologi kecerdasan artifisial AI industri animasi AINAKI animator Indonesia industri kreatif