Robot China Pecahkan Rekor Usain Bolt dan Van Niekerk di Beijing

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Kiri: Robot-robot beradu cepat dalam lomba lari 400 meter pada World Humanoid Robot Games di Beijing, 22 Agustus 2026. Kanan: Robot-robot bermain sepak bola dalam pertandingan ekshibisi. (Kyodo)
Kiri: Robot-robot beradu cepat dalam lomba lari 400 meter pada World Humanoid Robot Games di Beijing, 22 Agustus 2026. Kanan: Robot-robot bermain sepak bola dalam pertandingan ekshibisi. (Kyodo)

RADAR BANYUWANGI — Robot humanoid Tiongkok membuat kejutan besar di World Humanoid Robot Games 2026. Robot Tien Kung Ultra mencatat waktu 9,32 detik pada nomor 100 meter dan 38,15 detik di 400 meter, lebih cepat daripada rekor dunia manusia milik Usain Bolt dan Wayde van Niekerk. Namun, kecanggihan itu datang dengan catatan dramatis: usai finis 100 meter, robot tersebut menabrak matras pengaman dan terbakar.

Prestasi itu tercipta dalam ajang World Humanoid Robot Games yang digelar di Beijing, Tiongkok, selama lima hari mulai Sabtu (22/8). Kompetisi tersebut mempertemukan lebih dari 2.000 robot humanoid dari 660 tim dan 16 negara.

Bagi dunia robotika, catatan Tien Kung Ultra bukan sekadar kemenangan di arena olahraga. Kompetisi tersebut menjadi laboratorium terbuka untuk menguji seberapa jauh robot berkaki dua mampu bergerak, menjaga keseimbangan, mengambil keputusan, hingga menjalankan tugas yang menyerupai aktivitas manusia.

Tien Kung Ultra Berlari Lebih Cepat dari Usain Bolt

Sorotan terbesar datang dari Tien Kung Ultra, robot humanoid yang dikembangkan Beijing Innovation Center of Humanoid Robotics Co.

Pada babak penyisihan 100 meter, Sabtu (22/8), robot tersebut mencatat waktu 9,32 detik.

Angka itu lebih cepat daripada rekor dunia 100 meter manusia milik Usain Bolt yang membukukan 9,58 detik di Berlin pada 2009.

Selisihnya mencapai 0,26 detik.

Namun, kemenangan teknologi itu tidak berlangsung mulus.

Setelah melewati garis finis, Tien Kung Ultra melaju menuju matras yang disiapkan untuk mengurangi kecepatannya. Robot tersebut justru menabrak matras hingga mengalami insiden dan kemudian terbakar.

Peristiwa itu sekaligus menunjukkan sisi lain dari perkembangan robot humanoid: kemampuan bergerak semakin cepat, tetapi pengendalian gerak dan keselamatan masih menjadi tantangan besar.

Rekor 400 Meter Juga Tumbang

Tien Kung Ultra tidak berhenti pada nomor 100 meter.

Robot yang sama kembali menunjukkan performa spektakuler pada final 400 meter, Minggu (23/8).

Waktunya bahkan lebih mencolok, yakni 38,15 detik.

Catatan tersebut berada jauh di bawah rekor dunia 400 meter manusia milik Wayde van Niekerk.

Van Niekerk mencatat 43,03 detik ketika meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Dengan demikian, Tien Kung Ultra bukan hanya mengalahkan satu rekor manusia. Dalam dua nomor lari, robot tersebut menunjukkan bahwa mesin berkaki dua dapat mencapai kecepatan yang secara angka melampaui pencapaian manusia.

Meski demikian, perbandingan tersebut tetap harus dibaca dalam konteks berbeda. Robot dan manusia memiliki rancangan mekanis, bobot, sistem tenaga, serta mekanisme gerak yang tidak sama.

Lebih dari 2.000 Robot Ikut Bertanding

World Humanoid Robot Games 2026 menjadi salah satu ajang terbesar yang mempertemukan robot humanoid dari berbagai negara.

Tahun ini, lebih dari 2.000 robot dari 660 tim ambil bagian. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan penyelenggaraan perdana di Beijing pada Agustus 2025 yang diikuti sekitar 280 tim.

Sekitar 90 persen peserta berasal dari Tiongkok.

Brasil, Jerman, dan Amerika Serikat juga mengirimkan tim. Jepang turut ambil bagian melalui GMO Internet Group dengan robot yang dikembangkan Unitree Robotics asal Tiongkok.

Robot-robot tersebut tidak hanya mengikuti lomba lari.

Berbagai cabang olahraga dipertandingkan, mulai dari sepak bola, tinju, tenis meja, angkat beban hingga tarik tambang.

Ada pula pertandingan untuk robot berukuran kecil.

Dalam salah satu perlombaan 400 meter, robot milik GMO Internet Group memang belum mampu menjadi juara. Robot tersebut bahkan membutuhkan waktu lebih dari 1 menit 55 detik untuk mencapai garis finis sebelum akhirnya roboh dan dievakuasi menggunakan tandu.

Robot Tidak Dibuat Hanya untuk Menang Balapan

Menariknya, bagi sebagian pengembang, kemenangan di arena bukan tujuan utama.

Shota Takizawa, senior research engineer GMO, mengatakan perusahaan tidak mengembangkan robot semata-mata untuk menjadi mesin balap.

Pengetahuan yang diperoleh dari kompetisi justru diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan robot yang lebih berguna dalam kehidupan nyata.

Artinya, setiap jatuh, kehilangan keseimbangan, gagal menyelesaikan lomba, atau kesulitan bergerak menjadi data.

Data tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki sistem kontrol, mekanisme keseimbangan, desain perangkat keras, hingga kemampuan robot beradaptasi terhadap lingkungan.

Arena olahraga akhirnya berubah menjadi ruang pengujian teknologi.

Dari Sepak Bola hingga Pekerjaan Kantor

World Humanoid Robot Games juga tidak sekadar mempertontonkan robot berlari.

Kompetisi digelar di National Speed Skating Oval, salah satu venue yang digunakan dalam Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.

Selain olahraga, terdapat kompetisi berbasis skenario yang dirancang untuk menguji kemampuan robot dalam situasi kehidupan nyata.

Skenario tersebut mencakup pekerjaan di sektor ritel, katering, hingga layanan perkantoran.

Pada hari pembukaan, penyelenggara juga menghadirkan pertandingan sepak bola ekshibisi serta demonstrasi olahraga seperti tenis dan tenis meja yang mempertemukan manusia dengan robot.

Pesannya cukup jelas.

Pengembangan robot humanoid kini mulai bergerak dari sekadar demonstrasi teknologi menuju pengujian kemampuan untuk bekerja berdampingan dengan manusia.

China Makin Agresif Mengembangkan Robot Humanoid

World Humanoid Robot Games juga memperlihatkan besarnya ekosistem robotika Tiongkok.

Dominasi peserta domestik menjadi indikator bahwa pengembangan robot humanoid di negara tersebut tidak lagi sebatas proyek eksperimental sejumlah perusahaan.

Kompetisi semacam ini menciptakan ruang bagi pengembang untuk menguji teknologi dalam kondisi yang lebih dinamis.

Robot harus bergerak cepat, menjaga keseimbangan, merespons perubahan, dan menyelesaikan tugas dalam waktu tertentu.

Hal serupa sebelumnya terlihat pada April 2026 ketika Beijing menggelar half marathon yang melibatkan robot humanoid dan pelari amatir.

Robot pemenang mencatat waktu 50 menit 26 detik, yang dilaporkan melampaui rekor dunia manusia untuk nomor half marathon.

Rekor Tumbang, Tantangan Belum Selesai

Keberhasilan Tien Kung Ultra mencatat waktu 9,32 detik di 100 meter dan 38,15 detik di 400 meter memang spektakuler.

Namun, insiden terbakar setelah finis juga menjadi pengingat bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran kematangan teknologi robot humanoid.

Robot masa depan tidak cukup hanya mampu berlari cepat.

Ia harus mampu berhenti dengan aman, menjaga keseimbangan, menghindari benturan, bekerja dalam lingkungan manusia, dan menjalankan tugas secara konsisten.

Karena itu, World Humanoid Robot Games 2026 mungkin tidak sekadar sedang mencari robot tercepat.

Kompetisi ini sedang memperlihatkan seberapa dekat robot humanoid dengan dunia nyata—dan sekaligus menunjukkan bahwa semakin cepat robot berkembang, semakin besar pula tantangan untuk membuatnya aman, stabil, dan benar-benar berguna. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com
Robot humanoid Robot China Usain Bolt Rekor robot Robot Tiongkok