Dari Gagal Menangkap Radiasi Lubang Hitam hingga Melahirkan Wi-Fi, Begini Jejak Riset Dr. John O'Sullivan

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:02 WIB
Teknologi Wi-Fi memiliki jejak sejarah yang berkaitan dengan riset astronomi. (Pexels/Helena Lopes)
Teknologi Wi-Fi memiliki jejak sejarah yang berkaitan dengan riset astronomi. (Pexels/Helena Lopes)

RADAR BANYUWANGI - Sulit membayangkan koneksi Wi-Fi yang digunakan setiap hari memiliki kaitan dengan penelitian astronomi tentang lubang hitam. Namun, teknologi yang kini menjadi bagian penting dalam kehidupan digital itu ternyata memiliki jejak sejarah dari riset yang semula tidak mencapai hasil sesuai harapan.

Kisah tersebut berkaitan dengan astronom asal Australia, Dr. John O'Sullivan. Pada dekade 1970-an, ia bersama tim peneliti mengembangkan pendekatan matematis untuk membantu memilah sinyal yang berasal dari luar angkasa dari gangguan gelombang yang muncul dalam pengamatan.

Penelitian itu berkaitan dengan upaya mendeteksi radiasi yang diperkirakan berkaitan dengan lubang hitam. Pada masa tersebut, kemampuan perangkat belum memadai untuk menangkap sinyal yang sangat lemah. Upaya itu akhirnya tidak menghasilkan temuan yang diharapkan.

Meski demikian, hasil pengembangan algoritma tersebut tidak berhenti begitu saja. Salah satu teknologi matematika yang digunakan, Fast Fourier Transform (FFT), kelak menemukan penerapan berbeda ketika kebutuhan terhadap komunikasi nirkabel mulai berkembang.

Memasuki era 1980-an, para peneliti menghadapi persoalan serius dalam pengembangan jaringan nirkabel. Sinyal radio yang dikirim di dalam ruangan dapat memantul dari berbagai permukaan. Pantulan tersebut menimbulkan gangguan dan membuat data yang dikirim menjadi sulit diterima secara akurat.

O'Sullivan dan timnya di Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) kemudian melihat adanya kemiripan matematis antara persoalan pantulan sinyal radio di dalam ruangan dengan gangguan yang sebelumnya ditemui dalam pengolahan sinyal astronomi.

Pendekatan yang awalnya dikembangkan untuk kebutuhan penelitian antariksa itu lantas diadaptasi. Teknologi tersebut membantu mengatasi persoalan pengolahan sinyal pada komunikasi nirkabel dan menjadi bagian penting dari pengembangan teknologi yang kemudian dikenal luas sebagai Wi-Fi.

Kisah ini kembali dibahas oleh edukator sains Fajrul Fx melalui kanal YouTube miliknya pada Selasa (5/5). Ia menyoroti bagaimana sebuah penelitian yang tidak mencapai tujuan awal justru dapat menghasilkan manfaat besar ketika diterapkan pada persoalan berbeda.

"Penemuan besar kadang tidak datang dari hasil yang langsung sempurna, tapi justru bisa datang dari kegagalan," ujar Fajrul dalam unggahannya.

Menurutnya, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa hasil penelitian tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan tujuan awalnya. Temuan yang pada satu bidang dianggap belum berhasil bisa memiliki nilai besar ketika dikembangkan untuk kebutuhan lain.

Kini, teknologi Wi-Fi telah menjadi salah satu fondasi konektivitas nirkabel modern. Jaringan tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, pembelajaran, pekerjaan, hingga mengakses beragam layanan digital.

Jejak sejarahnya memberikan gambaran menarik tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat berkembang melalui proses yang panjang. Sebuah riset untuk memahami fenomena kosmik yang tidak berhasil mendeteksi targetnya justru ikut membuka jalan bagi teknologi yang menghubungkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Dari upaya membaca sinyal yang sangat jauh di alam semesta, lahirlah pengetahuan yang kemudian membantu manusia mengelola sinyal di ruang-ruang tempat mereka beraktivitas. Sebuah kegagalan dalam penelitian astronomi pada akhirnya memiliki dampak yang jauh melampaui tujuan awalnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : YouTube Fajrul Fx
Wi-Fi John O'Sullivan CSIRO Fast Fourier Transform lubang hitam