RADAR BANYUWANGI - Upaya mengurangi emisi karbon di sektor transportasi terus melahirkan inovasi baru.
Salah satu yang kini mulai memasuki tahap operasional adalah kereta bertenaga hidrogen.
Setelah sukses diterapkan di Jerman, India pada Juli 2026 resmi mengoperasikan kereta hidrogen pertamanya sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada lokomotif diesel di jalur non-elektrifikasi.
Teknologi ini menjadi perhatian karena mampu menggerakkan kereta tanpa menghasilkan emisi karbon langsung.
Berbeda dengan lokomotif diesel yang membakar bahan bakar fosil, kereta hidrogen hanya menghasilkan uap air sebagai emisi dari proses operasionalnya.
Kehadirannya dipandang sebagai salah satu solusi menuju transportasi rel yang lebih bersih sekaligus mendukung target dekarbonisasi di berbagai negara.
Kereta hidrogen memanfaatkan gas hidrogen sebagai sumber energi utama melalui fuel cell atau sel bahan bakar.
Hidrogen disimpan di dalam tangki bertekanan tinggi yang ditempatkan pada rangkaian kereta, kemudian dialirkan menuju fuel cell.
Di dalam perangkat tersebut terjadi reaksi elektrokimia antara hidrogen dan oksigen dari udara.
Proses itu menghasilkan listrik, panas, dan uap air.
Listrik kemudian digunakan untuk menggerakkan motor traksi, sedangkan energi dari pengereman regeneratif disimpan dalam baterai untuk digunakan kembali saat kereta berakselerasi.
Sistem tersebut membuat pemanfaatan energi menjadi lebih efisien dibandingkan pembakaran bahan bakar fosil secara langsung.
Selain itu, suara operasional kereta juga lebih senyap karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal seperti lokomotif diesel.
Keunggulan utama kereta hidrogen adalah kemampuannya menekan emisi karbon, terutama apabila menggunakan green hydrogen, yakni hidrogen yang diproduksi melalui proses elektrolisis menggunakan listrik dari energi terbarukan seperti tenaga surya maupun angin.
Selain hanya menghasilkan uap air, kereta hidrogen juga menawarkan sejumlah kelebihan lain, di antaranya:
- Tingkat kebisingan lebih rendah sehingga meningkatkan kenyamanan penumpang.
- Tidak menghasilkan asap hasil pembakaran bahan bakar.
- Memanfaatkan sistem pengereman regeneratif untuk meningkatkan efisiensi energi.
- Mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel.
- Cocok digunakan pada jalur kereta yang belum memiliki jaringan listrik.
Keunggulan terakhir menjadi salah satu alasan mengapa teknologi ini mulai banyak dilirik.
Membangun jaringan listrik aliran atas (overhead catenary) membutuhkan investasi sangat besar, terutama pada jalur dengan frekuensi perjalanan yang belum terlalu padat.
Sebaliknya, kereta hidrogen cukup didukung fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengisian hidrogen di depo atau stasiun tertentu sehingga pada kondisi tertentu investasi infrastrukturnya lebih efisien.
Jerman menjadi negara pertama yang mengoperasikan kereta hidrogen secara komersial melalui Coradia iLint yang dikembangkan Alstom.
Kereta tersebut mulai diuji pada 2018 sebelum akhirnya digunakan secara reguler di wilayah Lower Saxony untuk menggantikan rangkaian diesel pada layanan regional.
Keberhasilan proyek tersebut menunjukkan bahwa teknologi hidrogen tidak lagi sebatas konsep atau uji laboratorium.
Kereta hidrogen telah mampu beroperasi dalam layanan harian dengan tingkat keandalan yang tinggi sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon sektor transportasi.
Perkembangan terbaru datang dari India.
Pada Juli 2026, Indian Railways meresmikan pengoperasian kereta hidrogen pertama di lintas Jind–Sonipat, Negara Bagian Haryana.
Kereta tersebut merupakan proyek pengembangan dalam negeri yang dirancang sebagai proyek percontohan untuk jalur non-elektrifikasi.
Rangkaian terdiri atas 10 kereta dengan sistem Hydrogen Fuel Cell berdaya sekitar 1.200 kilowatt.
Dua kereta penggeraknya menghasilkan total daya sekitar 2.400 kilowatt, sementara hidrogen disimpan dalam tabung bertekanan hingga 500 bar sebelum diubah menjadi energi listrik untuk menggerakkan motor traksi.
Dengan teknologi tersebut, kereta mampu menggantikan penggunaan ribuan liter solar pada layanan regional tanpa menghasilkan emisi langsung selain uap air.
Untuk mendukung operasionalnya, Indian Railways juga membangun fasilitas penyimpanan dan pengisian hidrogen di Jind.
Infrastruktur itu dilengkapi sistem deteksi kebocoran hidrogen, sensor panas, sensor api, ventilasi otomatis, hingga mekanisme penghentian darurat sebagai bagian dari standar keselamatan.
Di balik berbagai keunggulannya, kereta hidrogen masih menghadapi sejumlah tantangan.
Produksi green hydrogen masih lebih mahal dibandingkan bahan bakar konvensional.
Penyimpanan hidrogen juga membutuhkan tangki bertekanan tinggi dengan standar keselamatan yang ketat karena sifat gas tersebut mudah terbakar.
Selain itu, pembangunan fasilitas produksi dan pengisian hidrogen masih memerlukan investasi besar sehingga penerapannya belum dapat dilakukan secara luas dalam waktu singkat.
Indonesia masih mengoperasikan banyak jalur kereta non-elektrifikasi yang menggunakan lokomotif diesel, terutama di luar Pulau Jawa.
Kondisi tersebut secara teknis membuat kereta hidrogen berpotensi menjadi salah satu alternatif transportasi rendah emisi pada masa mendatang.
Namun, implementasinya masih membutuhkan kesiapan ekosistem hidrogen, mulai dari produksi green hydrogen, infrastruktur penyimpanan, hingga jaringan pengisian bahan bakar.
Di sisi lain, elektrifikasi jalur kereta dan pemanfaatan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan masih menjadi fokus pengembangan transportasi rel nasional.
Editor : Lugas Rumpakaadi