RADAR BANYUWANGI - Pengguna browser berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) perlu meningkatkan kewaspadaan.
Teknologi yang dirancang untuk mempermudah pencarian informasi, merangkum halaman web, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan ternyata menyimpan celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan pelaku siber.
Celah tersebut dikenal sebagai prompt injection.
Teknik ini memungkinkan penyerang menyisipkan instruksi tersembunyi ke dalam sebuah halaman web sehingga dapat memperdaya asisten AI untuk menjalankan perintah yang seharusnya tidak dilakukan.
Dampaknya tidak main-main, mulai dari pencurian data pribadi, pengungkapan informasi sensitif, hingga mengunduh berkas berbahaya secara otomatis.
Seiring semakin banyaknya browser yang mengintegrasikan AI generatif, isu keamanan ini menjadi perhatian serius para pakar keamanan siber dunia.
Prompt injection bahkan menjadi salah satu topik yang disorot dalam ajang Black Hat USA Security Conference, forum tahunan yang mempertemukan peneliti dan praktisi keamanan siber internasional.
Ancaman tersebut berakar pada arsitektur large language model (LLM) yang menjadi otak berbagai layanan AI generatif.
Hingga kini, model tersebut belum mampu membedakan secara mutlak antara instruksi yang benar-benar diberikan pengguna dengan data atau perintah yang berasal dari konten di internet.
Akibatnya, ketika pengguna membuka situs yang telah disusupi instruksi manipulatif, AI berpotensi menganggap perintah tersebut sebagai instruksi yang sah.
Kondisi inilah yang membuka peluang bagi pelaku siber untuk mengecoh sistem.
Pakar keamanan siber Sounil Yu mengatakan persoalan tersebut bukan sekadar kelemahan perangkat lunak yang dapat diperbaiki melalui pembaruan sistem.
Menurut dia, akar masalahnya berada pada desain dasar model AI itu sendiri.
Dalam paparannya pada Black Hat USA Security Conference di Las Vegas, Nevada, Rabu (6/8/2025), Yu menegaskan belum ada solusi yang benar-benar mampu menghilangkan risiko prompt injection.
"Masalah utama pada prompt injection adalah kita mencoba memisahkan antara instruksi dan data pada sistem yang secara fundamental memproses keduanya sebagai hal yang sama. Sampai kita memiliki arsitektur baru yang dapat memisahkan kedua entitas tersebut secara mutlak, tidak akan ada solusi sempurna," tegas Sounil Yu.
Risiko tersebut tidak hanya menjadi persoalan pengembang AI, tetapi juga pengguna sehari-hari.
Ketika AI telah diberi izin mengakses dokumen, surat elektronik, penyimpanan cloud, atau data pribadi lainnya, perintah yang berhasil memanipulasi AI berpotensi memicu kebocoran informasi penting.
Meski tidak semua browser berbasis AI memiliki tingkat risiko yang sama, pengguna tetap disarankan berhati-hati saat memberikan izin akses kepada asisten AI.
Semakin luas hak akses yang dimiliki AI, semakin besar pula dampak apabila sistem berhasil diperdaya.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung menyetujui setiap tindakan otomatis yang diajukan AI, terutama jika berkaitan dengan data pribadi, dokumen penting, maupun proses pengunduhan berkas.
Menghadapi ancaman tersebut, media keamanan siber Dark Reading menekankan pentingnya penerapan strategi pertahanan berlapis (defense-in-depth).
Pendekatan ini dilakukan dengan membatasi hak akses AI sehingga tidak dapat menjalankan tindakan sensitif secara otomatis.
Selain itu, setiap aktivitas penting, seperti membuka dokumen pribadi, mengakses akun, atau mengunduh file, sebaiknya tetap memerlukan konfirmasi manual dari pengguna.
Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi peluang AI menjalankan instruksi yang telah dimanipulasi oleh pelaku kejahatan siber.
Pakar keamanan juga menyarankan pengguna menerapkan sejumlah langkah pencegahan sederhana, seperti tidak memberikan akses penuh AI terhadap seluruh dokumen penting, rutin memperbarui browser ke versi terbaru, menggunakan autentikasi dua faktor pada akun penting, serta lebih berhati-hati ketika mengunjungi situs yang tidak dikenal.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Dark Reading