China Kembangkan Kulit Elektronik, Robot Humanoid Kini Bisa Rasakan Sentuhan Layaknya Manusia

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 06:40 WIB
China mengembangkan kulit elektronik fleksibel untuk robot humanoid. (Pexels/Pavel Danilyuk)
China mengembangkan kulit elektronik fleksibel untuk robot humanoid. (Pexels/Pavel Danilyuk)

RADAR BANYUWANGI – Robot humanoid selangkah lebih dekat meniru kemampuan manusia. Para peneliti di China berhasil mengembangkan kulit elektronik (electronic skin atau e-skin) yang memungkinkan robot merasakan tekanan, suhu, hingga tekstur benda secara real-time. Terobosan ini diyakini menjadi fondasi penting bagi pengembangan embodied AI, yakni kecerdasan buatan yang belajar melalui interaksi langsung dengan lingkungan fisik.

Teknologi tersebut dikembangkan oleh Institute of Flexible Electronics Technology (THU) di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China. Berbeda dengan robot konvensional yang lebih mengandalkan kamera, sensor visual, atau program gerak yang telah ditentukan, robot yang dilengkapi kulit elektronik kini dapat memahami karakteristik objek melalui sentuhan, layaknya manusia saat memegang sebuah benda.

Kulit elektronik itu dirancang menggunakan material fleksibel, tipis, dan elastis sehingga dapat membungkus bagian tubuh robot yang memiliki permukaan melengkung, seperti ujung jari, telapak tangan, hingga lengan. Desain tersebut memungkinkan sensor tetap bekerja optimal meski robot melakukan berbagai gerakan kompleks.

Selama bertahun-tahun, kemampuan "merasakan" menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan robot humanoid. Meski kecerdasan visual dan kemampuan mengenali objek terus berkembang, robot masih kesulitan menentukan seberapa besar kekuatan yang harus diberikan saat memegang suatu benda.

Akibatnya, robot kerap menggenggam terlalu kuat hingga merusak benda rapuh seperti gelas, buah, atau komponen elektronik. Sebaliknya, genggaman yang terlalu lemah membuat objek mudah terjatuh.

Kehadiran sensor taktil pada kulit elektronik menjadi solusi atas persoalan tersebut. Sensor ini mampu mendeteksi tekanan, suhu, hingga tekstur permukaan benda secara real-time. Informasi tersebut langsung diproses oleh sistem AI sehingga robot dapat menyesuaikan kekuatan genggaman secara presisi sesuai karakteristik objek yang dipegang.

Kemampuan tersebut membuat robot tidak hanya "melihat" benda, tetapi juga "merasakan" kondisi fisiknya sebelum melakukan tindakan.

Peran sensor sentuhan menjadi semakin penting seiring berkembangnya konsep embodied AI, yaitu kecerdasan buatan yang memperoleh kemampuan baru melalui pengalaman berinteraksi dengan dunia nyata, bukan hanya dari data digital.

Saat mempresentasikan fasilitas pelatihan data fisik robot di Jiaxing, Zhejiang, Kamis (30/7/2026), tim peneliti menjelaskan bahwa kemampuan merasakan sentuhan merupakan bagian yang selama ini masih kurang dalam proses pelatihan AI.

"Robot humanoid membutuhkan volume data interaksi dunia nyata yang sangat besar untuk menjalankan tugas-tugas kompleks. Kulit elektronik fleksibel ini menutup celah sensorik yang selama ini hilang dari pelatihan AI, memungkinkan robot merasakan properti fisik objek secara langsung dan menyesuaikan kekuatan genggamannya secara presisi," ujar peneliti dari Institute of Flexible Electronics Technology saat sesi demonstrasi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan robot humanoid tidak lagi hanya bertumpu pada kecerdasan visual atau kemampuan mengenali gambar. Sentuhan kini menjadi sumber data baru yang memungkinkan AI memahami lingkungan secara lebih alami, sebagaimana manusia belajar melalui pengalaman fisik sejak usia dini.

Untuk mempercepat pengembangan teknologi tersebut, fasilitas riset di Jiaxing kini dilaporkan mampu memproduksi sekaligus memasang hingga 1.000 gripper atau tangan penjepit robot berteknologi kulit elektronik setiap bulan.

Produksi dalam jumlah besar itu bertujuan mempercepat pengumpulan data sentuhan atau data taktil. Semakin banyak robot yang digunakan berinteraksi dengan berbagai jenis objek, semakin kaya pula data yang diperoleh untuk melatih sistem AI agar mampu mengambil keputusan secara lebih akurat.

Pendekatan ini dinilai menjadi salah satu langkah penting menuju robot humanoid yang mampu bekerja secara mandiri di lingkungan nyata dengan tingkat adaptasi yang lebih tinggi.

Pemanfaatan kulit elektronik diperkirakan tidak berhenti pada laboratorium riset. Teknologi ini berpotensi membawa perubahan besar di berbagai sektor industri yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Di sektor manufaktur, robot humanoid dapat digunakan untuk merakit komponen elektronik berukuran kecil maupun produk yang mudah rusak tanpa meningkatkan risiko kerusakan akibat kesalahan tekanan.

Di bidang logistik, robot berteknologi e-skin berpotensi meningkatkan efisiensi penyortiran barang pecah belah, produk makanan, hingga paket dengan karakteristik berbeda karena mampu menyesuaikan kekuatan genggaman secara otomatis.

Sementara itu, sektor kesehatan menjadi salah satu bidang yang diperkirakan memperoleh manfaat besar. Robot yang mampu merasakan tekanan dapat membantu memindahkan pasien, mendampingi lansia, hingga menangani peralatan medis dengan risiko cedera fisik yang lebih rendah dibandingkan robot konvensional.

Kemampuan tersebut juga membuka peluang pemanfaatan robot humanoid di hotel, restoran, pusat distribusi, hingga layanan publik yang membutuhkan interaksi aman dengan manusia maupun barang bernilai tinggi.

Pengembangan kulit elektronik menjadi bagian dari persaingan global dalam menghadirkan robot humanoid yang semakin menyerupai manusia. Tidak hanya berlomba meningkatkan kemampuan berpikir melalui kecerdasan buatan, berbagai lembaga riset dan perusahaan teknologi juga berupaya menyempurnakan kemampuan sensorik agar robot dapat berinteraksi secara lebih natural dengan lingkungannya.

Kemampuan melihat, mendengar, dan kini merasakan sentuhan menjadi kombinasi penting dalam menciptakan robot generasi baru yang mampu bekerja berdampingan dengan manusia di berbagai bidang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
china