SpaceX Investasi Rp351 Triliun untuk Spektrum Seluler, Starlink Targetkan Pasar Operator AS

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:27 WIB
SpaceX berencana menjadikan Starlink sebagai operator seluler di Amerika Serikat. (Wikimedia Commons/Daniel Oberhaus)
SpaceX berencana menjadikan Starlink sebagai operator seluler di Amerika Serikat. (Wikimedia Commons/Daniel Oberhaus)

RADAR BANYUWANGI - Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, mulai membuka rencana besar untuk memperluas bisnis Starlink ke sektor layanan seluler di Amerika Serikat. Melalui langkah tersebut, Starlink diproyeksikan tidak hanya menjadi penyedia internet berbasis satelit, tetapi juga berkembang menjadi operator seluler (opsel).

Presiden SpaceX Gwynne Shotwell mengungkapkan, Starlink nantinya akan memanfaatkan jaringan terestrial dengan dukungan spektrum frekuensi yang diperoleh dari perusahaan telekomunikasi EchoStar. Langkah ini menjadi bagian dari strategi SpaceX untuk membangun ekosistem komunikasi yang menggabungkan teknologi satelit dan infrastruktur darat.

Reuters sebelumnya melaporkan, SpaceX menargetkan Starlink mampu menarik banyak pelanggan dari operator seluler besar Amerika Serikat seperti Verizon, AT&T, dan T-Mobile. Namun, perusahaan belum menjelaskan secara rinci mengenai skema biaya maupun model bisnis yang akan diterapkan.

Shotwell menyebut SpaceX memiliki sejumlah gagasan baru dalam membangun layanan seluler. Salah satu konsep yang dipertimbangkan adalah penggunaan stasiun pangkalan berbiaya rendah yang dipadukan dengan antena Starlink sebagai alternatif dari menara seluler konvensional.

Langkah ekspansi tersebut didukung oleh investasi besar. Pada 2025, SpaceX menyepakati pembelian lisensi spektrum nirkabel 65 MHz dari EchoStar dengan nilai mencapai 19,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp351,2 triliun.

Spektrum itu nantinya memungkinkan Starlink memperluas layanan direct-to-cell, yakni koneksi satelit langsung ke perangkat ponsel, agar dapat terintegrasi dengan jaringan berbasis darat.

Meski memiliki modal teknologi dan finansial besar, sejumlah analis industri telekomunikasi menilai tantangan SpaceX tidak ringan. Tanpa kerja sama MVNO (Mobile Virtual Network Operator) dengan operator besar, Starlink dinilai akan menghadapi kesulitan untuk bersaing secara langsung dengan pemain utama seperti AT&T, Verizon, dan T-Mobile.

Kapasitas spektrum yang dimiliki SpaceX juga masih relatif kecil dibandingkan dengan operator seluler besar di AS. Kondisi tersebut membuat kemampuan Starlink dalam menyediakan layanan dengan skala nasional menjadi salah satu faktor yang masih dipertanyakan.

Untuk memperkuat ambisi tersebut, SpaceX berencana meluncurkan satelit Starlink Mobile generasi berikutnya pada 2027. Teknologi baru itu diklaim akan meningkatkan kemampuan layanan hingga 100 kali lebih baik dibandingkan layanan direct-to-cell yang tersedia saat ini.

Rencana SpaceX memasuki bisnis seluler turut mendapat perhatian dari pasar. Setelah pengumuman terkait strategi perusahaan tersebut, saham sejumlah operator besar AS seperti AT&T, T-Mobile, dan Verizon dilaporkan mengalami penurunan sekitar 2 hingga 4 persen.

Saat ini, SpaceX sebenarnya telah memiliki kerja sama dengan T-Mobile melalui layanan T-Satellite. Program tersebut memungkinkan pelanggan T-Mobile memperoleh konektivitas satelit langsung ke ponsel di wilayah tertentu.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
spacex