Spotify Catat Pertumbuhan Positif, Pelanggan Premium Capai 300 Juta di Tengah Maraknya Musik Berbasis AI

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:03 WIB
Spotify mencatat 300 juta pelanggan Premium. (Pexels/Shantanu Kumar)
Spotify mencatat 300 juta pelanggan Premium. (Pexels/Shantanu Kumar)

RADAR BANYUWANGI - Spotify terus memperkuat dominasinya di industri layanan streaming musik global. Dalam laporan keuangan terbaru, perusahaan mengumumkan jumlah pelanggan layanan Premium telah mencapai 300 juta akun hingga kuartal II 2026.

Capaian tersebut meningkat sekitar sembilan persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu sekaligus mempertegas posisi Spotify sebagai platform streaming musik berbayar terbesar di dunia.

Jumlah pelanggan Premium Spotify kini diperkirakan hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan layanan Apple Music yang disebut memiliki sekitar 100 juta pelanggan berbayar.

Tidak hanya pelanggan Premium yang bertambah, total pengguna aktif bulanan Spotify juga menunjukkan tren positif. Hingga kuartal II 2026, platform tersebut mencatat 777 juta pengguna aktif bulanan, termasuk pengguna layanan gratis yang didukung iklan. Angka tersebut meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kinerja operasional yang terus membaik turut berdampak pada pendapatan perusahaan. Pada kuartal kedua tahun ini, Spotify membukukan pendapatan sebesar 4,78 miliar euro atau naik 14 persen secara tahunan.

Pertumbuhan bisnis itu diraih di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan, terutama terkait semakin banyaknya musik hasil produksi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang beredar di platform.

Isu tersebut sempat memunculkan kekhawatiran dari sebagian pengguna mengenai keaslian karya musik yang tersedia. Sebagai respons, Spotify menghadirkan sistem verifikasi bagi artis untuk memperkuat identitas kreator resmi. Selain itu, perusahaan juga mulai menyediakan pelabelan opsional bagi konten musik yang dihasilkan menggunakan teknologi AI.

Meski demikian, hingga kini belum tersedia sistem yang benar-benar efektif untuk mengidentifikasi seluruh musik buatan AI. Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna memilih mencari alternatif layanan yang secara khusus membantu memilah konten musik hasil kecerdasan buatan.

Di sisi lain, Spotify justru semakin agresif mengembangkan berbagai fitur berbasis AI sebagai bagian dari strategi memperluas pengalaman pengguna.

Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan meluncurkan alat yang mampu membuat podcast atau siniar secara personal berdasarkan beragam sumber informasi. Spotify juga menghadirkan fitur desktop eksperimental yang memiliki kemampuan serupa dengan layanan pencatatan dan peringkasan berbasis AI.

Pengembangan teknologi tersebut berlanjut melalui hadirnya fitur tanya jawab dan ringkasan otomatis untuk konten siniar. Spotify juga menggandeng perusahaan teknologi ElevenLabs guna menghadirkan alat pembuatan buku audio berbasis AI.

Tak hanya itu, perusahaan menjalin kerja sama dengan label musik untuk memungkinkan pengguna membuat remix buatan penggemar secara legal. Terbaru, Spotify meluncurkan asisten AI percakapan yang memungkinkan pengguna mengendalikan pencarian dan rekomendasi konten melalui perintah teks.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
spotify