AI Ubah Peta Konseling Kuliah di Tiongkok, Jutaan Peserta Gaokao Kini Andalkan Chatbot Gratis

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:43 WIB
Jutaan peserta Gaokao di Tiongkok kini memanfaatkan chatbot AI gratis untuk memilih jurusan dan universitas. (Pexels/Kindel Media)
Jutaan peserta Gaokao di Tiongkok kini memanfaatkan chatbot AI gratis untuk memilih jurusan dan universitas. (Pexels/Kindel Media)

RADARBANYUWANGI.ID - Musim penerimaan mahasiswa baru di Tiongkok menghadirkan perubahan besar dalam cara pelajar menentukan pilihan jurusan dan perguruan tinggi. Jika sebelumnya keluarga harus mengeluarkan biaya tinggi untuk menyewa konselor pendidikan, kini jutaan peserta ujian masuk perguruan tinggi nasional atau Gaokao mulai mengandalkan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tersedia secara gratis.

Berdasarkan laporan media investigasi teknologi Rest of World pada Juli 2026, sekitar 10 juta pelajar di Tiongkok setiap musim panas menghadapi keputusan penting setelah memperoleh hasil Gaokao. Di tengah tekanan memilih kampus dan jurusan yang tepat, layanan AI menjadi alternatif yang semakin diminati karena mampu memberikan rekomendasi secara cepat tanpa biaya.

Selama bertahun-tahun, minimnya layanan konseling karier di sekolah menengah membuka peluang bagi industri bimbingan swasta untuk berkembang. Nilai pasar jasa konselor pendidikan di negara tersebut diperkirakan mencapai USD 160 juta.

Permintaan terhadap layanan tersebut didorong kekhawatiran orang tua dan siswa dalam menentukan pilihan studi. Kekhawatiran itu semakin besar karena sistem pendidikan tinggi di Tiongkok pada umumnya tidak memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk berpindah jurusan setelah diterima di perguruan tinggi.

Kini, peta layanan tersebut berubah setelah sejumlah perusahaan teknologi meluncurkan platform perencanaan kuliah berbasis AI. Alibaba, ByteDance, Tencent, dan Baidu menghadirkan chatbot yang dapat membantu siswa menyusun strategi pemilihan kampus berdasarkan data akademik maupun preferensi pribadi.

Melalui sistem tersebut, pengguna cukup memasukkan nilai ujian, minat karier, hasil asesmen kepribadian, hingga preferensi seperti biaya pendidikan maupun lokasi kampus. Dalam hitungan singkat, chatbot akan menghasilkan rekomendasi jurusan dan universitas yang dinilai sesuai dengan profil masing-masing pengguna.

Penggunaannya pun berlangsung dalam skala sangat besar. Hingga awal Juli 2026, chatbot Qwen milik Alibaba dilaporkan telah menghasilkan sekitar 23 juta laporan rekomendasi. Sementara itu, chatbot Yuanbao besutan Tencent mengklaim telah menjawab sekitar 200 juta pertanyaan yang berkaitan dengan proses seleksi perguruan tinggi.

Perkembangan tersebut membawa dampak langsung terhadap industri konseling pendidikan. Sejumlah konselor profesional mulai menyesuaikan metode kerja dengan memanfaatkan AI untuk mempercepat pencarian informasi dan analisis data sebelum memberikan rekomendasi kepada klien.

Meski demikian, kehadiran chatbot dinilai mampu mengurangi hambatan biaya yang selama ini menjadi kendala bagi banyak keluarga. Akses terhadap informasi mengenai pemilihan jurusan dan perguruan tinggi kini semakin terbuka sehingga tidak lagi bergantung pada kemampuan membayar jasa konselor berbiaya mahal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ai