LinkedIn Perangi Banjir Konten AI, Pengguna Kini Bisa Laporkan Postingan dan Komentar Berkualitas Rendah

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 19:38 WIB
LinkedIn meluncurkan fitur pelaporan "Seems like AI slop" untuk memberantas unggahan dan komentar AI berkualitas rendah. (Pexels/Tobias Dziuba)
LinkedIn meluncurkan fitur pelaporan "Seems like AI slop" untuk memberantas unggahan dan komentar AI berkualitas rendah. (Pexels/Tobias Dziuba)

RADARBANYUWANGI.ID - Platform jejaring profesional LinkedIn mengambil langkah baru untuk menjaga kualitas percakapan di lini masanya. Perusahaan resmi memperkenalkan fitur pelaporan bertajuk "Seems like AI slop" yang memungkinkan pengguna menandai unggahan maupun komentar yang dinilai merupakan hasil kecerdasan buatan (AI) berkualitas rendah.

Kebijakan tersebut dilaporkan media teknologi TechCrunch pada Kamis (30/7/2026). Melalui fitur baru itu, pengguna dapat melaporkan konten yang dianggap berulang, minim substansi, atau dibuat secara otomatis oleh mesin hanya dengan memilih menu titik tiga di sudut kanan atas setiap unggahan maupun komentar.

Langkah ini diambil setelah berbagai penelitian menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan teks hasil AI generatif di LinkedIn. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi kredibilitas platform yang selama ini dikenal sebagai ruang untuk membangun jejaring profesional dan berbagi wawasan karier.

Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengatakan fitur tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi anggota platform dalam membantu menjaga kualitas konten.

"Kami meningkatkan kemampuan bagi para anggota untuk memberi tahu kami jika mereka percaya sebuah unggahan atau komentar tampak seperti AI slop," ujar Hari Srinivasan dalam unggahan resminya di LinkedIn, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, istilah AI slop memang tidak memiliki batasan yang benar-benar baku dan akan terus berkembang seiring perubahan pola penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

"Slop sulit untuk didefinisikan dan definisinya terus berubah; hal ini memungkinkan kami menyempurnakan model kami dan membuat feed yang lebih baik," lanjutnya.

Hari Srinivasan juga mengungkapkan bahwa LinkedIn telah memblokir miliaran unggahan serta komentar yang dikategorikan sebagai spam AI hanya dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, perusahaan tidak ingin sepenuhnya bergantung pada sistem pendeteksi otomatis.

Ia menilai penilaian dari pengguna manusia tetap menjadi elemen penting dalam menentukan apakah suatu konten benar-benar autentik.

"Kami ingin para anggota mendapatkan umpan balik dari manusia asli tentang apa yang terdengar autentik. Bukan sekadar meminta peninjau pendeteksi AI memeriksanya dan justru salah," katanya.

Selain menghadirkan fitur pelaporan baru, LinkedIn juga mengubah strategi penggunaan teknologi AI di dalam platform. Perusahaan menghentikan fitur asisten penulisan otomatis "enhance your post" yang sebelumnya membantu pengguna menyusun unggahan.

Sebagai gantinya, LinkedIn kini menghadirkan alat proofreading berbasis AI yang difokuskan untuk memeriksa tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat, serta menyempurnakan tulisan tanpa mengubah ide utama yang berasal dari pengguna.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : TechCrunch
LinkedIn