RADARBANYUWANGI.ID - Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia sastra kembali mengemuka. OpenAI mengambil langkah baru dengan memperbarui kebijakan sistem ChatGPT agar tidak lagi memenuhi permintaan pengguna yang secara eksplisit ingin meniru gaya penulisan penulis tertentu.
Kebijakan tersebut menjadi respons atas meningkatnya kekhawatiran dari kalangan penulis dan penerbit yang menilai karakteristik khas dalam karya mereka berpotensi dimanfaatkan tanpa izin melalui teknologi AI.
Berdasarkan laporan portal teknologi Ars Technica, sistem ChatGPT kini akan menolak permintaan yang secara langsung meminta model menghasilkan tulisan dengan gaya khas seorang penulis terkenal. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan terhadap orisinalitas karya sastra dan hak cipta.
Meski demikian, pembatasan tersebut tidak berarti menghilangkan kemampuan AI dalam membantu proses kreatif. ChatGPT masih dapat menghasilkan tulisan dengan nuansa atau atmosfer tertentu tanpa menjiplak ciri khas bahasa penulis tertentu. Pengguna tetap dapat meminta cerita bernuansa horor, fantasi, misteri, maupun fiksi ilmiah dengan karakter emosional yang serupa, namun tanpa menyalin identitas gaya penulisan individu.
Perwakilan tim kebijakan OpenAI menjelaskan bahwa penyesuaian sistem dilakukan untuk menempatkan AI sebagai sarana eksplorasi kreativitas, bukan sebagai alat untuk mengkloning karya kreator lain.
"Fokus kami saat ini adalah menghormati orisinalitas karya pencipta. Sistem kami kini telah disesuaikan agar tidak lagi bertindak sebagai mesin kloning gaya penulis individu, melainkan sebagai alat yang membantu pengguna mengeksplorasi tema, emosi, dan suasana cerita secara mandiri," ujar perwakilan tim kebijakan OpenAI dalam Simposium Hak Cipta dan Kecerdasan Buatan di San Francisco, Amerika Serikat, pada 25 Juli 2026.
Kebijakan baru tersebut dinilai menjadi titik temu antara perlindungan hak cipta dan pemanfaatan teknologi AI secara bertanggung jawab. Penulis memperoleh perlindungan lebih besar terhadap identitas kreatif yang selama ini menjadi ciri khas karya mereka, sementara pengguna tetap memiliki ruang untuk mengembangkan ide melalui pendekatan yang lebih orisinal.
Di sisi lain, perubahan ini juga mendorong pengguna agar lebih kreatif dalam menyusun perintah atau prompt. Alih-alih mengandalkan nama penulis terkenal sebagai acuan, pengguna kini dituntut mendeskripsikan tema, suasana, emosi, hingga karakter cerita yang ingin dihasilkan AI.
Editor : Lugas Rumpakaadi