Drone Otonom Jadi Garda Depan Pemadaman Kebakaran Hutan, Mampu Beroperasi Siang Malam dan Tekan Risiko bagi Petugas

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 11:55 WIB
Teknologi drone otonom berbasis AI mulai merevolusi pemadaman kebakaran hutan di Amerika Serikat. (dslrpros.com)
Teknologi drone otonom berbasis AI mulai merevolusi pemadaman kebakaran hutan di Amerika Serikat. (dslrpros.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Meningkatnya ancaman kebakaran hutan yang kini berlangsung hampir sepanjang tahun di Amerika Serikat mendorong lahirnya berbagai inovasi teknologi untuk memperkuat upaya pemadaman dari udara. Salah satu terobosan yang mulai mendapat perhatian ialah penggunaan pesawat nirawak (drone) otonom yang mampu mendeteksi sekaligus menangani titik api secara lebih cepat, aman, dan efisien.

Pengembangan teknologi tersebut terus dipercepat melalui berbagai ajang inovasi, termasuk kompetisi teknologi global XPRIZE Wildfires serta serangkaian uji coba di California. Berbagai perusahaan teknologi dan lembaga riset kini mengembangkan armada drone pemadam kebakaran yang dirancang dapat beroperasi secara mandiri maupun dalam formasi kelompok (swarm).

Konsep operasi ini memungkinkan sejumlah drone bekerja secara bersamaan untuk menemukan titik api pada tahap awal, kemudian menjatuhkan air atau cairan pemadam (fire retardant) sebelum kobaran api berkembang menjadi kebakaran berskala besar.

Salah satu perangkat yang tengah dikembangkan adalah drone Argo-1 buatan Seneca. Drone tersebut mampu membawa muatan air maupun bahan pemadam hingga ratusan pon sehingga dinilai efektif untuk merespons kebakaran pada fase awal.

Keunggulan utama drone dibandingkan pesawat atau helikopter berawak terletak pada fleksibilitas operasinya. Jika pesawat berawak umumnya tidak dapat diterbangkan pada malam hari atau ketika asap sangat pekat karena alasan keselamatan, drone tetap dapat menjalankan misi dengan dukungan kamera termal dan berbagai sensor canggih tanpa mempertaruhkan keselamatan pilot.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) turut meningkatkan kemampuan drone dalam menjalankan operasi. Sistem otonom memungkinkan perangkat memetakan wilayah terdampak, menentukan jalur pengambilan air, hingga menjatuhkan muatan pemadam secara presisi sesuai kondisi di lapangan.

Seorang pakar operasional menilai perkembangan sistem udara tak berawak telah mengubah pendekatan penanganan kebakaran hutan.

"Cara kita menggunakan sistem udara tak berawak (UAS) saat ini berkembang pesat sebagai pelengkap utama. Drones mengubah proses yang dulunya sangat menguras tenaga dalam mengidentifikasi titik api kecil, terutama ketika area operasional mencakup ratusan ribu hektar, sehingga pemadam dapat langsung masuk dan memadamkannya sebelum meluas."

Menurutnya, kemampuan drone mendeteksi titik api sejak dini memberikan keuntungan penting bagi tim pemadam untuk melakukan intervensi sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.

Ke depan, integrasi drone pemadam kebakaran diperkirakan menjadi bagian penting dalam standar baru manajemen bencana di berbagai negara. Meski tidak sepenuhnya menggantikan peran petugas pemadam di lapangan, armada udara otonom mampu memberikan keunggulan signifikan pada menit-menit awal penanganan kebakaran. Fase tersebut merupakan periode yang sangat menentukan apakah kobaran api dapat segera dikendalikan atau justru berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
drone pemadam kebakaran mitigasi bencana kecerdasan buatan