Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Inggris Diserbu Gelombang Panas, Permintaan AC Melonjak 300 Persen

Titin Wulandari • Rabu, 8 Juli 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi : Panas ekstrem di Inggris memicu permintaan pemasangan AC hingga lebih dari 300 persen.(Foto:Unsplash)
Ilustrasi : Panas ekstrem di Inggris memicu permintaan pemasangan AC hingga lebih dari 300 persen.(Foto:Unsplash)

Radarbanyuwangi.id - Gelombang panas ekstrem yang melanda Inggris dalam beberapa pekan terakhir memicu perubahan besar dalam kebiasaan masyarakat. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah melonjaknya permintaan pemasangan pendingin ruangan (AC) di berbagai wilayah negara tersebut.

Data terbaru dari MyBuilder, platform daring yang mempertemukan masyarakat dengan penyedia jasa konstruksi dan perbaikan rumah, menunjukkan permintaan pemasangan AC meningkat lebih dari 300 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan tersebut terjadi setelah suhu udara di sejumlah wilayah Inggris mencapai 37,7 derajat Celsius. Angka itu tercatat sebagai suhu tertinggi yang pernah terjadi pada bulan Juni sejak pencatatan cuaca modern dilakukan.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Eropa, Ribuan Kematian dan Infrastruktur Mulai Kolaps

Kondisi cuaca panas diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Badan Meteorologi Inggris, Met Office, memperingatkan bahwa gelombang panas ketiga pada tahun ini berpotensi kembali mendorong suhu udara ke kisaran 34 hingga 35 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang.

Menurut Andy Simms, pakar perumahan dari MyBuilder, fenomena cuaca ekstrem yang berulang telah membuka mata banyak warga Inggris mengenai kelemahan desain rumah-rumah di negara tersebut. Sebagian besar hunian, kata dia, dibangun untuk mempertahankan kehangatan saat musim dingin, bukan untuk menghadapi suhu panas yang berkepanjangan.

Akibatnya, banyak rumah kini mengalami peningkatan suhu yang signifikan saat cuaca panas berlangsung. Kondisi tersebut membuat hunian berubah menjadi ruang yang sulit didinginkan dan kurang nyaman untuk ditinggali.

“Banyak masyarakat mulai menyadari bahwa rumah mereka tidak dirancang untuk menghadapi gelombang panas seperti yang terjadi saat ini,” ungkap Simms. Ia menilai peningkatan permintaan terhadap AC dan berbagai perangkat pendingin lainnya menjadi bukti nyata perubahan kebutuhan masyarakat akibat iklim yang semakin ekstrem.

Baca Juga: Smartphone Android 16 dengan Keyboard QWERTY Fisik Siap Bangkitkan Nostalgia

Simms menyebut lonjakan permintaan kali ini sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terjadi. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sektor perumahan Inggris masih memiliki tantangan besar dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin nyata dari tahun ke tahun.

Para ahli juga mengingatkan bahwa keterlambatan dalam memperbarui infrastruktur dan desain bangunan dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang serius. Jika langkah adaptasi terus ditunda, dampak perubahan iklim diperkirakan akan menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya sosial serta ekonomi secara signifikan.

Sejumlah proyeksi bahkan memperkirakan Inggris berpotensi mengalami kerugian ekonomi setara 1 hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahun pada pertengahan abad ini. Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat membebani perekonomian nasional dalam jangka panjang.

Meningkatnya kebutuhan akan sistem pendingin ruangan kini menjadi salah satu indikator bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Inggris. Di tengah suhu yang terus mencetak rekor baru, tuntutan untuk membangun hunian yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem pun semakin mendesak.(*)

Editor : Titin Wulandari
#Permintaan AC #suhu Inggris #krisis iklim Inggris #pemasangan AC