Radarbanyuwangi.id - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memang membawa revolusi besar dalam dunia teknologi. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul dampak lain yang mulai mengkhawatirkan pasar gadget global: harga smartphone berpotensi naik signifikan.
Fenomena ini dipicu oleh melonjaknya permintaan chip memori dan semikonduktor untuk kebutuhan infrastruktur AI, khususnya data center yang menopang berbagai layanan berbasis kecerdasan buatan.
Saat ini, produsen chip global seperti Samsung Electronics melalui divisi Device Solutions, SK Hynix, Micron Technology, Nanya Technology, Winbond Electronics, hingga Powerchip Semiconductor Manufacturing Corporation atau PSMC, disebut lebih memprioritaskan pasokan chip untuk data center dibandingkan perangkat elektronik konsumen.
Baca Juga: Bukan Main! China Rela Hapus Ribuan Jurusan Demi Kejar Dominasi AI Global
Langkah ini dinilai logis mengingat booming AI telah menciptakan kebutuhan besar terhadap server berperforma tinggi yang membutuhkan memori dalam jumlah sangat besar.
Akibatnya, pasokan komponen untuk perangkat konsumen seperti smartphone, laptop, tablet, dan PC menjadi semakin terbatas. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan inilah yang mendorong lonjakan harga komponen di pasar global.
Lembaga riset Gartner memperkirakan harga DRAM sepanjang 2026 dapat naik hingga 125 persen. Sementara itu, harga NAND Flash diprediksi melonjak lebih tinggi, yakni mencapai 234 persen.
Kenaikan tersebut menjadi perhatian serius bagi industri smartphone. Pasalnya, berdasarkan analisis CCS Insight, komponen memori menyumbang lebih dari 30 persen dari total biaya produksi sebagian besar smartphone modern.
Artinya, ketika harga memori dan chip meningkat tajam, biaya produksi perangkat otomatis ikut naik. Produsen smartphone pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan sulit menanggung kenaikan biaya produksi atau meneruskannya kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual.
Segmen yang diprediksi paling terdampak adalah smartphone kelas entry-level hingga menengah. Pasar ini selama ini sangat sensitif terhadap perubahan harga karena margin keuntungan produsen relatif tipis.
Sementara untuk smartphone flagship, dampaknya mungkin tidak terlalu terasa dalam jangka pendek karena produsen masih memiliki ruang margin yang lebih besar.
Selain faktor AI, persaingan global di sektor semikonduktor, ketegangan geopolitik, serta meningkatnya biaya produksi chip generasi terbaru juga menjadi faktor tambahan yang memperburuk situasi.
Meski demikian, AI tetap menjadi motor utama transformasi teknologi dunia. Inovasi berbasis kecerdasan buatan terus berkembang pesat dan diprediksi akan menjadi tulang punggung berbagai industri di masa depan.
Namun, di balik masa depan yang semakin pintar, ada harga yang harus dibayar. Konsumen kemungkinan perlu bersiap menghadapi era baru di mana smartphone bukan hanya semakin canggih, tetapi juga semakin mahal. Jika tren ini terus berlanjut, tahun 2026 bisa menjadi titik balik besar bagi industri gadget global.(*)
Editor : Titin Wulandari