Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Meta Cari Cuan di Luar Iklan, Zuckerberg Andalkan AI dan Langganan Premium untuk Kejar Pendapatan Baru

Ali Sodiqin • Senin, 1 Juni 2026 | 12:00 WIB
Meta Mulai Jual AI Berbayar dan Siapkan Bisnis Cloud, Bisakah Mark Zuckerberg Lepas Ketergantungan dari Iklan? (Fortune)
Meta Mulai Jual AI Berbayar dan Siapkan Bisnis Cloud, Bisakah Mark Zuckerberg Lepas Ketergantungan dari Iklan? (Fortune)

RADARBANYUWANGI.ID – Selama hampir dua dekade, Meta menjelma menjadi raksasa teknologi dengan satu mesin uang utama: iklan digital. Namun kini, ketika kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara manusia mencari informasi dan berinteraksi di internet, CEO Meta Mark Zuckerberg tengah memasang taruhan besar untuk mencari sumber pendapatan baru di luar bisnis iklan yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan.

Pekan ini menjadi sinyal paling jelas tentang arah baru tersebut. Meta resmi menguji layanan berlangganan premium untuk platform kecerdasan buatannya, Meta AI, sekaligus meluncurkan paket berbayar untuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Tak berhenti di situ, Zuckerberg juga membuka peluang perusahaan masuk ke bisnis cloud computing, sektor yang selama ini dikuasai Amazon, Microsoft, dan Google.

Langkah-langkah tersebut menandai upaya paling serius Meta dalam mendiversifikasi bisnisnya setelah serangkaian eksperimen di luar iklan berakhir tanpa hasil yang memuaskan.

Meta Masih Sangat Bergantung pada Iklan

Meski terus berinvestasi di berbagai sektor baru, kenyataannya Meta masih menjadi perusahaan yang hampir sepenuhnya hidup dari pendapatan iklan.

Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, Meta membukukan pendapatan sebesar USD 56,3 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar 98 persen berasal dari bisnis periklanan digital.

Angka itu menunjukkan betapa dominannya iklan dalam struktur bisnis Meta. Bersama Google, perusahaan ini selama bertahun-tahun menguasai pasar iklan digital global dan menikmati margin keuntungan yang sangat tinggi.

Ironisnya, dominasi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri.

Ketika bisnis inti menghasilkan ratusan miliar dolar setiap tahun, hampir semua lini usaha baru terlihat kecil dan sulit memberikan dampak signifikan terhadap total pendapatan perusahaan.

Namun kemunculan AI generatif telah memunculkan pertanyaan baru bagi industri teknologi.

Jika pengguna mulai beralih dari media sosial dan mesin pencari tradisional menuju chatbot AI untuk mendapatkan informasi, bagaimana nasib bisnis iklan yang selama ini bergantung pada perhatian pengguna di layar?

Pertanyaan itulah yang tampaknya mulai mendorong Meta mempercepat transformasi model bisnisnya.

Zuckerberg Bertaruh pada Meta AI

Salah satu strategi terbaru adalah monetisasi layanan AI.

Meta mengumumkan akan menguji dua paket berlangganan untuk Meta AI, aplikasi chatbot yang digadang-gadang menjadi pesaing langsung ChatGPT.

Paket pertama bernama Meta One Plus dengan harga USD 7,99 per bulan. Sedangkan paket premium tertinggi adalah Meta One Premium yang dibanderol USD 19,99 per bulan.

Layanan berbayar tersebut akan mulai diuji di Singapura, Guatemala, dan Bolivia.

Meta menjanjikan kemampuan AI yang lebih kuat bagi pelanggan premium, termasuk kapasitas komputasi lebih besar, kemampuan penalaran yang lebih mendalam untuk tugas kompleks, serta fitur pembuatan gambar dan video berbasis AI yang lebih luas.

Strategi tersebut mengikuti pola yang sudah lebih dulu diterapkan oleh OpenAI, Google, Anthropic, hingga xAI milik Elon Musk.

Di tengah ledakan industri AI, banyak perusahaan teknologi mulai menyadari bahwa model langganan menjadi salah satu cara paling realistis untuk menutupi biaya komputasi yang sangat besar.

Wall Street Mulai Melihat Peluang

Meski masih dalam tahap awal, pasar merespons positif langkah Meta tersebut.

Saham Meta tercatat naik hampir empat persen setelah pengumuman layanan berlangganan AI dan paket premium media sosial.

Analis Wolfe Research bahkan memperkirakan layanan berlangganan Meta dapat menyumbang hingga USD 3 miliar pendapatan pada 2027 dan meningkat menjadi USD 16 miliar pada 2030.

Jika prediksi itu terealisasi, kontribusinya memang masih relatif kecil dibandingkan total pendapatan Meta yang diperkirakan tetap berada di atas USD 200 miliar per tahun.

Namun angka tersebut cukup besar untuk membuka sumber pendapatan baru yang selama ini tidak dimiliki perusahaan.

Menurut Wolfe Research, kekuatan utama Meta berada pada skala pengguna yang luar biasa besar, investasi AI yang agresif, serta posisi dominan di kategori media sosial.

Faktor-faktor tersebut diyakini dapat membantu Meta tumbuh lebih cepat dibandingkan pasar iklan digital sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru.

Sejarah Panjang Kegagalan Meta di Luar Iklan

Meski optimisme mulai muncul, rekam jejak Meta dalam menciptakan bisnis baru sebenarnya tidak terlalu menggembirakan.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Portal, perangkat video call yang diluncurkan pada 2018.

Produk tersebut digadang-gadang menjadi pesaing perangkat komunikasi pintar di rumah. Namun penjualannya jauh dari harapan dan akhirnya dihentikan hanya empat tahun setelah peluncuran.

Kisah serupa terjadi pada proyek metaverse dan virtual reality.

Akuisisi Oculus senilai USD 2 miliar pada 2014 memang menjadi fondasi ambisi besar Meta membangun dunia virtual. Namun hingga kini perusahaan belum berhasil menciptakan produk VR yang benar-benar diterima pasar massal.

Unit Reality Labs yang menangani proyek tersebut bahkan telah membukukan kerugian operasional lebih dari USD 80 miliar sejak akhir 2020.

Meta kemudian mulai mengalihkan fokus ke perangkat yang lebih menjanjikan, yakni kacamata pintar berbasis AI.

Produk Ray-Ban Meta hasil kolaborasi dengan EssilorLuxottica menjadi salah satu pengecualian yang relatif sukses dalam portofolio perangkat keras Meta.

Ambisi Kripto yang Berakhir Gagal

Kegagalan lain datang dari sektor mata uang digital.

Pada 2019, Zuckerberg meluncurkan proyek cryptocurrency bernama Libra yang digadang-gadang menjadi sistem pembayaran global baru.

Namun proyek tersebut menghadapi tekanan regulator di berbagai negara.

Setelah bertahun-tahun menghadapi hambatan hukum dan politik, sisa terakhir proyek Libra resmi dihentikan pada 2022.

Kegagalan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sulitnya Meta membangun bisnis baru di luar ekosistem iklan.

Jualan Layanan Bisnis Juga Tak Mudah

Meta juga pernah mencoba menembus pasar perangkat lunak korporasi melalui layanan Workplace.

Platform komunikasi internal perusahaan itu diluncurkan pada 2016 untuk menantang Microsoft Teams dan Slack.

Namun perjalanan produk tersebut tidak berlangsung lama.

Pada 2024, Meta mengumumkan penghentian layanan Workplace setelah gagal memperoleh pangsa pasar yang signifikan.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan di media sosial tidak otomatis menjamin kesuksesan di sektor enterprise.

Tantangan Besar Jika Masuk Bisnis Cloud

Ambisi Meta tidak berhenti pada AI.

Dalam rapat tahunan pemegang saham pekan ini, Zuckerberg menyatakan bahwa peluang memasuki bisnis cloud computing "jelas berada di atas meja".

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian industri teknologi.

Pasalnya, cloud computing merupakan salah satu bisnis paling menguntungkan saat ini yang didominasi tiga pemain besar, yakni Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud.

Zuckerberg mengatakan langkah itu bisa dilakukan apabila Meta memiliki kapasitas pusat data berlebih setelah investasi besar-besaran di infrastruktur AI.

Perusahaan sendiri telah menaikkan proyeksi belanja modal terkait AI pada 2026 menjadi USD 125 miliar hingga USD 145 miliar.

Nilai tersebut termasuk salah satu investasi infrastruktur AI terbesar yang pernah dilakukan perusahaan teknologi.

Namun para analis menilai memasuki bisnis cloud bukan perkara mudah.

Analis Forrester, Naveen Chhabra, menilai para pemimpin pasar cloud saat ini unggul karena telah membangun ekosistem teknologi lengkap selama bertahun-tahun.

Sementara Meta, menurutnya, belum memiliki fondasi yang setara.

Pengalaman sejumlah perusahaan telekomunikasi global yang pernah mencoba masuk bisnis cloud juga menunjukkan bahwa kepemilikan pusat data besar tidak otomatis menjamin kesuksesan.

AI Bisa Menjadi Jalan Keluar

Meski tantangan masih besar, sejumlah pengamat melihat peluang AI berbeda dibandingkan proyek-proyek Meta sebelumnya.

Analis Emarketer Max Willens menilai layanan berlangganan AI dan fitur premium media sosial berpotensi berhasil jika diposisikan sebagai pelengkap bisnis iklan, bukan penggantinya.

Menurutnya, banyak fitur baru Meta ditujukan kepada kreator konten dan pengguna aktif yang selama ini menjadi penggerak utama aktivitas di Facebook dan Instagram.

Jika layanan premium mampu membantu kreator menghasilkan lebih banyak konten dan membuat pengguna bertahan lebih lama di platform Meta, maka efek akhirnya tetap akan memperkuat bisnis iklan perusahaan.

Dengan kata lain, AI dan layanan berlangganan mungkin bukan sekadar sumber pendapatan baru. Keduanya juga bisa menjadi alat untuk mempertahankan dominasi Meta di era internet generasi berikutnya.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Meta bisa menghasilkan uang dari iklan. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Mark Zuckerberg akhirnya mampu membangun bisnis kedua yang benar-benar sukses setelah hampir 20 tahun bergantung pada satu sumber pendapatan utama.

Jawaban atas pertanyaan tersebut kemungkinan akan mulai terlihat dalam beberapa tahun ke depan, ketika perang AI dan layanan berlangganan memasuki fase yang semakin kompetitif. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Meta AI Premium #Mark Zuckerberg #Meta Subscription #Bisnis Cloud Meta #Pendapatan Meta