Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelajar SMK di Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Bakar Oli Bekas dan Jelantah, Bisa Menyala 4 Jam

Ali Sodiqin • Senin, 11 Mei 2026 | 13:25 WIB
Pelajar SMK Gajah Mada Banyuwangi ciptakan kompor berbahan oli bekas dan jelantah. Hemat energi, ramah lingkungan, dan diminati UMKM. (banyuwangikab.go.id)
Pelajar SMK Gajah Mada Banyuwangi ciptakan kompor berbahan oli bekas dan jelantah. Hemat energi, ramah lingkungan, dan diminati UMKM. (banyuwangikab.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Kreativitas pelajar di Banyuwangi kembali mencuri perhatian. Siswa SMK Gajah Mada Banyuwangi berhasil menciptakan kompor inovatif berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai atau jelantah.

Inovasi tersebut menjadi solusi alternatif energi murah sekaligus ramah lingkungan di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap LPG. Hebatnya, hanya dengan satu liter oli bekas atau minyak jelantah, kompor rakitan para pelajar ini mampu menyala selama tiga hingga empat jam.

Temuan kreatif itu langsung mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menghadiri program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, 7 Mei 2026.

Berawal dari Limbah Bengkel dan Minyak Jelantah

Guru pembimbing jurusan otomotif SMK Gajah Mada Banyuwangi, Rusianto, mengatakan ide pembuatan kompor alternatif tersebut muncul dari keresahan para guru dan siswa melihat banyaknya limbah oli dari bengkel maupun minyak jelantah rumah tangga yang terbuang percuma.

Padahal, menurutnya, limbah cair tersebut masih memiliki potensi besar sebagai bahan bakar alternatif yang lebih hemat dan bermanfaat.

“Selama ini limbah oli dan minyak jelantah sering dibuang begitu saja dan bisa mencemari lingkungan. Kami mencoba mengubah limbah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman banyuwangikab.go.id.

Ia menjelaskan, inovasi tersebut sekaligus menjadi jawaban atas tingginya ketergantungan masyarakat terhadap gas LPG yang harganya kerap berfluktuasi.

Solusi Hemat Energi untuk Rumah Tangga dan UMKM

Kompor berbahan bakar oli bekas dan jelantah itu dinilai sangat potensial digunakan rumah tangga maupun pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner.

Meski menggunakan bahan bakar limbah, kompor tersebut diklaim tidak menimbulkan bau menyengat maupun memengaruhi rasa makanan.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Api yang dihasilkan stabil dan tidak mempengaruhi rasa masakan sama sekali,” kata Rusianto.

Selain hemat biaya, penggunaan minyak jelantah dan oli bekas juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah cair sembarangan.

Dibuat dari Material Sederhana

Kompor inovatif itu dirakit menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di pasaran.

Beberapa komponen utama yang digunakan di antaranya:

Cara penggunaannya pun cukup mudah. Sebelum dipakai memasak, kompor terlebih dahulu dipanaskan manual selama sekitar lima menit.

Setelah panas stabil, keran dibuka untuk mengalirkan bahan bakar, kemudian blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya api.

Dengan sistem tersebut, api dapat menyala stabil dalam waktu lama menggunakan bahan bakar yang sangat murah.

Sudah Terima Pesanan dari Masyarakat

Menariknya, inovasi kompor alternatif karya pelajar Banyuwangi ini sudah mulai diminati masyarakat.

Pihak sekolah mengaku telah menerima sejumlah pesanan dari rumah tangga hingga pelaku UMKM yang tertarik mencoba kompor hemat energi tersebut.

“Kami siap membuat sesuai kebutuhan konsumen. Harganya juga cukup terjangkau,” ujar Rusianto.

Pihak sekolah berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan agar bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

Bupati Ipuk Apresiasi Kreativitas Pelajar

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas siswa dan guru SMK Gajah Mada Banyuwangi.

Menurut Ipuk, inovasi tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Banyuwangi mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan energi dan lingkungan.

“Ini ide kreatif supaya masyarakat tidak hanya bergantung pada LPG. Ternyata ada alternatif bahan bakar yang sangat mudah didapatkan dari limbah rumah tangga,” ujarnya.

Ipuk juga mendorong agar inovasi tersebut terus disempurnakan, baik dari sisi keamanan, efisiensi, maupun desain produk agar siap dipasarkan secara lebih luas.

Diharapkan Jadi Inspirasi Pelajar Lain

Pemkab Banyuwangi berharap karya inovatif para pelajar ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk terus melahirkan kreativitas berbasis solusi.

Menurut Ipuk, dunia pendidikan saat ini tidak hanya dituntut mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga generasi inovatif yang mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan.

“Saya berharap kreativitas seperti ini bisa memotivasi pelajar lain untuk terus menghasilkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Di tengah isu krisis energi dan pencemaran lingkungan, inovasi sederhana dari pelajar SMK di Banyuwangi ini menjadi bukti bahwa solusi besar bisa lahir dari ide kreatif anak muda daerah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kompor oli bekas #kompor jelantah Banyuwangi #SMK Gajah Mada Banyuwangi #inovasi pelajar Banyuwangi #kompor hemat energi