RADARBANYUWANGI.ID – Persaingan layanan internet di Indonesia memasuki babak baru. MyRepublic Indonesia resmi meluncurkan MyRepublic Air, layanan internet tanpa kabel (Fixed Wireless Access/FWA) yang digadang-gadang mampu menembus wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan fiber optik.
Langkah ini bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sinyal kuat pergeseran strategi industri: dari ketergantungan pada kabel menuju konektivitas berbasis frekuensi.
Chief Sales & Marketing MyRepublic Indonesia, Iman Syahrizal, menegaskan bahwa peluncuran MyRepublic Air merupakan upaya memperluas akses digital di luar kota besar.
Baca Juga: PBNU Resmikan 27 SPPG di Lirboyo Kediri, Gus Yahya: Ini Jawaban Krisis Gizi Nasional
“Kami percaya akses internet bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi fondasi untuk membuka peluang,” ujarnya.
Tantang Fiber, Tawarkan Harga Agresif
MyRepublic Air hadir dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga langganan Rp 100.000 per bulan tanpa batas kuota. Skema ini langsung menantang dominasi layanan fiber optik yang selama ini identik dengan biaya pemasangan tinggi dan keterbatasan jangkauan.
Dengan teknologi Fixed Wireless Access, pengguna tidak lagi membutuhkan instalasi kabel fisik. Cukup dengan perangkat penerima sinyal, koneksi internet dapat langsung digunakan.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan klasik: apakah kualitas jaringan nirkabel mampu menandingi stabilitas fiber?
Lolos Uji Pemerintah, Klaim Jaringan Andal
Sebelum diluncurkan, layanan ini telah melewati tahap Uji Layak Operasi (ULO) oleh Kementerian Komunikasi dan Digital di sembilan zona.
Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan, menyebut hasil uji tersebut menjadi bukti kesiapan layanan.
“Kualitas jaringan tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga konsistensi dan keandalan. Lulus ULO menunjukkan standar kami tinggi,” ujarnya.
Ekspansi Masif ke 180 Kota
Pada tahap awal, layanan MyRepublic Air sudah tersedia di sejumlah kota seperti Bali, Bandar Lampung, Pekanbaru, dan Makassar. Ke depan, ekspansi akan diperluas ke wilayah Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.
Perusahaan menargetkan penetrasi hingga 180 kota, dengan sekitar 90 kota telah dipersiapkan infrastrukturnya.
Strategi ini menegaskan fokus MyRepublic untuk menggarap pasar di luar kota besar—segmen yang selama ini kerap terabaikan oleh layanan internet berbasis kabel.
Peluang Besar, Tantangan Nyata
Kehadiran MyRepublic Air membuka peluang besar bagi masyarakat di daerah yang belum terjangkau fiber. Akses internet cepat dengan harga terjangkau berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi digital, pendidikan, hingga UMKM.
Namun, tantangan tetap membayangi. Faktor cuaca, kepadatan jaringan, hingga kualitas sinyal menjadi variabel krusial dalam layanan berbasis wireless.
Baca Juga: Latihan Soal TKA SD Bahasa Indonesia: Fokus Logika dan Pemahaman, Model HOTS
Jika mampu menjaga kualitas secara konsisten, MyRepublic Air berpeluang menjadi game changer di industri telekomunikasi Indonesia. Sebaliknya, jika gagal memenuhi ekspektasi, kepercayaan publik bisa cepat runtuh.
Arah Baru Internet Indonesia
Peluncuran MyRepublic Air menandai pergeseran arah industri: internet tidak lagi eksklusif untuk wilayah perkotaan dengan infrastruktur lengkap.
Kini, pertarungan sesungguhnya ada pada siapa yang mampu menghadirkan koneksi cepat, stabil, dan terjangkau—tanpa batas geografis.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar pilihan baru. Ini adalah peluang untuk akhirnya terhubung tanpa batas. (*)
Editor : Ali Sodiqin