Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Robot Tani Pintar dari WSU, Bisa Petik Apel, Temukan Stroberi, hingga Hemat Air di Tengah Krisis Tenaga Kerja

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 15 April 2026 | 07:15 WIB
Peneliti Washington State University mengembangkan robot pertanian dan sistem irigasi cerdas berbasis AI. (Pexels/Mark Stebnicki)
Peneliti Washington State University mengembangkan robot pertanian dan sistem irigasi cerdas berbasis AI. (Pexels/Mark Stebnicki)

RADARBANYUWANGI.ID - Para peneliti di Washington State University tengah mengembangkan “asisten petani” generasi baru yang tidak mengenal lelah, tidak pernah absen, dan berpotensi menghemat penggunaan air secara signifikan. Inovasi ini hadir di tengah tantangan besar: kekurangan tenaga kerja di sektor pertanian.

Seperti dilaporkan Ecoticias.com, prototipe terbaru mereka mencakup lengan robot lunak berbahan inflatable untuk memetik apel hingga sistem visi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menemukan stroberi tersembunyi di balik daun.

Alih-alih menggunakan pendekatan mekanis yang kaku, para insinyur WSU merancang robot dengan prinsip “lembut”. Lengan robot pemetik apel, misalnya, dibuat ringan, kurang dari 23 kilogram, dan mampu memetik satu apel dalam waktu sekitar 25 detik.

Pendekatan ini bertujuan mengurangi kerusakan pada buah dan pohon. Dalam praktiknya, penanganan yang hati-hati berarti lebih sedikit buah yang memar dan terbuang sebelum sampai ke pasar.

Untuk stroberi, tantangannya berbeda. Buah sering tersembunyi di bawah daun dan dekat tanah. Sistem AI WSU mengatasi hal ini dengan menggabungkan berbagai citra untuk mendeteksi lokasi buah, lalu menggunakan hembusan udara ringan untuk membuka daun sebelum “jari” silikon memetiknya.

Inovasi ini tidak muncul tanpa alasan. Data menunjukkan penurunan signifikan tenaga kerja pertanian di negara bagian Washington. Dalam periode 2017–2022, tenaga kerja pertanian menurun hingga 23%, sementara pekerja migran turun 37%.

Biaya tenaga kerja juga menjadi beban besar. Secara nasional, data dari United States Department of Agriculture menunjukkan bahwa upah dan tenaga kontrak menyumbang sekitar 40% dari total biaya produksi pada sektor buah dan kacang pohon.

Kondisi ini mendorong petani untuk mulai mempertimbangkan kolaborasi antara manusia dan mesin, bukan sekadar menggantikan tenaga kerja sepenuhnya.

Selain robot panen, terobosan penting lainnya datang dari sistem irigasi cerdas. Di kebun percobaan WSU, teknologi ini mampu mengatur waktu dan jumlah penyiraman berdasarkan data cuaca dan kondisi tanaman.

Hasilnya, penggunaan air dapat dikurangi hingga sekitar 50% tanpa menurunkan hasil panen. Dalam pengujian lain, efisiensi penggunaan air meningkat signifikan dibandingkan metode konvensional.

Temuan ini sangat relevan mengingat laporan United States Geological Survey yang menyebutkan bahwa irigasi menyumbang 42% dari total penggunaan air tawar di Amerika Serikat.

WSU juga mengintegrasikan penggunaan drone dan pembelajaran mesin untuk memantau kondisi tanaman secara real-time. Data ini membantu petani mengambil keputusan lebih cepat dan presisi.

Profesor WSU, Lav Khot, menggambarkan masa depan pertanian sebagai sistem terpadu berbasis data.

“Tekanan yang dulu dirasakan dalam bercocok tanam, saya pikir AI dapat membantu mengurangi beban tersebut bagi manusia,” ujarnya.

Meski menjanjikan, teknologi ini belum siap sepenuhnya untuk diterapkan secara luas. Tantangan utama masih pada kecepatan kerja dan skalabilitas di lahan pertanian besar.

Selain itu, muncul pula pertanyaan tentang dampak lingkungan dari produksi dan penggunaan perangkat teknologi tersebut.

Namun, satu hal yang jelas: masa depan pertanian kemungkinan besar bukan sepenuhnya otomatis, melainkan kolaborasi antara manusia dan mesin.

Di tengah tekanan krisis tenaga kerja dan keterbatasan air, inovasi seperti ini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan global.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#krisis tenaga kerja #robot tani pintar #petik apel #stroberi