
RADARBANYUWANGI.ID - Perusahaan teknologi global Oracle dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar pada Selasa (31/3/2026) waktu setempat, seiring langkah agresif perusahaan dalam memperluas investasi di bidang kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah karyawan senior mengungkapkan bahwa pemangkasan ini bersifat signifikan dan tidak didasarkan pada kinerja individu. Michael Shepherd, seorang manajer senior, menyebut berbagai posisi terdampak, mulai dari insinyur hingga manajer program.
“Individu yang terdampak tidak diberhentikan karena apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan,” tulis Shepherd di LinkedIn, dikutip dari BBC.
Perusahaan sendiri menolak memberikan komentar resmi terkait langkah tersebut.
Laporan menyebutkan ribuan karyawan menerima pemberitahuan PHK hanya melalui email pada pagi hari tanpa peringatan sebelumnya. Dalam pesan tersebut, perusahaan menyatakan bahwa posisi mereka dihapus sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi.
Beberapa karyawan juga mengungkapkan bahwa akses ke sistem internal langsung dicabut setelah email diterima, serta mereka hanya memperoleh pesangon sekitar satu bulan.
Mantan karyawan Kendall Levin menyebut posisinya “dihapus sebagai bagian dari pengurangan tenaga kerja massal”, namun ia tetap menyatakan keyakinannya terhadap arah perusahaan.
Meski angka resmi belum diumumkan, berbagai laporan menyebut jumlah karyawan terdampak bisa mencapai antara 20.000 hingga 30.000 orang, atau sekitar 18% dari total tenaga kerja global perusahaan yang mencapai 162.000 orang.
Seorang karyawan bahkan memperkirakan sekitar 10.000 pekerja telah kehilangan pekerjaan, mengacu pada penurunan aktivitas di sistem komunikasi internal perusahaan.
Langkah ini terjadi di tengah tekanan finansial yang dihadapi Oracle, termasuk penurunan harga saham hingga 25% sepanjang tahun ini serta meningkatnya utang untuk membiayai ekspansi AI.
Perusahaan diketahui berencana menginvestasikan setidaknya 50 miliar dolar AS untuk infrastruktur AI, serta telah menghimpun dana dalam jumlah besar melalui utang.
Oracle juga terlibat dalam proyek besar bernama Stargate bersama OpenAI, SoftBank, dan MGX, dengan nilai investasi mencapai 500 miliar dolar AS untuk pembangunan pusat data AI di Amerika Serikat.
“Investasi dalam infrastruktur AI memang membutuhkan modal besar, tetapi model operasional kami dioptimalkan untuk memastikan profitabilitas,” ujar Clayton Magouyrk, salah satu eksekutif Oracle.
Oracle bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan PHK di tengah perkembangan AI. Tokoh industri seperti Mark Zuckerberg dan Jack Dorsey juga sebelumnya menyatakan bahwa teknologi AI memungkinkan perusahaan melakukan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit.
Namun, gelombang PHK di industri teknologi sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan tidak selalu dikaitkan langsung dengan AI.
Perusahaan lain seperti Amazon, Pinterest, dan Epic Games juga dilaporkan melakukan pengurangan tenaga kerja tahun ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi