RADARBANYUWANGI.ID – Denyut industri maritim di ujung timur Pulau Jawa kembali menunjukkan geliat menjanjikan.
PT Rejeki Abadi Lestari resmi membeli kapal survei katamaran produksi galangan lokal Banyuwangi, PT Lundin Industry Invest.
Transaksi ini bukan sekadar pembelian armada operasional, melainkan sinyal kuat meningkatnya kepercayaan pelaku industri terhadap kualitas produksi dalam negeri.
Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu simpul pertumbuhan industri perkapalan nasional.
Seremoni Serah Terima Disaksikan Wakil Bupati
Serah terima kapal berlangsung dalam seremoni khidmat yang dihadiri langsung Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono.
Kehadiran pemerintah daerah mempertegas dukungan terhadap kolaborasi antara sektor swasta dan galangan kapal lokal.
Mujiono menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada industri galangan kapal Banyuwangi.
Menurutnya, langkah PT Rejeki Abadi Lestari memesan kapal produksi lokal menjadi bukti bahwa kualitas industri perkapalan daerah telah mencapai standar kompetitif.
“Ini membuktikan industri kapal dalam negeri memiliki daya saing tinggi. Kami berharap capaian ini semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah maritim sekaligus mendukung visi kemaritiman Presiden Prabowo,” ujarnya.
Kapal Survei Katamaran X38 Generasi Terbaru
Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, menjelaskan bahwa kapal yang diserahkan merupakan kapal survei tipe Katamaran X38 generasi terbaru.
Proses produksi memakan waktu sekitar enam bulan, mulai dari tahap desain, fabrikasi lambung, instalasi mesin, hingga uji kelayakan laut (sea trial). Secara teknis, kapal memiliki panjang keseluruhan (LOA) 12,50 meter dan lebar 4,60 meter.
Dengan draft nominal 0,70 meter dan displacement sekitar 7.000 kilogram, kapal dirancang stabil untuk beroperasi di perairan dangkal maupun terbuka.
Desain katamaran memberikan keunggulan stabilitas lebih baik dibanding lambung tunggal, sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar.
“Kami telah membuat sekitar 20 kapal jenis katamaran sebelumnya. Namun tipe terbaru ini jauh lebih baik, dengan konsumsi bahan bakar dan performa yang lebih optimal,” ungkap John.
Ditenagai Mesin Volvo Penta 423 HP
Dari sisi mesin dan propulsi, Katamaran X38 menggunakan mesin Volvo Penta Aquamatic D6 dengan sistem instalasi poros baling-baling.
Mesin ini mampu menghasilkan tenaga hingga 423 Horse Power dengan putaran maksimum 3.700 rpm.
Performa tersebut memastikan kapal dapat bergerak lincah dan efisien di berbagai kondisi perairan.
Kapasitas bahan bakar mencapai 2.000 liter, memungkinkan operasional jangka panjang tanpa pengisian ulang.
Tersedia pula tangki air bersih 250 liter dan holding tank 200 liter untuk mendukung kebutuhan kru.
Kapal ini dirancang mampu mengangkut hingga 12 orang kru atau penumpang, menjadikannya ideal untuk kegiatan survei, pemetaan laut, hingga pengawasan area tambang dan sedimentasi.
Dukung Operasional Pertambangan dan Pemetaan Laut
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, penggalian pasir, pembersihan, serta sedimentasi laut, PT Rejeki Abadi Lestari membutuhkan armada survei andal untuk memastikan akurasi pemetaan dan keselamatan kerja.
Kehadiran Katamaran X38 diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses eksplorasi dan pengerukan.
Teknologi terbaru yang diusung kapal ini memberikan keunggulan dalam stabilitas, akurasi alat survei, serta daya jelajah.
Multiplier Effect Industri Galangan Kapal
Wakil Bupati Mujiono menegaskan, penguatan sektor maritim tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Industri galangan kapal menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor lain, mulai dari logistik, teknik permesinan, hingga pendidikan vokasi maritim.
Banyuwangi sendiri dalam beberapa tahun terakhir juga telah memproduksi kapal pesanan dari pasar Eropa, menunjukkan daya saing global produk anak bangsa.
Dengan penyerahan kapal survei Katamaran X38 ini, Banyuwangi semakin mantap sebagai pusat pertumbuhan industri maritim nasional.
Kolaborasi erat antara dunia usaha, galangan kapal lokal, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam mendorong kemandirian industri perkapalan Indonesia.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia, dengan mengandalkan inovasi dan kualitas produksi dalam negeri yang terus berkembang. (aif)
Editor : Ali Sodiqin