Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gila atau Jenius? SpaceX Mau Kirim 1 Juta Satelit AI ke Orbit Bumi

Lugas Rumpakaadi • Senin, 2 Februari 2026 | 21:15 WIB
Perseteruan Donald Trump dan Elon Musk kian memanas, publik khawatir akan berdampak di sektor bisnis.
Perseteruan Donald Trump dan Elon Musk kian memanas, publik khawatir akan berdampak di sektor bisnis.

RADARBANYUWANGI.ID - SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mengajukan permohonan ambisius untuk meluncurkan hingga satu juta satelit ke orbit Bumi.

Satelit-satelit tersebut dirancang bukan sekadar untuk komunikasi, melainkan sebagai pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang beroperasi langsung di luar angkasa.

Dalam dokumen permohonan yang diajukan kepada Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (Federal Communications Commission/FCC) pada Jumat lalu, SpaceX menyebut bahwa pusat data orbital merupakan solusi paling efisien dari sisi biaya dan energi untuk memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI global.

Informasi ini dilaporkan BBC pada Minggu (1/2/2026).

Apa Itu Pusat Data AI Orbital?

Pusat data AI pada umumnya berupa gudang besar yang dipenuhi komputer berkinerja tinggi.

Fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik sangat besar serta sistem pendinginan kompleks.

SpaceX menawarkan pendekatan berbeda dengan menempatkan pusat data tersebut langsung di orbit Bumi rendah.

Menurut SpaceX, pusat data berbasis satelit memungkinkan pemanfaatan energi surya secara optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada infrastruktur darat.

Dengan cara ini, permintaan daya komputasi untuk AI yang terus meningkat dapat dipenuhi secara lebih berkelanjutan.

Detail Rencana Peluncuran Satelit

Dalam pengajuan resminya, SpaceX menyebut jaringan baru ini dapat terdiri dari hingga satu juta satelit bertenaga surya.

Satelit-satelit tersebut akan beroperasi di orbit Bumi rendah pada ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 kilometer, serupa dengan satelit layanan internet Starlink yang telah beroperasi saat ini.

Namun, dokumen tersebut tidak menjelaskan secara rinci jadwal atau tahapan peluncuran.

Belum diketahui pula kapan jaringan pusat data orbital ini dapat mulai beroperasi secara penuh.

Dampak terhadap Kepadatan Orbit Bumi

Rencana ini berpotensi meningkatkan jumlah satelit SpaceX di orbit secara drastis.

Saat ini saja, jaringan Starlink telah mencakup hampir 10.000 satelit dan kerap dikritik karena dianggap memperparah kepadatan lalu lintas di ruang angkasa.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Elon Musk menyatakan bahwa ruang angkasa memiliki skala yang sangat luas.

Melalui unggahan di platform X, ia mengatakan bahwa satelit-satelit baru itu akan ditempatkan dengan jarak yang sangat berjauhan sehingga sulit untuk saling terlihat dari satu satelit ke satelit lainnya.

Klaim Manfaat Global

SpaceX mengklaim sistem pusat data AI orbital ini akan menyediakan kapasitas komputasi yang cukup untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.

Kapasitas tersebut dinilai penting untuk mendukung berbagai layanan berbasis AI, mulai dari analisis data skala besar, pengembangan model AI generatif, hingga layanan digital lintas negara.

Selain itu, pendekatan berbasis orbit dinilai dapat mengurangi hambatan geografis dan distribusi energi, sehingga akses terhadap komputasi AI menjadi lebih merata secara global.

Tantangan dan Pertanyaan yang Muncul

Meski terdengar revolusioner, rencana ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan.

Mulai dari aspek keselamatan orbit, potensi sampah antariksa, hingga dampaknya terhadap observasi astronomi.

Hingga kini, FCC dan otoritas terkait masih akan menelaah kelayakan teknis serta regulasi dari proposal tersebut.

Belum ada kepastian apakah seluruh rencana SpaceX akan disetujui, atau apakah jumlah satelit akan disesuaikan dengan pertimbangan lingkungan dan keamanan antariksa.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#spacex