Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Semangat Sumpah Pemuda! Dua Anak Muda Banyuwangi Ciptakan Inovasi Digital Cegah Stunting dan Majukan Daerah

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 1 November 2025 | 11:15 WIB
PEMUDA TANGGUH: Alvian Nur Firdaus dan tim IjenDev.Id (kiri). Shofani Qurnia Azmi menerima penghargaan sebagai pemenang Jagoan Digital 2025.
PEMUDA TANGGUH: Alvian Nur Firdaus dan tim IjenDev.Id (kiri). Shofani Qurnia Azmi menerima penghargaan sebagai pemenang Jagoan Digital 2025.

RADARBANYUWANGI.ID - Dua pemuda Banyuwangi menunjukkan semangat Sumpah Pemuda lewat inovasi digital.

Alvian Nur Firdaus dan Shofani Qurnia Azmi  sama-sama membikin perangkat lunak (software) untuk membantu segala permasalahan yang terjadi di masyarakat serta berkontribusi dalam membangun Banyuwangi menjadi lebih maju.

Semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu meneguhkan tekad generasi muda untuk bersatu membangun bangsa.

Kini, semangat itu kembali hidup dalam wujud berbeda. Bukan lewat perjuangan melawan penjajah, tetapi lewat inovasi, ide, dan kecerdasan digital.

Dua pemuda Banyuwangi, Alfian dan Shofani, menjadi gambaran nyata akan hal itu. Dengan kemampuan yang dimiliki di bidang teknologi, keduanya bikin inovasi digital untuk menjawab persoalan masyarakat.

Alvian, pemuda berusia 22 tahun asal Desa Alian, Rogojampi memulai langkahnya di tengah kesibukan kuliah dan tugas akhir sebagai mahasiswa Teknik Informatika.

Sebagai seorang programer, dia menyadari betapa banyak lembaga atau industri di Banyuwangi yang masih berjalan secara manual. Mulai dari pendaftaran pada event, pengelolaan data, hingga administrasi keuangan.

“Padahal Banyuwangi sudah maju banget di sektor wisata dan pelayanan publik. Tapi masih banyak lembaga kecil seperti yayasan pesantren, lembaga kemasyarakatan dan sebagainya yang belum tersentuh digitalisasi seperti pencatatan yang masih manual ataupun sistem keuangannya juga masih manual,” ujar Alfian.

Dari kegelisahan itu lahirlah IjenDev.Id, software house yang ia bikin pada Maret 2025 bersama enam pemuda lokal.

Visi mereka membantu lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan komunitas lokal hingga industri di Banyuwangi bertransformasi ke arah digital.

Proyek pertama Alvian bersama 6 anggota timnya datang dari Pondok Pesantren Adz- Dzikra, Banyuwangi, yang kini memiliki sistem pendaftaran santri dan pembayaran otomatis berbasis web.

“Awalnya kami bantu cuma sekadar proyek social,  ternyata dampaknya besar sekali. Pesantren itu sekarang lebih tertata dan efisien,” tutur Alfian.

Aplikasi Mbois Guide

Tak berhenti di situ, tim IjenDev.Id juga tengah mengembangkan aplikasi tak hanya berbasis di wilayah Banyuwangi saja, tetapi juga di daerah lain.

Salah satunya adalah platform hasil project mereka membuat aplikasi ”Mbois Guide”, platform digital untuk mencari guide wisata bersertifikat di wilayah Malang.

Sistemnya mirip aplikasi ojek online, tapi untuk pengunjung wisata. Melalui platform tersebut, wisatawan cukup memilih lokasi wisata dan otomatis langsung terhubung dengan pemandu lokal.

”Aplikasi ini mempermudah wisatawan terutama wisatawan asing untuk mencari tour guide. Selain itu kami juga ingin bantu para pemandu yang punya sertifikat supaya bisa punya lapangan kerja baru berbasis digital,” ujarnya.

Bagi Alfian, di era serba digital ini menjadi momen bagi pemuda untuk membuktikan diri  memiliki kekuatan membangun bangsa melalui ide inovasi digital yang dapat mempermudah persoalan hidup manusia.

“Kalau dulu pemuda berjuang dengan bambu runcing, sekarang perjuangan kami lewat kode, ide, dan inovasi. Ini bentuk cinta tanah air versi generasi digital untuk indonesia,” katanya sembari tersenyum.

Berawal Maraknya Stunting

Semangat Sumpah Pemuda juga menginspirasi Shofani Qurnia Azmi, 21. Mahasiswi muda asal Rogojampi yang mengembangkan platform Nutralyse.

Aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini dapat mendeteksi jenis makanan dan kandungan gizinya hanya dari satu foto.

Ide itu berawal dari keprihatinan terhadap maraknya kasus stunting alias tengkes di Indonesia.

”Saya sering lihat ibu-ibu muda bingung mau kasih makan apa ke anaknya yang baru belajar makan. Takut gizinya kurang, tapi juga bingung mengukur kandungan nutrisinya,” ungkap Shofani.

Lewat Nutralyse, pengguna cukup memotret makanan anak. Sistem AI akan menganalisis kandungan gizi dan menampilkan rekomendasi menu seimbang sesuai kebutuhan anak usia 1–5 tahun.

Tujuannya sederhana, tapi dapat membantu keluarga muda memantau gizi anak secara mudah dan cepat, sehingga risiko stunting bisa dicegah sejak dini.

”Teknologi seharusnya bukan hanya mempermudah hidup, tapi juga menyelamatkan masa depan generasi,” tegasnya.

Kerja Sama Tim Nutrisionis

Dia mengaku bahwa ide cemerlang itu berawal dari program Jagoan Digital Banyuwangi 2025, ajang inkubasi inovasi berbasis teknologi.

Dari situ, Shofani terus mengembangkan algoritma aplikasi dan bekerja sama dengan tim nutrisionis lokal agar hasil deteksinya lebih akurat.

Kini Nutralyse sudah memasuki tahap uji coba beta. Dalam versi awalnya, pengguna bisa membuat akun keluarga, memindai makanan, lalu mendapatkan laporan asupan gizi harian.

Ke depan, ia berencana menambahkan fitur smart recomender untuk membantu orang tua menyusun rekomendasi menu makan anak.

”Alhamdulillah, perkembangannya cukup pesat. saat ini saya sedang mengembangkan bagian rekomendasi gizi agar aplikasi mampu memberi saran makanan sesuai kebutuhan anak,” ungkap Shofani

Baik Alfian maupun Shofani sama-sama percaya, bahwa pemuda masa kini harus punya cara baru dalam berkontribusi bagi bangsa.

“Dulu pemuda bersatu lewat semangat kebangsaan. Sekarang kita bersatu lewat teknologi, ide, dan kepedulian sosial,” kata Shofani. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#sumpah pemuda #cegah stunting #inovasi #jagoan digital Banyuwangi