Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

China Ciptakan Robot Bisa Hamil dan Melahirkan, Peran Wanita Digantikan? Biaya Sewa Rp225 Juta

Agung Sedana • Selasa, 19 Agustus 2025 | 22:20 WIB
Teknologi China kembangkan robot rahim. Bisa hamil dan melahirkan kayaknya manusia.
Teknologi China kembangkan robot rahim. Bisa hamil dan melahirkan kayaknya manusia.

RADARBANYUWANGI.ID - China kembali memicu kontroversi di dunia sains dengan mengembangkan teknologi robot humanoid yang dirancang memiliki rahim buatan.

Robot ini diklaim mampu “mengandung” janin selama sekitar 10 bulan hingga akhirnya melahirkan layaknya seorang manusia.

Inovasi tersebut digagas oleh Dr. Zhang Qifeng, pendiri Kaiwa Technology yang berbasis di Guangzhou.

Menurut rencana, prototipe pertama robot kehamilan ini akan dipamerkan pada tahun depan jika uji coba berjalan sesuai jadwal.

Konsep rahim buatan bukanlah hal baru di bidang kedokteran, namun integrasi teknologi itu ke dalam tubuh robot humanoid menjadi terobosan unik.

Robot nantinya akan menerima suplai nutrisi melalui selang di bagian perut, sehingga janin di dalam rahim buatan bisa berkembang seperti di tubuh manusia.

Qifeng menjelaskan, tujuan utama teknologi ini adalah membantu pasangan atau individu yang kesulitan memiliki keturunan.

Robot hamil bisa disewa dengan biaya sekitar 100.000 yuan atau setara Rp225 juta.

Angka ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan biaya ibu pengganti di negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, yang bisa mencapai antara USD100 ribu hingga USD200 ribu atau sekitar Rp1,6 miliar hingga Rp3,2 miliar.

Meski demikian, masih banyak pertanyaan teknis yang belum terjawab, misalnya bagaimana proses pembuahan dilakukan, cara memasukkan embrio ke rahim robot, hingga mekanisme “persalinan” yang akan dipakai.

Selain aspek medis, proyeksi penggunaan teknologi ini juga menimbulkan perdebatan soal etika dan hukum.

Apakah robot benar-benar layak menjadi “ibu pengganti”? Bagaimana regulasi yang akan mengaturnya?

Menanggapi hal tersebut, Qifeng mengaku sudah menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah Guangdong.

Diskusi dengan otoritas setempat dilakukan untuk merumuskan aturan serta kebijakan yang bisa menjadi dasar hukum penggunaan rahim buatan berbasis robot di masa depan.

Jika berhasil, teknologi ini diyakini dapat membuka jalan baru dalam bidang reproduksi buatan sekaligus memantik perdebatan global soal batas antara sains dan nilai kemanusiaan.

Editor : Agung Sedana
#robot hamil #china