RADARBANYUWANGI.ID - WhatsApp, layanan pesan instan milik Meta, kini resmi menyisipkan iklan dalam platformnya.
Iklan ini tidak muncul dalam chat pribadi, melainkan di fitur Status WhatsApp (WA Status), menyerupai tampilan iklan di Instagram Stories.
Saat pengguna menggeser layar untuk melihat status teman atau akun tertentu, iklan akan diselipkan di antaranya.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi monetisasi Meta terhadap WhatsApp, yang selama ini dikenal bebas iklan dan digunakan secara gratis.
Meski begitu, Meta menegaskan bahwa kebijakan ini tetap mengutamakan keamanan data dan privasi pengguna.
Apa Saja yang Digunakan untuk Iklan?
Menurut pernyataan resmi Meta, iklan yang ditampilkan tidak menggunakan informasi pribadi sensitif.
Beberapa jenis data yang digunakan untuk menyesuaikan iklan antara lain:
- Lokasi negara pengguna
- Bahasa yang digunakan dalam aplikasi
- Channel (Saluran) yang diikuti
- Interaksi pengguna dengan iklan lainnya
Meta menyatakan mereka tidak akan menggunakan data pribadi seperti:
- Isi pesan atau obrolan
- Nomor telepon
- Daftar panggilan atau grup
- Konten percakapan pengguna
Dengan kata lain, enkripsi end-to-end tetap aktif dan melindungi isi percakapan. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar keamanan yang telah diterapkan WhatsApp sejak awal.
Tidak Ada Iklan di Chat Pribadi
Salah satu kekhawatiran utama pengguna adalah kemungkinan munculnya iklan dalam ruang chat pribadi.
Namun, Meta menegaskan bahwa chat pribadi, panggilan, dan grup akan tetap bebas dari iklan. Fokus iklan hanya pada Status dan Saluran (Channel) yang bersifat publik atau semi-publik.
Baca Juga: WhatsApp Kini Bisa Jadi Mesin Uang, Begini Cara Kreator dan UMKM Bisa Cuan
Fitur Baru Lain
Selain iklan, WhatsApp juga memperkenalkan dua fitur monetisasi baru.
Berlangganan Saluran
Pengguna dapat berlangganan saluran tertentu untuk mengakses konten eksklusif dari akun bisnis atau organisasi. Biaya berlangganan masih belum diumumkan secara resmi dan dapat berbeda antar saluran.
Promosi Saluran (Channel Promotion)
Akun bisnis bisa mempromosikan salurannya agar lebih mudah ditemukan oleh pengguna lain. Saluran yang dipromosikan akan ditandai dengan label "Sponsored".
Langkah ini memperjelas bahwa WhatsApp kini berkembang dari aplikasi pesan menjadi platform distribusi konten dan promosi.
Perubahan Filosofi
Sejak diakuisisi oleh Facebook (sekarang Meta) pada 2014, kekhawatiran terhadap privasi WhatsApp terus mencuat.
Kini, dengan hadirnya iklan, banyak pengguna merasa bahwa janji “tanpa iklan dan tanpa gimmick” yang dulu dipegang pendiri WhatsApp telah bergeser.
Bahkan, salah satu pendirinya, Brian Acton, pernah menyatakan bahwa dirinya “menjual privasi pengguna demi keuntungan.”
Ungkapan tersebut kini terasa relevan kembali, terutama dengan mulai digunakannya metadata untuk menyesuaikan iklan, meskipun isi pesan tetap terlindungi. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Lugas Rumpakaadi