Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenang Path yang Tutup Tahun 2018, Media Berbagi Foto, Musik, dan Status  

Niklaas Andries • Senin, 13 Mei 2024 | 00:30 WIB

PERSIAPAN PLENO: Anggota PPK Gambiran mempersiapkan rapat pleno rekapitulasi DPHP yang akan dilaksanakan hari ini, Kamis (30/3). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
PERSIAPAN PLENO: Anggota PPK Gambiran mempersiapkan rapat pleno rekapitulasi DPHP yang akan dilaksanakan hari ini, Kamis (30/3). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
Radarbanyuwangi.id - Aplikasi Path pernah menjadi media sosial (medsos) yang digandrungi, khususnya kalangan muda-mudi era 2010 hingga 2018. Path hadir dengan konsep awal menyasar pengguna dari kalangan keluarga hingga teman atau sahabat.

Path didirikan pada tahun 2010 oleh Dave Morin di San Francisco, California, Amerika Serikat. Aplikasi ini mendapatkan sambutan cukup baik di sejumlah negara, walau hanya populer di negara berkembang saja seperti Indonesia. Dalam perwujudannya. aplikasi ini menggunakan beberapa fitur unggulannya seperti mengunggah foto, mendengarkan lagu, menonton film, status, dan sebagainya. Masa kejayaan aplikasi ini terjadi pada kurun 2013 hingga 2016.

Aplikasi ini mampu hubungan pertemanan terasa sangat terhubung karena bisa saling menandai teman ketika membuat sebuah update. Maka tak aneh bila pada bulan November hingga Desember 2011, Path yang meluncurkan beberapa fitur baru mampu merangsang orang untuk menggunakan aplikasi ini. Imbasnya signifikan, ada peningkatan pengguna dari 30.000 menjadi lebih dari 300.000 dalam waktu kurang dari 1 bulan.

Aplikasi ini makin diminati penggunaannya karena Path cukup menjaga privasi pemilik akun. Sebab hanya pengguna yang telah disetujui saja yang dapat mengakses halaman Path seseorang. Status privasi dari aplikasi ini menjadikan Path lebih eksklusif dari berbagai jejaring sosial yang ada.

Selain itu, Path juga memiliki fitur andalan lainnya seperti mengolah profil, update status, share lokasi, mengunggah foto dan video, dan masih banyak lagi. Tapi yang membuat Path begitu digandrungi salah satunya hadirnya fitur tidur. Fitur ini menandakan bahwa si pemilik akun sedang dalam kondisi tidur atau tidak mau diganggu dalam jangka waktu tertentu. Cukup tekan tombol tidur untuk mode off dan mode on dengan menekan tombol bangun.

Pada saat mode tidur sedang aktif, pengguna tidak dapat mengakses halaman Path sebelum tombol bangun ditekan. Apabila pengguna mengaktifkan fitur ini maka akan muncul status tidur di halaman pengguna sendiri dan pengguna lainnya. Demikian pula halnya apabila tombol bangun ditekan kemudian.

Namun masa kejayaan Path mulai tergerus dengan hadirnya aplikasi sejenis seperti Instagram. Aplikasi ini secara permanen tutup beroperasi sejak 1 Oktober 2018. Itu terjadi ketika Instagram mengeluarkan fitur stories untuk mengunggah berbagai kegiatan sehari-hari. Inilah yang kemudian membuat Path seakan tertinggal. Meski beberapa pembaruan fitur sempat dilakukan. Hal itu tak banyak membantu banyak.

Path semakin sepi peminat.  Aplikasi ini juga semakin sulit mencari pemasukan dari aplikasinya karena hanya bisa mengandalkan iklan di beberapa tempat saja. Meski membuka layanan berlangganan berbagai stiker premium dan sebagainya, tetap saja banyak pengguna yang tidak tertarik untuk berlangganan. (nic/bay)

Editor : Niklaas Andries
#path #tidur #intagram #tutup #media sosial #privasi #fitur