Radarbanyuwangi.id - Instagram menjadi salah satu platform yang banyak digunakan masyarakat untuk saling terhubung di seluruh dunia. Namun perlu waspada, semakin banyak pula akun palsu pembuat konten yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Instagram merupakan platform media yang berbasis visual. Di Instagram pengguna bisa membagikan foto hingga video dengan disertasi kolom deskripsi. Pengembangannya sendiri cukup dinamis.
Sejak pertama booming, Instagram kerap berganti wajah. Saat ini Instagram kerap digunakan karena fitur Instagram story yang bisa dipakai mengunggah konten secara sementara.
Tidak hanya itu, saat ini Instagram juga mengembangkan Threads, sebuah aplikasi yang dianggap "pembunuh" X—dulunya Twitter—yang diluncurkan di tengah gonjang-ganjing aplikasi tersebut di bawah kepemimpinan Elon Musk.
Threads bisa disebut kloning Twitter berbasis teks dari Instagram, jejaring sosial yang dibeli Facebook lebih dari satu dekade lalu, dan menjadi aplikasi paling populer di dunia untuk berbagi foto dan video.
Threads juga membatasi penggunanya dengan 500 karakter saja setiap unggah. Pengguna juga dapat menambahkan gambar, video lima menit dan membuat balasan, mirip seperti yang ada di Twitter.
Namun pada tahap ini, Threads tidak punya fitur seperti Search, Hashtags dan melihat feed dari orang yang difollow, artinya apa yang pengguna lihat di timeline dihasilkan oleh algoritma bukan siapa yang Anda ikuti.
Sementara itu, jumlah pengguna Instagram rupanya tidak main-main. Menurut laporan We Are Social, jumlah pengguna Instagram global mencapai 1,32 miliar per Januari 2023. Jumlah tersebut menurun 10,8 persen dibanding Januari 2022.
Sedangkan di negara kita, pengguna Instagram jumlahnya juga termasuk banyak. Bahkan, pada awal tahun yang sama, Indonesia menjadi negara dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak keempat di dunia, yakni 89,15 juta pengguna.
Sayangnya, masifnya pengguna Instagram tersebut tidak diimbangi dengan keterbukaan informasi yang jelas dan valid. Karena berbasis visual, Instagram kerap jadi corong masuknya informasi yang tidak akurat.
Penggunanya yang berjumlah banyak itu, sejalan dengan tidak sedikitnya jumlah akun anonim alias fake account. Banyaknya akun palsu itu, kerap menunjukkan eksistensinya dengan cara mengunggah konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries