Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ciptakan Sepeda Terapung Bermodal Rp 3 Juta, Warga Kalipuro Banyuwangi Sukses Jalani Trial di Perairan Selat Bali

Syaifuddin Mahmud • Minggu, 14 April 2024 | 14:35 WIB

KREATIF: Miko Whelly mengayuh sepeda terapung rakitannya tak jauh dari Pantai Solong, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, pada Januari 2017 silam.
KREATIF: Miko Whelly mengayuh sepeda terapung rakitannya tak jauh dari Pantai Solong, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, pada Januari 2017 silam.
Radarbanyuwangi.id - Ide-ide gila kendaraan modifikasi, pernah dilakukan warga Bumi Blambangan. Salah satunya adalah membuat floating bike (sepeda terapung) yang sudah dijajal di Selat Bali.

Sepeda terapung itu buatan Miko Whelly, 47, warga Jalan Yos Sudarso, Lingkungan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Saat itu, dia sempat bikin heboh Bumi Blambangan lantaran menjajal sepeda karyanya di Selat Bali pada awal tahun 2017 silam.

Ide memproduksi floating bike didapat Whelly ketika dirinya melihat teman-temannya memancing di laut menggunakan bantuan ban dalam. Untuk menggerakkan ban dalam itu, para nelayan harus menggunakan dayung agar ban dalam bisa bergerak. 

Nah, bermaksud agar teman-temannya tidak perlu capek menggerakkan perahu ban dalam, akhirnya muncul ide memuat floating bike.

Dengan menggunakan bahan sederhana, Whelly merakit floating bike. Selain sederhana, biaya produksinya sangat murah. Cukup modal Rp 3 juta, sudah bisa membuat floating bike yang bisa digunakan untuk berwisata maupun berolahraga.

”Bahannya dua lonjor besi bulat atau kotak, dua sampai empat buah pelampung, pedal sepeda, sadel, gear box, dan baling-baling perahu,” jelas lelaki yang bekerja sebagai tukang las itu.

Meski sekilas floating bike mirip dengan sepeda biasa, namun dari segi teknis berbeda dengan sepeda pancal. Jika sepeda pancal biasa kaki mengayuh pedal untuk memutar roda, tapi untuk floating bike kaki mengayuh pedal agar baling-baling perahu yang dipasang di bagian bawah bisa berputar.

”Putaran baling-baling itu yang membuat floating bike ini bisa melaju di air,” ujarnya.

Pada tahap awal, Whelly baru bisa memproduksi satu unit floating bike. Karya putra Klatak itu langsung diuji coba di tengah perairan Selat Bali. Uji coba dengan start di Pantai Solong, Klatak itu disaksikan keluarga dan rekan-rekan Whelly.

Dari pinggir pantai, Whelly mengayuh sepeda air menuju ke tengah laut. Meski ombak laut siang itu cukup bersahabat, Whelly begitu enjoy bermain sepeda air.

Dia mengayuh sepeda air produksinya sampai ke tengah laut tanpa mengenakan pelampung. Jarak dari bibir pantai sekitar satu mil.

Tak sampai satu jam, uji coba sepeda terapung itu diakhiri. Dia pun mengayuh kembali ke pantai Solong. "Tarikan pedalnya lumayan enteng. Sudah cocok untuk diterapkan di atas air,'' ucap Whelly saat itu.    

Floating bike karya Whelly ini  masih dirasa kurang seimbang saat dikendarai seseorang yang bertubuh besar. ”Masih kurang imbang karena pelampung hanya dua, tapi kalau pelampung ada empat, pasti sudah bisa imbang,” jelasnya.

Meski hanya coba-coba, dia sudah siap jika memang dibutuhkan tenaganya untuk memproduksi lebih banyak lagi floating bike.

Floating bike cocok sekali digunakan untuk sarana wisata. Digunakan untuk olahraga juga sangat cocok, karena sensasinya tentu berbeda antara bersepeda di jalan raya dibandingkan di atas air,” pungkasnya. (aif/bay)

Editor : Niklaas Andries
#bike #Bumi Blambangan #floating #selat bali #modifikasi