RadarBanyuwangi.id – Berbagai cara dilakukan untuk memperkecil ukuran material, terutama bahan pangan.
Ada yang menggiling, mengiris, menggerus, mengulek, sampai menumbuk. Bermacam kegiatan tersebut memerlukan alat bantu khusus.
Bahan pangan utama masyarakat kita adalah padi. Bulir padi ini sebelumnya merupakan gabah yang masih lengkap dengan kulitnya.
Karena itu, untuk menghasilkan butiran padi, kita harus menumbuk gabah dan memisahkan kulitnya.
Pada zaman dulu, menumbuk gabah dilakukan dengan alat lesung dan penumbuk kayu yang populer disebut alu.
Lesung dan alu merupakan dua benda berlainan dengan fungsi yang saling melengkapi. Alat tradisional tersebut digunakan sebagai pengolah gabah menjadi beras dengan memisahkan sekam.
Kedua alat tersebut biasanya terbuat dari bahan yang keras, seperti kayu, batu, keramik, atau logam. Khusus untuk padi, alu dan lesung umumnya terbuat dari bahan kayu.
Alu (anak lesung) merupakan alat pendamping yang memiliki bentuk memanjang dan tumpul bergantung pada ukuran besarnya lesung. Digunakan untuk menumbuk suatu bahan agar menjadi lebih halus.
Meski memiliki beragam jenis bahan dasar, namun alat tersebut paling banyak terbuat dari kayu.
Lesung sendiri meiliki bentuk seperti perahu berukuran kecil dengan ukuran panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter dan kedalaman sekitar 40 sentimeter (cm).
Pada masa lampau, mayoritas lesung sebenarnya hanya meiliki wadah yang cekung, yang bagian dalamnya hanya digunakan untuk gabah. Namun, saat ini alat tersebut telah berkembang menjadi berbagai ukuran dan fungsi.
Salah satu pedagang kerajinan di Desa Kemiren, Misji mengaku, saat ini juga banyak lesung dan alu berukuran sedang. Dengan diameter luar 15,5 cm sampai 18 cm dengan panjang alu yang menyesuaikan.
”Kalau sekarang model lesung dan alu banyak dicari dan digunakan oleh beberapa restoran. Kalau fungsinya katanya untuk ulekan jenis sambal yang tidak begitu memerlukan tingkat kehalusan yang merata,” ujar lelaki berumur 52 tahun itu.
Selain itu, Misji mengungkapkan, pada zaman dulu juga terdapat jenis lesung dan alu dari batu. Ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin hanya segenggaman kedua tangan yang difungsikan untuk nginang.
”Zaman dulu, kebiasaan mengunyah bahan paduan antara daun sirih, pinang dan kapur dicampur dengan gambir dan juga tembakau baru dimasukkan ke batunya untuk ditumbuk. Setelah halus baru dikunyah kenggunakan tembakau,” tandasnya. (tar/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin