RADAR BANYUWANGI – Persaingan dua pembalap dalam satu tim Formula 1 kembali memanas. Lando Norris dan Oscar Piastri bersenggolan pada lap terakhir Sprint Grand Prix Singapura, Sabtu (10/10). Keduanya gagal memaksimalkan peluang meraih poin untuk McLaren.
Insiden terjadi di Tikungan 5 ketika Norris mencoba menyalip Piastri. Kedua mobil berputar setelah bersentuhan. Norris akhirnya finis kedelapan, sedangkan Piastri gagal menyelesaikan sprint.
Steward FIA memutuskan tidak menjatuhkan penalti. Namun, McLaren tetap mengecam insiden tersebut.
"Tidak dapat diterima jika dua mobil McLaren bersenggolan di lintasan," tegas kepala tim McLaren, Andrea Stella, dalam pernyataan resmi tim.
Peristiwa itu kembali memunculkan perdebatan tentang team orders F1. Mengapa dua pembalap satu tim boleh saling menyalip? Kapan tim berhak meminta mereka mengalah?
Baca Juga: Apa Itu Pole Position F1? Pengertian, Keuntungan, dan Rekor Pembalap
Apa Itu Team Orders F1?
Team orders merupakan instruksi tim kepada pembalap untuk menjalankan strategi tertentu selama balapan.
Bentuknya beragam. Mulai meminta pembalap bertukar posisi, mempertahankan urutan, hingga tidak menyerang rekan setim demi mengamankan hasil.
Instruksi biasanya disampaikan melalui radio oleh race engineer.
Keputusan tersebut berkaitan dengan dua kepentingan berbeda. Pembalap berjuang mengumpulkan poin untuk kejuaraan dunia individu. Sementara itu, tim membutuhkan kontribusi kedua pembalap untuk bersaing dalam klasemen konstruktor.
Karena itu, keputusan yang menguntungkan tim belum tentu menguntungkan setiap pembalap.
Baca Juga: Prediksi Podium F1 Singapura 2026: Strategi Ban Soft Bisa Jadi Penentu
Apakah Team Orders Diperbolehkan?
Ya. Team orders legal dalam Formula 1 saat ini.
Namun, praktik tersebut pernah dilarang mulai musim 2003 setelah kontroversi Ferrari pada Grand Prix Austria 2002.
Larangan itu berlaku hingga akhir musim 2010. FIA kemudian menghapus ketentuan khusus yang melarang instruksi tim memengaruhi hasil balapan mulai musim 2011.
Artinya, tim dapat mengatur strategi kedua pembalap selama tidak melanggar ketentuan keselamatan dan regulasi olahraga lainnya.
Baca Juga: Verstappen Rebut Pole F1 GP Singapura 2026, Leclerc Cuma Kalah 0,054 Detik
Bolehkah Pembalap Satu Tim Saling Menyalip?
Boleh. Tidak ada larangan umum bagi dua pembalap satu tim untuk saling menyalip.
Keduanya mempunyai hak bertarung di lintasan, sebagaimana saat menghadapi pembalap dari tim berbeda.
Namun, manuver tersebut harus mengikuti standar membalap FIA.
Dalam FIA Formula 1 Sporting Regulations 2026, Pasal B1.8 mengatur perilaku berkendara. Pembalap dilarang mengemudikan mobil secara berbahaya atau tidak menentu.
Norris sendiri mempertahankan keputusannya mencoba menyalip Piastri di Singapura.
"Ada celah besar. Saya mencoba menyalip. Saya berhak melakukannya," ujar Norris, dikutip dari laman resmi Formula 1.
Meski demikian, kebebasan bertarung bukan berarti pembalap boleh mengabaikan kepentingan tim.
Banyak tim menetapkan kesepakatan internal. Pembalap boleh bersaing, tetapi harus menghindari kontak yang berpotensi menghilangkan poin.
Baca Juga: Verstappen Juara Sprint F1 Singapura 2026, Dua Ferrari Naik Podium
Kapan Tim Meminta Pembalap Bertukar Posisi?
Ada sejumlah pertimbangan strategis yang mendasari team orders.
Pertama, perebutan gelar dunia. Tim dapat memprioritaskan pembalap yang mempunyai peluang lebih besar menjadi juara.
Kedua, perbedaan kecepatan. Pembalap dengan ban lebih segar atau strategi lebih menguntungkan bisa diberi jalan untuk mengejar lawan.
Ketiga, mengamankan poin konstruktor. Tim terkadang meminta pembalap mempertahankan posisi untuk mengurangi risiko tabrakan.
Keempat, mengoreksi strategi pit stop. Pertukaran posisi dapat dilakukan apabila urutan pembalap berubah karena keputusan pit stop tim.
Namun, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan ketika seorang pembalap merasa kehilangan kesempatan meraih kemenangan.
Baca Juga: Prediksi Sprint F1 GP Singapura 2026: Verstappen di Pole, Russell Siap Mengancam
Bagaimana Steward Menangani Tabrakan Rekan Setim?
Steward merupakan pengawas yang berwenang menyelidiki insiden dan menjatuhkan hukuman berdasarkan regulasi FIA.
Status sebagai rekan setim tidak membuat pembalap memperoleh perlakuan khusus.
Pasal B1.9.3 regulasi olahraga FIA 2026 menegaskan bahwa penalti tidak dijatuhkan kecuali jelas seorang pembalap sepenuhnya atau secara dominan bertanggung jawab atas insiden.
Prinsip itu diterapkan dalam tabrakan Norris dan Piastri di Singapura.
"Kedua pembalap berkontribusi terhadap insiden tersebut dan tidak ada yang sepenuhnya atau secara dominan bertanggung jawab atas tabrakan," demikian kesimpulan steward dalam laporan yang dipublikasikan Formula 1.
Meski tanpa penalti, tim tetap dapat melakukan evaluasi atau menerapkan kebijakan internal.
Menurut Reuters, 10 Oktober 2026, Stella menegaskan bahwa kepentingan tim lebih besar daripada kepentingan individu.
Baca Juga: Hasil Sprint Qualifying F1 GP Singapura 2026: Verstappen Pole, Russell Kedua
Kontroversi Team Orders dalam Sejarah F1
Ferrari, Austria 2002: Kemenangan yang Diserahkan
Rubens Barrichello hampir memenangi Grand Prix Austria 2002. Namun, Ferrari memintanya menyerahkan posisi kepada Michael Schumacher menjelang finis.
Schumacher akhirnya menang. Penonton mencemooh keputusan tersebut.
Ferrari kemudian mendapat denda terkait pelanggaran prosedur podium. Kontroversi itu turut mendorong diberlakukannya larangan team orders mulai 2003.
Ferrari, Jerman 2010: Pesan Radio Terkenal
Kontroversi kembali menimpa Ferrari ketika Felipe Massa memimpin Grand Prix Jerman 2010.
"Fernando lebih cepat darimu," demikian pesan radio yang diterima Massa.
Tak lama berselang, Fernando Alonso mengambil alih pimpinan dan memenangkan balapan.
Ferrari didenda USD 100 ribu karena melanggar ketentuan yang berlaku saat itu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pemicu evaluasi larangan team orders.
Red Bull, Malaysia 2013: Vettel Mengabaikan Multi 21
Sebastian Vettel justru melakukan kebalikan dari pembalap yang diminta mengalah.
Dalam Grand Prix Malaysia 2013, Red Bull memerintahkan Vettel dan Mark Webber mempertahankan posisi melalui kode Multi 21.
Vettel mengabaikan instruksi tersebut. Dia menyalip Webber dan merebut kemenangan.
Insiden itu memicu ketegangan internal meskipun tidak melanggar larangan khusus team orders FIA yang telah dicabut.
Mercedes, Rusia 2018: Bottas Berkorban
Valtteri Bottas kehilangan kesempatan menang di Grand Prix Rusia 2018 setelah Mercedes memintanya memberikan posisi kepada Lewis Hamilton.
Keputusan tersebut membantu Hamilton dalam perebutan kejuaraan dunia melawan Sebastian Vettel.
Peristiwa itu menegaskan bahwa strategi tim dapat mengorbankan ambisi pribadi seorang pembalap.
McLaren, Hungaria 2024: Norris Mengalah
Drama serupa terjadi pada Grand Prix Hungaria 2024.
McLaren meminta Norris mengembalikan posisi kepada Piastri setelah strategi pit stop membuat Norris memimpin balapan.
Norris akhirnya mengalah pada lap ke-68. Piastri pun mencatat kemenangan Grand Prix pertamanya.
"Saya tidak pantas memenangkan balapan hari ini," kata Norris dalam konferensi pers resmi FIA.
Baca Juga: Hasil FP1 F1 GP Singapura 2026: Russell Tercepat dengan Mercedes Spesifikasi Lama
Team Orders, Antara Ambisi dan Kepentingan Tim
Persaingan antarrekan setim merupakan bagian dari Formula 1. Kedua pembalap mempunyai hak mengejar kemenangan, tetapi mereka juga membawa tanggung jawab kepada tim.
Team orders menjadi sarana menjaga keseimbangan tersebut.
Insiden Singapura 2026 menunjukkan bahwa manuver yang tidak berujung penalti sekalipun tetap dapat merugikan tim.
Tantangan terbesar manajemen F1 bukan sekadar menentukan siapa yang harus mengalah. Melainkan bagaimana menjaga persaingan tetap sehat tanpa mengorbankan peluang meraih kemenangan bersama.
Editor : Lugas Rumpakaadi