RADAR BANYUWANGI — Nama Megawati Hangestri Pertiwi kini identik dengan kerasnya pukulan dan gemuruh sorakan di Liga Voli Korea Selatan. Namun, jauh sebelum menyandang julukan Megatron, pemain asal Jember itu justru lebih mencintai sepak bola. Jalan menuju panggung internasional pun bermula dari satu hal sederhana: dorongan keluarga, terutama sang ayah, yang melihat postur tubuh Megawati sebagai modal besar untuk menjadi pevoli.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Megawati hingga menjelma sebagai salah satu pevoli putri Indonesia yang mampu bersaing di level internasional.
Bukan bakat yang langsung ditemukan sejak kecil. Bukan pula jalan yang sejak awal sudah dirancang untuk menjadi atlet voli profesional.
Saat masih duduk di bangku SMP di Jember, Megawati justru lebih akrab dengan sepak bola. Sang kakak, Bagus Akbar Kurniawan, menjadi salah satu orang yang melihat potensi olahraga dalam diri Megawati dan kemudian mengarahkannya ke cabang olahraga yang dianggap lebih sesuai.
“Dari SMP di Jember dulu, sebenarnya dia suka sepakbola. Terus saya arahkan karena tidak cocok kalau sepakbola,” kata Bagus.
Awalnya Tak Mau Main Voli
Voli sebenarnya bukan olahraga yang asing bagi keluarga Megawati. Sang ibu diketahui pernah menjadi pemain voli. Lingkungan keluarga tersebut membuat voli akhirnya menjadi pilihan yang diperkenalkan kepada Megawati.
Namun, respons Megawati pada awalnya jauh dari antusias.
Ia sempat menolak dan cenderung malas-malasan ketika diminta menekuni voli. Bahkan, kecintaannya terhadap sepak bola membuat pilihan tersebut tidak langsung diterima.
“Karena mama kan pevoli dulu, akhirnya disarankan oleh Ayah untuk voli. Awalnya sih tidak mau, malas-malasan dia, akhirnya bisa sampai sekarang,” tutur Bagus.
Di titik itulah perjalanan Megawati mulai berubah.
Dari sekadar mencoba mengikuti arahan keluarga, ia perlahan menemukan kecocokan dengan voli. Latihan demi latihan kemudian membentuk kemampuan sekaligus mental bertanding yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan profesionalnya.
Sang Ayah Melihat Potensi dari Postur Tubuh
Peran ayah juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Megawati pernah meluruskan anggapan publik mengenai pekerjaan sang ayah. Ia menegaskan bahwa ayahnya bukan anggota TNI seperti yang sempat beredar, melainkan bekerja di Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM.
“Enggak, ayah saya bukan TNI. Ayah kerja di PDAM,” ungkap Megawati dalam sebuah podcast.
Meski berasal dari keluarga sederhana, sang ayah ternyata memiliki peran besar dalam menentukan langkah awal Megawati di dunia voli.
Postur tubuh Megawati yang tinggi menjadi perhatian sang ayah. Dari sanalah muncul dorongan agar putrinya mencoba olahraga yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
“Ayah yang bilang, ‘Kamu kan tinggi, coba main voli.’ Aku waktu itu nolak. Aku bilang, aku lebih suka sepak bola. Tapi akhirnya aku coba juga,” kenang Megawati.
Kalimat sederhana tersebut pada akhirnya menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupnya.
Megawati yang semula lebih menyukai sepak bola justru berkembang menjadi pevoli profesional. Perjalanan panjang dari level awal hingga kompetisi internasional kemudian membawanya ke Korea Selatan.
Ada Kehilangan di Balik Perjalanan ke Korea
Kesuksesan Megawati di Korea Selatan juga menyimpan cerita emosional yang tidak ringan.
Ketika mendapat kesempatan bermain di Korea, kondisi sang ayah disebut masih sehat. Namun, tidak lama setelah Megawati meminta izin untuk berkarier di luar negeri, sang ayah mengalami stroke dan akhirnya meninggal dunia.
Kepergian tersebut menjadi kehilangan besar bagi Megawati. Sebab, sang ayah merupakan salah satu sosok yang sejak awal mendorongnya mencoba voli.
“Pas aku minta izin ke Korea, ayah belum sakit. Tapi gak lama, beliau kena stroke dan akhirnya meninggal. Aku yakin, walau nggak lihat secara langsung, ayah tetap menyaksikan dari dunia lain,” ucapnya.
Kisah itu membuat perjalanan Megawati tidak sekadar berbicara tentang prestasi olahraga.
Ada keluarga yang menjadi fondasi. Ada penolakan ketika pertama kali diarahkan bermain voli. Ada proses panjang untuk menemukan kecintaan terhadap olahraga tersebut. Dan ada kehilangan sosok ayah ketika kariernya mulai bergerak menuju panggung internasional.
Dari Jember hingga Menjadi Megatron
Kini, Megawati Hangestri Pertiwi telah menjadi salah satu nama yang mencuri perhatian dalam kompetisi voli Korea Selatan.
Perjalanannya memperlihatkan bahwa seorang atlet tidak selalu memulai karier dari cabang olahraga yang akhirnya membesarkan namanya. Dalam kasus Megawati, sepak bola adalah olahraga yang lebih dulu ia sukai sebelum keluarga mengarahkannya ke voli.
Pilihan tersebut kemudian berkembang menjadi karier profesional.
Setelah menjalani perjalanan di berbagai kompetisi, Megawati menembus Liga Voli Korea Selatan dan mendapatkan sorotan luas. Permainan agresif serta kemampuan mencetak angka membuatnya mendapat julukan Megatron dari penggemar.
Untuk musim kompetisi saat ini, Megawati bergabung dengan Hyundai Hillstate sebagai pemain kuota Asia.
Kiprahnya di Korea juga disebut berdampak pada nilai kontrak. Sejumlah laporan media menyebut Megawati berpotensi mendapatkan bayaran sekitar US$170.000 hingga US$180.000 per musim, atau sekitar Rp2,8 miliar hingga Rp2,9 miliar. Dalam skema tertentu, nilai keseluruhan yang diterima bahkan disebut dapat mendekati Rp4 miliar per musim.
Angka tersebut menunjukkan betapa jauh perjalanan Megawati dari masa ketika ia masih menjadi anak SMP di Jember yang lebih memilih sepak bola.
Dari anak yang sempat menolak bermain voli, Megawati akhirnya menjadi Megatron, pevoli Indonesia yang mampu membawa namanya bersinar di salah satu kompetisi voli paling kompetitif di Asia.
Di balik sorotan lampu arena dan gemuruh penggemar Korea Selatan, ada cerita tentang keluarga yang percaya lebih dulu, seorang ayah yang melihat potensi dari tubuh putrinya, serta perjalanan panjang yang ditempuh Megawati hingga akhirnya menemukan panggungnya sendiri.
Dari Jember, ia berangkat sebagai anak yang awalnya tak terlalu tertarik pada voli. Di Korea Selatan, ia tampil sebagai Megatron. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Radar Jember