George Russell memenangi GP Azerbaijan 2026 setelah menahan Max Verstappen hingga garis finis. Selisih keduanya hanya 0,196 detik. Namun, kemenangan Russell belum cukup menggoyahkan posisi Kimi Antonelli. Start dari P16, pemimpin klasemen itu bangkit hingga finis kelima dan masih unggul 66 poin.
RADAR BANYUWANGI – George Russell nyaris menjalani akhir pekan sempurna di Azerbaijan.
Tercepat dalam dua sesi latihan awal. Merebut pole position dengan margin telak. Memimpin sejak start. Lalu, menang.
Masalahnya, Baku tidak membiarkan Russell mendapatkannya dengan mudah.
Keunggulan hampir 10 detik yang sempat dibangun pembalap Mercedes itu lenyap gara-gara Safety Car. Bukan sekali. Dua kali.
Pada lap terakhir, Max Verstappen terus mendekat di lintasan lurus Baku. Red Bull miliknya hanya terpaut 0,196 detik ketika melewati garis finis.
Russell tetap menang.
Kemenangan tersebut menjadi yang kedelapan sepanjang kariernya di Formula 1 dan ketiga musim ini. Reuters mencatat Russell sangat puas bisa kembali berdiri di podium tertinggi.
“Rasanya luar biasa bisa kembali ke podium tertinggi,” ujar Russell setelah balapan.
Namun, cerita terbesar dari Baku bukan semata soal siapa yang menang.
Russell meraih hasil maksimal. Sebaliknya, Antonelli menjalani salah satu akhir pekan terburuknya musim ini.
Meski begitu, pemimpin klasemen tersebut masih mampu membawa pulang 10 poin.
Russell Sudah Ngebut sejak Latihan
Kecepatan Russell bukan muncul tiba-tiba saat balapan.
Pembalap Inggris itu menjadi yang tercepat pada FP1 dengan catatan 1 menit 45,387 detik. Dia kembali memimpin FP2 lewat waktu 1 menit 43,347 detik, unggul 0,552 detik atas Antonelli.
Verstappen baru menghentikan dominasi Mercedes pada FP3.
Pembalap Red Bull tersebut membukukan 1 menit 43,922 detik. Russell hanya terpaut 0,099 detik.
Namun, ketika kualifikasi dimulai, Russell kembali melesat.
Dia mencatat 1 menit 42,526 detik untuk merebut pole position. Charles Leclerc di urutan kedua tertinggal 0,837 detik. Oscar Piastri hanya 0,001 detik di belakang Leclerc.
Margin 0,837 detik itu bahkan membuat Russell terkejut.
“Ketika melewati garis finis dan melihat selisihnya, saya terkejut,” kata Russell dalam konferensi pers resmi FIA.
Russell merasa semakin memahami karakter Mercedes W17. Kepercayaan diri itu terlihat sepanjang akhir pekan.
Dia bukan hanya cepat dalam satu putaran. Kecepatannya konsisten sejak latihan pertama.
Di sisi lain garasi Mercedes, situasinya bertolak belakang.
Antonelli: Kesalahan yang Tidak Perlu
Antonelli menghantam dinding bagian dalam Tikungan 1 pada Q1.
Benturan tersebut merusak suspensi depan mobilnya. Kualifikasinya pun berakhir lebih cepat.
Pemimpin klasemen harus memulai balapan dari posisi ke-16.
Antonelli tidak mencari alasan.
“Saya menghantam dinding. Itu kesalahan yang benar-benar tidak perlu pada fase awal,” kata Antonelli setelah kualifikasi.
Dia bahkan mengakui insiden tersebut menjadi pengingat keras setelah rangkaian hasil bagus sebelumnya.
“Ini cara yang cukup ampuh untuk membuat saya kembali membumi,” ujarnya.
Kesalahan itu terasa semakin mahal karena Antonelli datang ke Baku dengan keunggulan 81 poin atas Russell.
Sebelum akhir pekan dimulai, pembalap Italia tersebut sebenarnya sudah mengingatkan bahwa persaingan gelar belum selesai.
“Belum selesai sampai semuanya benar-benar berakhir,” kata Antonelli menjelang GP Azerbaijan.
Baku kemudian menguji pernyataan itu.
Russell Sempat Unggul Hampir 10 Detik
Begitu lampu start padam, Russell mempertahankan posisi pertama.
Piastri berada di belakangnya. Sementara itu, Verstappen mulai merangsek dari posisi kedelapan.
Russell mengawali balapan dengan ban medium. Dengan udara bersih di depan, dia langsung membuka jarak.
Menjelang pertengahan lomba, keunggulannya atas kelompok pengejar sudah mendekati 10 detik.
Balapan mulai terlihat berada dalam kendali Mercedes.
Lalu, Alex Albon mengalami kecelakaan.
Pembalap Williams itu kehilangan kendali saat mengerem dan menghantam pembatas di Tikungan 6.
Safety Car keluar.
Keunggulan Russell langsung habis.
Saat balapan dimulai kembali, Verstappen berhasil melewati Piastri dan naik ke posisi kedua.
Situasinya berubah.
Russell tak lagi sekadar mengatur kecepatan. Dia kini harus mengawasi Red Bull di kaca spion.
Safety Car Kedua Bikin Tegang
Belum lama balapan kembali berjalan, kekacauan terjadi lagi.
Franco Colapinto mengunci roda menuju Tikungan 1 dan terlibat kontak dengan rekan setimnya di Alpine, Pierre Gasly. Rangkaian insiden kemudian menyeret Lando Norris.
Ketiganya gagal menyelesaikan balapan.
Safety Car kembali keluar.
Bagi Russell, dampaknya langsung terasa.
Jarak yang sempat dibangun kembali lenyap untuk kali kedua.
Balapan yang sebelumnya berada dalam kontrol Mercedes berubah menjadi sprint menuju garis finis.
Lawan Russell pun bukan sembarang pembalap.
Verstappen sudah tepat di belakangnya.
Verstappen dari P8 Nyaris Menang
Posisi kedua Verstappen menjadi salah satu cerita besar di Baku.
Dia memulai lomba dari P8 setelah menjalani kualifikasi yang tidak ideal.
Namun, kecepatan Red Bull saat balapan jauh lebih baik.
Verstappen bergerak maju satu per satu. Dia melewati sejumlah rival hingga akhirnya naik ke posisi kedua setelah restart.
Sejak saat itu, targetnya tinggal Russell.
Pada fase akhir balapan, jarak keduanya terus menyusut.
Tekanan mencapai puncak di lap terakhir.
Russell juga sempat kehilangan momentum setelah mengangkat pedal gas saat bendera kuning muncul. Tenaga turbo tidak langsung kembali ketika dia kembali menginjak gas.
Verstappen mendapat peluang.
Red Bull semakin dekat.
Di lintasan lurus terakhir, Verstappen memanfaatkan slipstream dan terus memangkas jarak.
Namun, garis finis datang lebih dulu.
Russell menyelesaikan 51 lap dalam 1 jam 38 menit 2,143 detik.
Verstappen hanya tertinggal 0,196 detik.
Isack Hadjar berada di posisi ketiga dengan selisih 10,704 detik.
Dari P8 hingga nyaris menang, Verstappen memberi satu pesan penting bahwa kecepatan balapan Red Bull sudah cukup untuk menekan Mercedes sampai meter terakhir.
Dari P17, Antonelli Selamatkan P5
Di belakang duel Russell-Verstappen, Antonelli menjalani balapan yang sangat berbeda.
Dia start dari P16.
Lalu, kehilangan satu posisi pada lap pertama.
Artinya, pemimpin klasemen sempat berada di posisi ke-17.
Dari sana, Antonelli mulai membangun kembali balapannya.
Dia melewati sejumlah mobil di kelompok belakang dan tengah. Dua periode Safety Car ikut membuka peluang. Tetapi, Antonelli tetap harus menuntaskan pekerjaannya sendiri saat balapan kembali dimulai.
Kesalahan rival juga membantu.
Piastri, yang semula berada dalam perebutan podium, mengunci roda di Tikungan 1 setelah restart dan terlempar ke belakang.
Antonelli terus naik.
Delapan lap menjelang finis, dia melewati Lewis Hamilton dan merebut posisi kelima.
P5 mungkin terlihat biasa untuk pembalap Mercedes.
Dalam perebutan gelar, hasil itu sangat berharga.
Russell mendapat 25 poin. Antonelli membawa pulang 10 poin.
Keunggulan Antonelli yang semula 81 poin menyusut menjadi 66.
Russell memang memangkas 15 poin sekaligus.
Namun, melihat Antonelli sempat berada di P17, kerugiannya sebenarnya bisa jauh lebih besar.
Russell Belum Mau Menyerah
Beberapa hari sebelum balapan, Russell sudah menegaskan sikapnya dalam perebutan gelar.
“Saya akan terus bertarung di setiap balapan sampai secara matematis peluang itu benar-benar tertutup,” kata Russell.
Baku memberi hasil yang dia butuhkan.
Pole position.
Kemenangan.
Antonelli hanya P5.
Selisih berkurang 15 poin.
Namun, jarak 66 poin masih besar.
Artinya, kemenangan di Azerbaijan belum otomatis mengubah peta persaingan.
Russell masih membutuhkan beberapa akhir pekan seperti Baku. Pada saat yang sama, Antonelli harus kembali kehilangan poin dalam jumlah besar.
Hadjar Comeback, Langsung Podium
Isack Hadjar juga layak mendapat sorotan.
Pembalap Prancis tersebut kembali setelah absen tiga Grand Prix karena cedera pergelangan tangan.
Menjelang akhir pekan Baku, kondisi tangannya belum sepenuhnya bebas dari rasa sakit. Namun, pemeriksaan medis dan latihan di simulator memastikan dia cukup fit untuk membalap.
Ketika FIA menanyakan kondisi tangannya, Hadjar menjawab singkat.
“Cukup baik untuk mengemudi. Itu saja yang saya perlukan,” kata Hadjar.
Comeback itu berakhir manis.
Hadjar start dari P4 dan finis ketiga.
Dia bahkan mengungguli Verstappen saat kualifikasi.
Hasil tersebut membuat Red Bull pulang dengan dua mobil di podium.
Verstappen P2. Hadjar P3.
Bagi tim asal Milton Keynes itu, Baku menjadi salah satu akhir pekan terbaik musim ini.
McLaren Pulang Tanpa Poin
Situasi berbanding terbalik dialami McLaren.
Piastri sebenarnya memulai lomba dari P3 dan sempat berada di posisi kedua.
Namun, kesalahan setelah restart menghancurkan peluang podiumnya.
Pembalap Australia tersebut mengunci roda di Tikungan 1 dan terlempar ke belakang. Dia akhirnya hanya finis P14.
Norris bahkan gagal mencapai garis finis setelah terlibat rangkaian insiden bersama Gasly dan Colapinto.
McLaren pun meninggalkan balapan utama di Azerbaijan tanpa poin.
Padahal, sebelum kekacauan terjadi, Piastri masih menjadi salah satu pembalap yang berpotensi mengganggu Russell.
Dalam hitungan beberapa lap, semuanya berubah.
Ferrari Dapat Poin, tapi Belum Mengancam
Ferrari mendapatkan hasil yang lebih stabil.
Leclerc finis keempat. Hamilton keenam.
Namun, sepanjang akhir pekan Ferrari tidak benar-benar memiliki kecepatan untuk melawan Russell.
Tandanya sudah terlihat sejak kualifikasi.
Leclerc memang berada di baris depan. Tetapi, jaraknya dari Russell mencapai 0,837 detik.
Dalam konferensi pers FIA, Leclerc mengakui Ferrari sudah membaik dibandingkan sesi latihan. Namun, selisih terhadap Russell jauh lebih besar daripada perkiraan mereka.
P4 dan P6 tetap menghasilkan poin penting.
Tetapi, jika Baku dijadikan tolok ukur, Mercedes masih berada di depan.
Russell Menang, Antonelli Bertahan
GP Azerbaijan 2026 menghasilkan dua cerita yang sama-sama penting.
Russell menjadi pemenang balapan.
Antonelli berhasil membatasi kerusakan dalam perebutan gelar.
Russell menjalani akhir pekan nyaris sempurna. Dia cepat sejak latihan, merebut pole position dengan margin besar, memimpin lomba, kehilangan keunggulan dua kali akibat Safety Car, lalu tetap menahan Verstappen sampai garis finis.
Antonelli justru melakukan kesalahan besar saat kualifikasi.
Dia start P16.
Sempat melorot ke P17.
Namun, tetap pulang dengan posisi kelima dan 10 poin.
Itulah sebabnya Baku belum bisa disebut titik balik mutlak perebutan gelar.
Namun, tekanannya berubah.
Keunggulan Antonelli kini tinggal 66 poin, bukan lagi 81.
Masih ada delapan Grand Prix setelah Azerbaijan.
Dan kini muncul faktor ketiga.
Verstappen.
Start dari P8, dia mampu mencapai P2 dan hanya kalah 0,196 detik.
Jika Red Bull mempertahankan kecepatan seperti di Baku, Verstappen dan Hadjar bisa ikut mencuri poin dari dua pembalap Mercedes pada seri-seri berikutnya.
Bagi Russell, itu bisa menjadi peluang.
Bagi Antonelli, itu bisa menjadi masalah.
Yang pasti, setelah 51 lap di Baku, persaingan belum selesai.
Russell belum menyerah.
Antonelli masih punya bantalan.
Dan Red Bull mulai ikut mengusik.
Hasil 10 Besar GP Azerbaijan 2026
- George Russell – Mercedes
- Max Verstappen – Red Bull
- Isack Hadjar – Red Bull
- Charles Leclerc – Ferrari
- Kimi Antonelli – Mercedes
- Lewis Hamilton – Ferrari
- Arvid Lindblad – Racing Bulls
- Esteban Ocon – Haas
- Oliver Bearman – Haas
- Carlos Sainz – Williams
Russell menuntaskan balapan dengan waktu 1 jam 38 menit 2,143 detik. Verstappen tertinggal 0,196 detik. Hadjar melengkapi podium pada balapan pertamanya setelah absen tiga seri.
Editor : Lugas Rumpakaadi